Oleh: Satrio Arismunandar*

Satrio Arismunandar

California bukan Amerika dalam bentuk miniatur. Tetapi negara bagian ini memang merupakan salah satu gambaran paling jelas mengenai Amerika yang semakin plural. Di sana hidup komunitas dengan latar belakang Asia, Latin, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan berbagai kelompok imigran lainnya.

ADA sesuatu yang menarik terjadi di California pada akhir September 2026. Bukan tentang Hollywood atau teknologi kecerdasan buatan yang sedang mengubah dunia. Melainkan, California membuat sejarah dalam perkara yang jauh lebih simbolis: Idulfitri dan Iduladha resmi masuk ke dalam kalender hari libur negara bagian.

Gubernur California Gavin Newsom menandatangani Assembly Bill 2017 atau AB 2017 pada 27 September 2026. Dengan penandatanganan itu, California menjadi negara bagian kedua di Amerika Serikat yang secara resmi mengakui dua hari raya utama umat Islam tersebut sebagai state holidays. Washington menjadi negara bagian pertama yang melakukan hal serupa pada 2025.

Dengan demikian, untuk pertama kalinya California secara resmi menempatkan dua hari raya Islam berdampingan dengan berbagai hari penting lain yang telah masuk dalam kalender sipil negara bagian tersebut.

Tetapi ada satu hal yang perlu diluruskan. “State holiday” di sini tidak otomatis berarti seluruh masyarakat California mendapat dua hari libur tambahan sebagaimana konsep hari libur nasional di Indonesia.

Bagi pegawai negara bagian, aturan tersebut terutama memberikan mekanisme untuk menggunakan hak cuti yang tersedia guna merayakan Eid. Sementara sekolah negeri dan community colleges dapat melakukan penutupan melalui mekanisme dan kesepakatan lokal. Dan justru di situlah makna politik, sosial, dan kulturalnya menjadi menarik.

Bukan Sekadar Hari Libur

AB 2017 memasukkan Eid al-Fitr dan Eid al-Adha ke dalam daftar hari libur negara bagian California. Eid al-Fitr adalah hari pertama bulan Syawal dalam kalender Islam, yang menandai berakhirnya Ramadan. Sementara Eid al-Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah dan berkaitan erat dengan ibadah haji serta kisah pengorbanan Nabi Ibrahim.

Bagi umat Islam, keduanya bukan sekadar tanggal merah. Hari raya berarti salat Id, berkumpul dengan keluarga, mengunjungi kerabat, menghadiri kegiatan komunitas, dan menjalankan berbagai tradisi keagamaan yang sering kali hanya berlangsung pada hari tersebut.

Masalahnya sederhana tetapi selama bertahun-tahun nyata: kalender sekolah dan tempat kerja Amerika menggunakan kalender sipil yang tidak selalu sesuai dengan kalender keagamaan Muslim. Seorang Muslim bisa saja harus memilih antara datang bekerja atau menghadiri salat Id. Seorang pelajar dapat menghadapi dilema antara masuk sekolah dan merayakan hari raya bersama keluarga.

Undang-undang California mencoba mengurangi persoalan itu. Bagi pegawai negara bagian, mereka dapat menggunakan hak cuti yang tersedia sesuai ketentuan untuk merayakan Eid. Bagi sekolah negeri dan community colleges, terdapat jalur untuk melakukan penutupan pada hari Eid melalui mekanisme dan kesepakatan lokal. Bahkan ketidakhadiran siswa karena merayakan Eid memperoleh tempat dalam aturan mengenai excused absence.

Jadi, inti undang-undang ini bukan memberikan “bonus libur” kepada umat Islam. Intinya adalah memberikan ruang yang lebih resmi bagi seorang Muslim untuk menjalankan keyakinannya tanpa harus merasa bahwa kehidupan keagamaannya bertabrakan dengan kehidupan sipilnya.

California dan Wajah Amerika yang Berubah

California bukan Amerika dalam bentuk miniatur. Tetapi negara bagian ini memang merupakan salah satu gambaran paling jelas mengenai Amerika yang semakin plural. Di sana hidup komunitas dengan latar belakang Asia, Latin, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan berbagai kelompok imigran lainnya. Agama dan tradisi yang hidup di dalam masyarakatnya juga sangat beragam.

Kalender California sendiri telah memuat sejumlah perayaan yang mencerminkan perubahan demografi dan budaya masyarakatnya. Lunar New Year dan Diwali, misalnya, juga telah memperoleh pengakuan dalam kalender negara bagian. Kini dua hari raya Islam menyusul.

Secara hukum, California sebenarnya tidak sedang menjadikan Islam sebagai agama negara. Pengakuan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari penentuan kalender sipil yang mengakui signifikansi budaya dan sosial suatu perayaan bagi komunitas California.

