
Catatan: Dedi Effendi, Pendidik Senior dan Pengamat Kebudayaan

Sejak tahun 2000 hingga sekarang, wacana pengaktifan kembali jalur ini terus terdengar. Bahkan beberapa kali muncul kabar bahwa jalur tersebut akan dihidupkan kembali. Namun hingga hari ini, masyarakat belum melihat tanda-tanda nyata.
+++
PAGI hari di Menes, Pandeglang, pada akhir tahun 1960-an memiliki suasana yang sulit ditemukan kembali pada masa sekarang.
Jalan raya masih lengang. Belum banyak kendaraan bermotor melintas seperti hari ini. Yang terdengar justru suara tapak kaki kuda yang menarik andong, berpadu dengan denting lonceng kecil dari kusir yang membawa penumpang menuju stasiun.
Di sela suasana pagi yang sejuk itu, dari kejauhan terdengar suara peluit kereta api.
“Tuuuttt… tuuuttt…”
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya suara lokomotif. Namun bagi anak-anak kampung pada masa itu, suara tersebut adalah panggilan petualangan.

Rumah saya di Kampung Kadugading, Menes, hanya berjarak sekitar enam ratus meter dari Stasiun Menes, masyarakat kala itu biasa menyebutnya halte.
Saat itu usia saya sekitar sebelas atau dua belas tahun, duduk di bangku sekolah dasar kelas empat atau lima.
Setiap libur sekolah, saya bersama teman-teman sebaya selalu memiliki rencana yang sama: naik kereta api ke Labuan.
Rencana itu biasanya sudah kami susun sejak malam hari, penuh antusiasme seperti hendak melakukan perjalanan besar.
Pagi-pagi sekali kami berjalan kaki menuju stasiun. Tidak membawa bekal mewah. Hanya semangat, rasa ingin tahu, dan kebahagiaan khas anak-anak.
Saat kereta datang, kami sering naik di bagian belakang gerbong terakhir. Dari sana kami bisa melihat pemandangan kiri-kanan dengan leluasa.
Sawah terbentang hijau. Pohon kelapa melambai diterpa angin. Sungai kecil, rumah-rumah penduduk, dan aktivitas masyarakat di kampung-kampung sepanjang jalur menjadi pemandangan yang sangat membekas dalam ingatan.
Saat itu jalur kereta api Rangkasbitung–Labuan masih menjadi salah satu urat nadi transportasi masyarakat Banten. Jalur ini sebenarnya memiliki sejarah panjang.
Dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, jalur tersebut mulai beroperasi pada awal abad ke-20 untuk mendukung mobilitas penduduk serta pengangkutan hasil bumi dari pedalaman menuju wilayah pesisir.
Namun bagi kami anak-anak, kereta api bukan sekadar alat transportasi.
Kereta api adalah dunia petualangan. Setibanya di Stasiun Labuan, kami tidak langsung bermain ke pantai. Ada kebiasaan kecil yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas.
Kami ikut membantu petugas stasiun memutarkan lokomotif agar siap untuk perjalanan kembali. Tentu tenaga kami tidak berarti banyak, tetapi bagi anak-anak seusia kami, bisa berada dekat dengan lokomotif adalah kebanggaan yang luar biasa.
Setelah itu, barulah kami berlari menuju pantai. Bermain pasir. Mengejar ombak. Tertawa tanpa beban.
Menjelang sore, ketika peluit keberangkatan kembali terdengar, kami bergegas menuju stasiun dan kembali naik di gerbong terakhir untuk pulang ke Menes.
Sesampainya di stasiun, kami berjalan kaki pulang ke rumah dengan wajah lelah, penuh debu, tetapi hati dipenuhi kebahagiaan.
Di waktu lain, saya juga pernah naik kereta bersama dua saudara menuju Cipeucang untuk bersilaturahmi ke rumah uwa di Kampung Kadugadung. Dari stasiun, perjalanan masih dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah dan kampung-kampung.
Semua terasa biasa pada masa itu. Namun kini, ketika usia saya telah menginjak 68 tahun, kenangan itu terasa begitu berharga.
Jalur kereta api Rangkasbitung–Labuan kini tinggal sejarah. Rel-relnya sebagian telah hilang, tertutup semak, bahkan tertelan pembangunan.
Sejak tahun 2000 hingga sekarang, wacana pengaktifan kembali jalur ini terus terdengar. Bahkan beberapa kali muncul kabar bahwa jalur tersebut akan dihidupkan kembali. Namun hingga hari ini, masyarakat belum melihat tanda-tanda nyata.
Belum terlihat perbaikan jembatan. Belum ada penggantian rel. Belum ada aktivitas besar yang menunjukkan kebangkitan jalur bersejarah ini.
Padahal jika jalur ini kembali beroperasi, manfaatnya tentu sangat besar bagi masyarakat Banten.
Selain menjadi transportasi alternatif yang aman dan terjangkau, kereta api juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan konektivitas antarwilayah.
Lebih dari itu, menghidupkan kembali jalur Rangkasbitung Labuan berarti menghidupkan kembali sebagian sejarah dan identitas masyarakat Banten. Dan bagi saya pribadi.
Jika suatu hari suara peluit kereta kembali terdengar di Menes, mungkin bukan hanya rel yang hidup kembali. Tetapi juga seluruh kenangan masa kecil yang selama ini diam, tersimpan dalam ingatan.(*)
Leave a comment