Catatan: Karim Paputungan

  • Wartawan Senior, Kolumnis, Mantan Pemimpin Redaksi Harian Merdeka & Harian Rakyat Merdeka. 

++
Warga Baduy menghuni perkampungan adat di atas awan. Ada Baduy luar. Ada Baduy dalam. Kampung mereka tersebar di Pegunungan Kendeng, Banten.

Rabu lalu, kami berbincang di bale-bale rumah Ambu Cudi, Desa Kanekes Kecamatan Lewi Damar, Kabupaten Lebak. Ini kampung
Baduy luar yg berbatasan dengan luar Baduy.

Ambu
Ambu adalah panggilan terhormat untuk Ibu di Baduy. Ambu Cudi adalah mantan first lady atau wanita utama. Dia telah berpisah dengan suaminya Jaro Saija, pemimpin nomor satu warga Baduy.

Jaro adalah tokoh sekaligus menjadi penghubung dengan pemerintah. Walaupun mereka tak pernah membebani pemerintah.

Dari ruang tamu Ambu terlihat perkampungan Baduy Dalam di kejauhan. Tak berapa lama kabut putih beriringan turun menyelimuti.

“Nah itu perkampungan di atas awan,” kata Muhammad Arif Kirdiat, relawan yg menghibahkan diri untuk mengabdi di Baduy. Alumni NTU (Nanyang Technological University) Singapore ini mendampingi kami berkunjung.
Dia adalah teman sekolah dari Andi Widjajanto, mantan Sekretaris Kabinet dan mantan Gubernur Lemhannas.

Merantau
Ambuh tinggal sendiri, karena Cudi, anak perempuannya merantau ke Jakarta mencari penghidupan sendiri. Ambu Cudi atau Ibunya Cudi sehari-hari bekerja di ladang dan menenun kain. Ibu Cudi cantik sebagaimana juga hasil tenunnya. Apalagi di lehernya melingkar kalung emas besar.

Wanita Baduy umumnya memakai kalung emas. Kulit mereka bening. Menonjolkan kecantikan.

Tenun
Selembar kain selesai ditenun 10 hari hingga dua minggu. Dijual di tempat bervariasi mulai dari Rp 300 ribu. Di ladang mereka menanam padi, pisang, sayur, jahe dan kencur.

“Tenun Baduy cantik. Lebih tebal. Tenun Lombok agak kaku. Sumut ada benang emas. Nias bervariasi warna hijau, merah dan putih,” tutur Elly Sri Pujianti, penggemar tenun yg jatuh cinta dan langsung membeli tenun Baduy lengkap dengan selendang.

Alat Tenun
Pada setiap rumah terdapat alat tenun sederhana dari kayu. Ditempatkan di bale-bale terbuka. Tidak ada meja kursi atau perabotan. Pengunjung sambil berselonjor, bersila sembari ngobrol bisa menyaksikan langsung wanita menenun.

Rumah
Rumah terbuat dari kayu. Dinding anyaman bambu. Atap dari daun rumbia dan nipah. Tanpa paku. Tidak ada televisi atau listrik. Tapi, ada hape. Di mana mereka mencharge hape?

Itu di luar Baduy. Tapi, dekat aja dengan Baduy luar. Misalnya di Pos 3 pintu masuk. Lokasi cuma beberapa langkah dari dari rumah mereka. Pos terletak di luar Baduy. Tapi masih di tanah ulayat Baduy. Di situ juga dibangun Puskesmas.

Terlihat enam remaja berkumpul di pos. Dua di antaranya putri. Mereka rupanya sedang mencharge hape. Keriangan tercermin dari wajah masing-masing. (*)

Leave a comment