Ini penting. Dalam negara sekuler dan plural seperti Amerika Serikat, pengakuan terhadap suatu hari keagamaan tidak harus berarti negara mengadopsi agama tersebut. Negara hanya mengatakan: warga yang hidup di dalam masyarakat ini memiliki tradisi tertentu, dan tradisi itu cukup signifikan untuk diperhitungkan dalam penyelenggaraan kehidupan publik.

Dengan kata lain, negara tidak harus menjadi religius untuk menjadi sensitif terhadap kehidupan keagamaan warganya.

Dari “Minoritas” Menjadi Bagian dari Arus Utama

Ada perubahan sosial yang lebih dalam di balik keputusan California. Selama puluhan tahun, Muslim Amerika sering dipandang melalui kategori “minoritas”. Tetapi kategori tersebut semakin kompleks.

Muslim Amerika bukan hanya imigran dari Timur Tengah atau Asia Selatan. Ada Muslim keturunan Afrika-Amerika, Arab-Amerika, Pakistan-Amerika, India-Amerika, Indonesia-Amerika, Bosnia-Amerika, Turki-Amerika, dan berbagai kelompok lainnya.

Mereka bekerja sebagai dokter, pengacara, profesor, insinyur, pengusaha, polisi, tentara, pegawai pemerintah, guru, wartawan, dan profesional di berbagai bidang. Anak-anak mereka lahir di Amerika. Mereka bersekolah di Amerika. Mereka membayar pajak di Amerika. Mereka memilih dalam pemilu Amerika. Dan mereka merayakan Idulfitri serta Iduladha sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Karena itu, persoalan yang muncul akhirnya bukan lagi semata-mata bagaimana “mengakomodasi orang asing”. Pertanyaannya berubah menjadi: Bagaimana negara mengakomodasi warganya sendiri yang memiliki tradisi keagamaan berbeda? Di sinilah pengakuan Eid memperoleh makna yang lebih besar.

“Tidak Harus Memilih antara Iman dan Sekolah”

Bagi generasi Muslim muda, dampaknya bahkan mungkin lebih penting daripada bagi generasi orang tua mereka. Bayangkan seorang siswa Muslim di California yang harus menghadiri sekolah pada hari Idulfitri.

Secara hukum, ia dapat memperoleh ketidakhadiran yang dibenarkan. Tetapi secara sosial, situasinya bisa tetap terasa berbeda. Ia harus menjelaskan kepada guru mengapa tidak hadir. Ia mungkin tertinggal pelajaran. Ia mungkin harus mengejar tugas. Ia mungkin harus memilih antara kegiatan sekolah dan kegiatan keluarga.

Karena itu, pengakuan resmi terhadap Eid memiliki fungsi simbolis: hari raya Muslim bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kalender kehidupan publik.

Bagi seorang anak Muslim, pesan yang diterima bisa sangat sederhana: Kamu tidak perlu meninggalkan sebagian identitasmu di rumah agar dapat menjadi bagian dari masyarakat Amerika.

Itulah salah satu alasan mengapa pengakuan terhadap hari raya agama sering kali mempunyai arti sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar jumlah hari libur.

Jangan Salah Memahami: California Tidak “Libur Eid”

Di sinilah pemberitaan mengenai kebijakan tersebut perlu hati-hati. Judul seperti “California menjadikan Idulfitri sebagai hari libur” dapat menimbulkan kesan bahwa seluruh kantor, sekolah, bisnis, dan lembaga publik di seluruh negara bagian otomatis tutup.

Itu tidak sepenuhnya benar. AB 2017 memang memasukkan kedua Eid ke dalam daftar state holidays, tetapi mekanisme penerapannya berbeda menurut institusi. Pegawai negara bagian memperoleh pilihan menggunakan hak cuti yang tersedia sesuai aturan. Sekolah negeri dan community colleges memperoleh kewenangan untuk melakukan penutupan berdasarkan mekanisme lokal.

Dengan demikian, kebijakan ini lebih tepat disebut sebagai pengakuan resmi dan kerangka akomodasi, bukan dua hari libur universal tambahan untuk seluruh penduduk California. Perbedaan ini penting agar berita tentang California tidak dibesar-besarkan. Tetapi koreksi tersebut sama sekali tidak menghilangkan arti historisnya.

Mengapa sekarang? Keputusan California juga muncul dalam konteks Amerika yang terus mengalami perdebatan mengenai identitas, imigrasi, agama, dan hubungan antara kelompok mayoritas dan minoritas. Kelompok Muslim Amerika dalam beberapa tahun terakhir juga menghadapi berbagai perdebatan mengenai diskriminasi dan Islamofobia.

