Catatan: Mohammad Nasir, wartawan dan kolumnis 

PELUNCURAN Novel Catatan Melankolis tentang Sosialita & Buruh Anak karya Bre Redana, wartawan Harian Kompas tahun 1982- 2017, dikemas dalam bentuk workshop. 

Semua peserta undangan ditantang untuk berekpresi dalam tulisan dadakan masing-masing. Bahan mulai dari hasil pengamatan sendiri, wawancara, atau sumber sekunder. Tidak ada yang terlihat ngantuk. Menarik. 

Peserta diajak merasakan proses menulis jurnalistik dan sastra, selain merasakan kudapan yang tersedia dan merasakan suasana jadul Kedai Tjikini di Bintaro, Sektor 9, Tangerang Selatan, tempat acara berlangsung. 

Bangunan kedai terkesan kuno. Meja- kursinya jadul,  ubin lantai berukuran kira-kira 20 senti meter persegi berwarna krem. 

Dinding dihiasi poster-poster film lama, seperti Ada Apa dengan Cinta yang disutradarai Rudi Soedjarwo, produser Riri Riza dan Mira Lesmana yang dirilis 8 Februari 2002. 

Kondisi bangunan dan seisinya dimanfaatkan untuk melatih kreativitas dan ketajaman indra peserta ketika diminta melakukan pengamatan (observasi) dalam rangkaian proses menulis. 

Tidak hanya keadaan bangunan yang diamati, tetapi nama Kedai Tjikini yang dengan sengaja mempertahankan ejaan lama, juga menjadi bagian dari bahasan ketajaman indra peserta. 

Kedai Tjikini tetap ditulis dengan “Tjikini” bukan “Cikini” untuk menunjukkan kedai itu bagian dari Kedai Tjikini lama yang ada di Jakarta. 

Dihadiri sekitar 20 orang— sebagian besar dosen ilmu komunikasi perguruan tinggi papan atas di Jakarta dan sebagian wartawan senior.  

Mereka diajak terlibat aktif dalam kegiatan peluncuran buku yang memang dirancang untuk workshop jurnalistik dan sastra.

Model peluncuran novel pada Jumat petang, 2 Oktober 2026 itu dapat dikatakan sebagai gaya Bre Redana. 

Dia sudah beberapa kali melakukan peluncuran bukunya dengan kegiatan semacam workshop interaktif. Buku sebelumnya, antara lain Urban Sensation, Politik Tubuh, dan The Sword and The Pen, juga diluncurkan dengan gaya kreatif. 

+ + +

Novel

DALAM peluncuran novel  Catatan Melankolis tentang Sosialita & Buruh Anak petang itu peserta diajak untuk ikut merasakan, berpikir, mengamati, menulis dan wawancara, seperti dalam proses menulis jurnalistik dan sastra. 

Peserta justru tidak dijelaskan sebagian atau rangkuman novel yang mengisahkan petualangan wartawan yang bertugas sambil sedikit bersenang-senang menyalurkan kesukaan pribadinya. Bertemu dengan perempuan- perempuan cantik. 

“Peluncuran buku fiksi seperti ini kalau diisi dengan model pidato-pidato bisa ngelantur kemana-mana. Peserta tidak mendapat apa-apa,” kata Bre yang ditemani dua narasumber. 

Kedua narasumber itu adalah Ignatius Haryanto (doktor ilmu komunikasi, jurnalis, dosen), dan Kurnia Setiawan (doktor ilmu komunikasi, pengajar desain, fasilitator dalam berbagai pelatihan). 

Sebelum masuk ke dalam materi workshop, Kurnia Setiawan memberi poin-poin penting yang benar-benar harus dimunculkan dalam proses berkarya. 

Poin-poin itu antara lain rasa, simpati, simfoni, bermain, dan kemasan. “Ini poin-poin yang tidak dimiliki artificial intelligence, AI,” kata Kurnia yang selanjutnyq mengajak peserta belajar menjelajahi indra kreatif. 

Peserta diminta menggunakan kecerdasan indra untuk observasi ruangan tempat workshop berlangsung dengan rinci, deskriptif. 

Observasi adalah bagian dari komponen menulis jurnalistik, terutama feature dan sastra. 

Ignatius Haryanto yang juga dosen Univesritas  Multimedia Nusantara memberi penjelasan bahwa komponen tulisan feature ada tiga, yakni wawancara, observasi (pengamatan), dan data sekunder (dokumen, statistik, dan sumber lainnya, termasuk google atau AI yang sudah diverifikasi kebenarannya). 

Para peserta juga diminta mewawancarai sesama peserta secara bergantian. Diharapkan hasil wawancara menghasilkan informasi tentang kehidupan peserta yang diwawancarai. Termasuk juga data sosok yang diwawancarai, seperti umur, tinggi badan, dan lain-lain. 

Dr Ignatius Haryanto seperti dosen yang sedang mengajar di kelas. Menampilkan potongan-potongan karya jurnalistik feature di layar melalui power point. 

Kemudian para peserta diajak menganalisis isi potongan tulisan feature di layar. Dari mana potongan kata yang tertulis dalam feature itu didapat oleh penulisnya?

Jawabannya merujuk pada komponen feature, yakni hasil wawancara atau keterangan sumber, observasi, dan data sekunder. 

Ketika ditanya, peserta tidak segera menjawab.  Mereka saling melihat kiri-kanan, seperti sedang  memberi kesempatan peserta lain untuk menjawabnya. Dan, ternyata tidak ada kesulitan bagi para peserta menganalisis dari mana isi feature itu berasal. 

Giliran penulis novel Bre Redana, wartawan Harian Kompas tahun 1982- 2017 dan penulis sejumlah novel tampil ke depan. Ia memberi jawaban atas pertanyaan yang tersimpan dalam benak peserta. 

Apa beda karya jurnalistik dan sastra? Jawabannya pasti fakta dan fiksi. Jurnalisme mengusung fakta, sedang sastra fiksi. 

Tetapi Bre Redana mengemukakan dari sisi lain, di zaman serba internet sekarang ini antara fakta dan fiksi sulit dibedakan. 

Kita lihat gambar suatu peristiwa, sulit dibedakan mana yang betulan, dan mana reakaan AI? Bagian mana yang fakta dan bagian mana yang rekaan. Sulit. 

Kata Bre, sepanjang kita menjiwai bahwa foto atau suatu tulisan peristiwa itu benar, ya benar.  Bre menggaris bawahi bahwa jurnalistik dan sastra memiliki akar yang sama, yaitu kata-kata. Bre melihat feature dan karya sastra sama dalam penggunaan kata-kata. 

Dia kagum pada penulis feature (jurnalistik) Gabriel Garcia Marquez (GGM) yang menurut dia, sangat bagus dan indah, dan tidak ada bedanya dengan karya sastra. 

“Penulis itu pula yang memberinya wangsit menulis catatan ini. Perhatian: pada banyak bagian dari catatan ini pembaca akan menemui jejak GGM,” tulis Bre dalam novel yang diterbitkan Yogyakarta ini (Halaman 5). 

Penyanyi Kris Dayanti ikut memberi komentar singkat atas terbitnya novel Bre Redana, “Oom Bre Redana adalah sosok yang mampu menjembatani dunia jurnalistik dan sastra dengan sangat indah. Novel ini tidak hanya menghadirkan cerita tetapi juga potret kehidupan sosial yang ditulis dengan kecerdasan, kepekaan, dan pengalaman panjang seorang reporter.”. (*)

Leave a comment