Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan dan Kolumnis, Dosen Ilmu Administrasi Pemerintahan Universitas Indonesia, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri.

+++

MASIH yakin bisa bekerja di rumah? Kita semua mengalami gangguan apa saja yang menghadang kita bekerja di rumah. Sudah terbayang apa saja yang menghambat.

Bagi yang sudah bekeluarga dan yang masih lajang tantangan bekerja di rumah atau work from home (WFH), pasti berbeda. Mereka yang sudah berkeluarga akan “diganggu” oleh keluarga: anak, istri, suami, dan lingkungan.

Pagi-pagi sang istri minta diantar sebentar untuk belanja ke pasar. Kata yang menggoda untuk mengantar “sebentar”. Kata ini relatif boleh satu jam atau dua jam.

Pulang dari pasar, meluruskan punggung dulu, duduk manis, leyeh-leyeh dulu. Menghidupkan TV, melihat status aplikasi media sosial. Tergoda memberi jawaban. Sahut menyahut “tang ting tang ting”.

Lihat jarum jam sudah pukul 10.00. Pekerjaan kantor belum disentuh. Hidung diserang bau sedap masakan dari dapur. Kebayang ikan, daging, bumbu dan sayur segar yang barusan dibeli dari pasar. Enak pasti.

Makan dulu ah. Setelah makan kenyang, tidak segera pegang pekerjaan. Tanggung, bekerja setelah jam istirahat atau sepulang sholat jumat (kalau WFH hari Jumat, bagi yang muslim).

Nah, setelah pukul 13.30, baru mantap membuka komputer. Namun sebelum sampai mententuh pekerjaan kantor ada yang tergoda lihat gambar-gambar dan baca kabar yang berseliweran di internet.
Berselancar dulu lah di laman-laman internet. Nah tertunda lagi pekerjaan.

Karyawan yang sedang WFH terganggu lagi, karena ada yang mengetuk pintu kamar-bagi yang punya kamar-Anak ingin bicara sebentar.

Belum lagi ada urusan-urusan rumah tangga, selang dapur mampet, istri ngedumel karena menghadapi cucian piring banyak. Mood untuk mengerjakan kerjaan kantor terganggu lagi.

Bagi karyawan atau Aparatur Sipil Negara (ASN) yang masih lajang, gangguannya lain lagi. Banyak rekan di luar pekerjaan menjadi godaan WFH tersendiri. Ngobrol berjam-jam. Mengganggu pekerjaan. Yang lebih parah kalau pergi keluar bersama-sama dan memerlukan bahan bakar minyak (BBM).

Itu lah gambaran sederet gangguan WFH bagi ASN atau karyawan swasta. Padahal selama WFH, para karyawan/ASN diharapkan hemat energy BBM dan kinerja tetap prima.

Transformasi Nyata?

DI tengah tekanan ekonomi global dan dorongan efisiensi energi, kebijakan work from home (WFH) kembali menjadi pilihan strategis. Pemerintah dan organisasi memandangnya sebagai solusi untuk menekan biaya, mengurangi mobilitas, dan meningkatkan fleksibilitas kerja.

Namun, pertanyaan krusialnya tetap: apakah WFH benar-benar menghasilkan efisiensi nyata, atau sekadar memindahkan beban biaya tanpa meningkatkan kinerja?

Untuk menjawabnya, Indonesia perlu dilihat dalam perspektif komparatif. Negara dengan karakteristik serupa seperti Vietnam dan Filipina memberikan cermin penting: bagaimana kebijakan yang sama menghasilkan dampak berbeda tergantung pada kesiapan sistemik.

Secara kuantitatif, WFH memang menunjukkan potensi efisiensi yang signifikan. Studi global menunjukkan bahwa perusahaan dapat menghemat biaya operasional kantor hingga 20–30 persen, terutama dari pengurangan listrik, ruang kerja, dan fasilitas pendukung. Di sisi pekerja, penghematan biaya transportasi dan konsumsi harian berkisar Rp1–2 juta per bulan di wilayah perkotaan, tergantung jarak dan moda transportasi.

Dari perspektif energi, pengurangan mobilitas harian berkontribusi pada penurunan konsumsi bahan bakar transportasi hingga 10–15 persen pada periode penerapan WFH skala besar.

Namun, efisiensi ini tidak sepenuhnya “gratis”. Dalam banyak kasus, terjadi cost shifting, perpindahan beban biaya dari organisasi ke individu. Konsumsi listrik rumah tangga meningkat sekitar 15–25 persen, sementara kebutuhan internet dan perangkat kerja menjadi tanggungan pribadi. Artinya, efisiensi makro tidak selalu berbanding lurus dengan efisiensi mikro.