CAIR-California, organisasi yang mendukung AB 2017, menyebut undang-undang tersebut sebagai pencapaian bersejarah bagi Muslim California. Organisasi itu menyatakan bahwa komunitas Muslim California berjumlah lebih dari satu juta orang. Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa isu Eid tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kecil yang hanya menyangkut kelompok agama yang sangat terbatas.

Ketika jumlah warga yang merayakan suatu tradisi mencapai skala besar, pertanyaan tentang kalender publik akhirnya menjadi pertanyaan tentang bagaimana sebuah masyarakat mendefinisikan dirinya sendiri.

Dari Washington ke California

Ada satu detail yang juga menarik. California bukan pelopor pertama. Washington telah lebih dulu mengakui Eid al-Fitr dan Eid al-Adha sebagai hari libur negara bagian pada 2025. California kini menjadi negara bagian kedua. Ini berarti fenomenanya mungkin lebih menarik jika dilihat sebagai sebuah tren, bukan peristiwa tunggal.

Di Amerika Serikat, pengakuan terhadap hari raya keagamaan sering kali dimulai dari tingkat kota atau distrik sekolah. Kemudian, ketika jumlah komunitas yang merayakannya semakin besar, muncul tuntutan agar kebijakan publik menyesuaikan diri.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya mengapa California mengakui Eid. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: Apakah semakin banyak negara bagian Amerika akan melakukan hal yang sama?

Belum ada dasar untuk memastikan arah tersebut. Tetapi munculnya pengakuan tingkat negara bagian di Washington dan kemudian California menunjukkan bahwa isu ini telah memasuki ruang legislasi negara bagian, bukan lagi hanya kebijakan administratif sekolah atau pemerintah lokal.

Sebuah Pelajaran tentang Pluralisme

Ada pelajaran menarik dari California bagi negara-negara multikultural, termasuk Indonesia. Pluralisme tidak selalu diwujudkan melalui pidato besar tentang toleransi. Kadang-kadang pluralisme bekerja melalui sesuatu yang sangat praktis: Kalender sekolah, jadwal ujian, hak cuti, jadwal kantor, ketidakhadiran siswa, dan hari raya.

Sebuah negara dapat mengatakan kepada warganya bahwa mereka bebas menjalankan agama masing-masing. Tetapi kebebasan itu akan terasa lebih nyata ketika institusi publik juga menyediakan ruang agar kebebasan tersebut dapat dijalankan tanpa hambatan yang tidak perlu.

Karena itu, pengakuan Eid di California sebenarnya berbicara tentang sebuah pertanyaan yang lebih luas: Seberapa jauh negara harus menyesuaikan dirinya dengan keragaman warganya? Jawabannya tentu berbeda-beda menurut sistem hukum dan tradisi politik masing-masing negara.

Namun California baru saja memperlihatkan satu model: bukan menjadikan agama sebagai dasar negara, melainkan mengakui bahwa agama adalah bagian nyata dari kehidupan warga negara dan karenanya perlu diperhitungkan dalam kalender sipil.

Ada ironi kecil yang menarik. Selama berabad-abad, kalender publik Amerika dibangun terutama berdasarkan sejarah dan tradisi masyarakat Barat. Tetapi Amerika modern telah berubah jauh lebih cepat daripada kalendernya. Kini masyarakat Amerika memiliki wajah yang jauh lebih beragam. Ada Tahun Baru Imlek. Ada Diwali. Dan kini ada Eid al-Fitr serta Eid al-Adha di tingkat negara bagian di Washington dan California.

Mungkin inilah gambaran paling sederhana mengenai perubahan Amerika abad ke-21: Amerika tidak lagi hanya memperdebatkan siapa yang datang ke negara itu. Amerika juga sedang bernegosiasi dengan pertanyaan tentang bagaimana semua komunitas yang telah menjadi bagian dari negara itu direpresentasikan dalam ruang publik.

Bagi Muslim California, perubahan itu mungkin terasa sederhana. Pada suatu pagi di bulan Syawal, mereka dapat bangun, mengenakan pakaian terbaik, pergi salat Id, berkumpul dengan keluarga—dan tahu bahwa hari yang mereka rayakan juga telah tercatat secara resmi dalam kalender negara bagian tempat mereka hidup.

Bukan karena California menjadi negara Islam. Bukan pula karena negara mengadopsi agama tertentu. Melainkan karena sebuah negara bagian plural mengatakan sesuatu yang sangat mendasar: warga Muslim adalah bagian dari California, dan hari raya mereka juga merupakan bagian dari kehidupan California. #

*Satrio Arismunandar, Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA. WA: 081286299061. ***

Leave a comment