Oleh: Dedi Effendi, Pendidik Senior dan Pengamat Kebudayaan, Tinggal di Pandeglang.

Dedi Effendi

PAGI itu, langit di atas Kecamatan Cikedal tampak cerah. Kendaraan melintas di jalur nasional Pandeglang–Labuan (Provinsi Banten) seperti biasa, sebagian pengendara sekilas menoleh ke arah hamparan air yang tenang di sisi jalan.

Itulah Situ Cikedal–sebuah danau yang sesungguhnya menyimpan keindahan, tetapi nyaris tanpa kehidupan wisata.

Tak tampak pengunjung. Tidak ada pedagang kaki lima, penjaga parkir, apalagi petugas keamanan. Rumput liar tumbuh tinggi, ilalang merambat tak terurus.

Di salah satu sudut pintu keluar, tumpukan sampah rumah tangga menjadi penanda lain dari keterabaian. Situ Cikedal seolah berhenti dalam waktu.

Padahal, lokasinya sangat strategis. Dari badan jalan utama, jaraknya hanya sekitar 20 meter. Pengguna jalan dapat dengan mudah menikmati panorama air yang membentang, dengan latar pepohonan dan langit terbuka.

Di Kabupaten Pandeglang, inilah satu-satunya kecamatan yang memiliki situ dengan posisi seideal ini–mudah dijangkau, sekaligus menyuguhkan lanskap yang memikat.

Secara geografis, situ ini berada di Desa Dahu, Kecamatan Cikedal, dengan ketinggian sekitar 30–40 meter di atas permukaan laut. Bentang alamnya yang relatif datar menjadikan danau ini bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga penting secara ekologis. Situ Cikedal berfungsi sebagai daerah resapan air sekaligus penyangga irigasi bagi persawahan warga di sekitarnya.

Di dalamnya hidup berbagai jenis ikan air tawar–gabus, nilem, tawes, hingga wader dan beunteur serta udang. Pemerintah daerah pun pernah menambah populasi ikan melalui program penebaran benih, seperti nila, mas, dan gurame. Bagi warga sekitar, situ ini bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup yang menyediakan sumber pangan sekaligus tempat rekreasi sederhana.

“Dulu sering ada yang mancing, dijaring juga bebas, tidak ada pungutan,” kata Ono (56), seorang mekanik mobil yang rumahnya berdampingan dengan lokasi situ, Rabu pagi itu. Namun, ia menambahkan, ikan di situ tidak mudah didapat. “Seperti ada seninya sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.

Tradisi lokal pun pernah hidup di sini. Setiap sekitar sepuluh tahun sekali, air situ dikuras dalam kegiatan yang oleh warga disebut “dibedolkeun”. Momentum itu menjadi peristiwa sosial–warga berkumpul, pejabat daerah hadir, dan acara ditutup dengan makan bersama atau babacakan. Situ bukan hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang budaya.

Harapan menjadikan Situ Cikedal sebagai destinasi wisata sebenarnya pernah muncul. Pada awal 2000-an, setelah dilakukan penataan sekitar tahun 2004–2005, seorang investor dengan izin pemerintah daerah membuka kawasan ini sebagai objek wisata. Perahu-perahu mulai beroperasi, dan pengunjung berdatangan, meski dalam skala terbatas.

Namun, masa itu tak berlangsung lama. Sekitar tahun 2006–2007, sebuah insiden tragis terjadi. Seorang pengunjung asal Jakarta tenggelam setelah melompat dari perahu dengan maksud berenang ke tepi. Ia tak pernah muncul kembali ke permukaan. Tim pencarian dari aparat kepolisian dan SAR baru menemukan jasadnya tiga hari kemudian.

Sejak peristiwa itu, aktivitas wisata dihentikan. Situ Cikedal kembali sunyi dan kesunyian itu bertahan hingga kini.

Hampir dua dekade berlalu tanpa upaya berarti untuk menghidupkannya kembali sebagai destinasi wisata yang layak. Tidak ada pengelolaan terpadu, tidak ada perawatan rutin, dan tidak ada sistem keamanan yang memadai. Yang tersisa hanyalah potensi besar yang belum tergarap.

Padahal, jika dikelola dengan serius, Situ Cikedal memiliki semua syarat dasar untuk berkembang. Akses mudah, lanskap menarik, fungsi ekologis yang jelas, serta kedekatan dengan jalur wisata Pantai Labuan. Dengan sentuhan penataan, pengamanan, dan pemberdayaan masyarakat lokal, kawasan ini dapat menjadi alternatif destinasi wisata berbasis alam di Kabupaten Pandeglang.

Pertanyaan warga pun sederhana: kapan situ ini akan dihidupkan kembali?

Di tengah geliat pariwisata daerah yang terus mencari titik tumbuh baru, Situ Cikedal seperti menunggu untuk ditemukan ulang bukan oleh mata yang sekadar melintas, melainkan oleh kebijakan yang mampu melihatnya sebagai peluang.

Jika tidak, ia akan tetap menjadi panorama yang hanya dinikmati sepintas dari balik kaca kendaraan indah, tetapi tak pernah benar-benar hadir.(*)

Leave a comment