Dari sisi produktivitas, data juga menunjukkan hasil yang beragam. Studi internasional mencatat peningkatan produktivitas individu sekitar 10–13 persen dalam skema WFH, terutama karena berkurangnya waktu perjalanan dan gangguan kantor. Namun, pada saat yang sama, kolaborasi tim menurun hingga 20–25 persen, yang berdampak pada inovasi dan kualitas pengambilan keputusan jangka panjang. Sementara gangguan bekerja di rumah juga tidak kalah besar. Ini membuat WFH kurang efektif.

Di Indonesia, dinamika ini terlihat jelas. WFH cenderung dapat diterapkan pada pekerjaan administratif dan berbasis digital, tetapi kurang optimal pada fungsi yang membutuhkan koordinasi intensif atau pelayanan langsung. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada fase transisi—dari budaya kerja berbasis kehadiran menuju berbasis kinerja.

Bandingkan dengan Filipina. Negara ini berhasil memanfaatkan WFH sebagai keunggulan kompetitif, terutama di sektor business process outsourcing (BPO). Sekitar 75 persen pekerja melaporkan peningkatan produktivitas, dan hampir 80 persen merasa kualitas kerja membaik dalam skema hybrid. Keberhasilan ini tidak lepas dari kesiapan ekosistem: literasi digital tinggi, infrastruktur memadai, dan budaya kerja berbasis output.

Sementara itu, Vietnam menunjukkan pendekatan berbeda. Meski produktivitas tenaga kerjanya masih di bawah Indonesia dan Filipina dalam ukuran output per jam, Vietnam mencatat pertumbuhan produktivitas yang konsisten dan cepat. Fokus utamanya bukan pada fleksibilitas kerja semata, tetapi peningkatan efisiensi struktural melalui industrialisasi dan peningkatan kualitas tenaga kerja. Dalam konteks ini, WFH bukan prioritas utama, melainkan pelengkap dari transformasi ekonomi yang lebih besar.

Perbandingan ini menegaskan satu hal: efektivitas WFH tidak ditentukan oleh kebijakan itu sendiri, melainkan oleh kesiapan sistem yang mendukungnya.

Pertama, struktur ekonomi menjadi faktor penentu. Filipina yang berbasis jasa digital lebih siap mengadopsi WFH dibanding Indonesia yang masih didominasi sektor informal dan layanan langsung. Vietnam, dengan basis manufaktur, memiliki keterbatasan inheren dalam penerapan kerja jarak jauh.

Kedua, kapasitas sumber daya manusia. WFH membutuhkan literasi digital dan disiplin kerja yang tinggi. Tanpa itu, fleksibilitas justru berpotensi menurunkan produktivitas.

Ketiga, budaya organisasi dan kepemimpinan. WFH menuntut pergeseran dari micro management menuju outcome-based management. Tanpa kepercayaan dan indikator kinerja yang jelas, WFH hanya akan menciptakan ilusi kerja tanpa akuntabilitas.

Keempat, desain kebijakan yang adaptif. Penerapan WFH secara seragam terbukti tidak efektif. Model kerja hybrid–menggabungkan kerja kantor dan kerja jarak jauh–menjadi pendekatan paling realistis, dengan komposisi ideal 2–3 hari WFH per minggu untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi dan kolaborasi.

Dengan demikian, apakah WFH efektif? Jawabannya: ya, tetapi bersyarat. Secara kuantitatif, WFH mampu menghasilkan efisiensi biaya hingga 30 persen dan meningkatkan produktivitas individu lebih dari 10 persen. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, ia juga dapat menurunkan kualitas kolaborasi hingga 25 persen dan memindahkan beban biaya ke pekerja.

Bagi Indonesia, WFH seharusnya tidak diposisikan sebagai kebijakan sementara atau sekadar respons krisis. Ia perlu dirancang sebagai bagian dari transformasi sistem kerja nasional. Belajar dari Filipina dan Vietnam, kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi kebijakan, investasi pada kapasitas digital, serta perubahan budaya kerja.

Pada akhirnya, WFH bukan sekadar soal bekerja dari rumah. Ia adalah ujian bagi kemampuan kita membangun sistem kerja yang efisien, adaptif, dan berkeadilan. Jika dirancang dengan tepat, WFH dapat menjadi fondasi masa depan kerja Indonesia. Jika tidak, ia hanya akan menjadi efisiensi semu yang menunda masalah tanpa pernah menyelesaikannya.(*)

Leave a comment