

Catatan: Dedi Effendi, Pendidik dan Pemerhati Kebudayaan. Tinggal di Pandeglang.
JIKA Anda berkunjung ke kawasan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner tradisional yang satu ini: kueh atau kue balok.
Jajanan khas yang sederhana ini menyimpan cerita panjang sekaligus cita rasa autentik yang sulit dilupakan.
Berawal dari tangan terampil seorang perempuan bernama Ibu Sawati (alm), warga Kampung Ciputri, Menes, kueh balok telah hadir sejak masa pra-kemerdekaan Republik Indonesia. Dari dapur tradisional yang sederhana, beliau meracik singkong menjadi hidangan istimewa yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sekitar.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara-cara tradisional. Singkong diasap (diseupan) terlebih dahulu, kemudian ditumbuk menggunakan lesung hingga halus. Setelah itu, adonan dicampur dengan bumbu seperti ketumbar yang telah dihaluskan, osengan ampas, serta minyak bawang merah yang memberikan aroma khas. Perpaduan bahan alami ini menghasilkan rasa gurih yang unik sekaligus tekstur yang khas.
Menikmati kueh balok akan terasa lebih sempurna jika ditemani secangkir bandrek hangat. Sensasi hangat dari minuman tradisional tersebut berpadu harmonis dengan gurihnya kueh balok. Bahkan, sebagian penikmat menambahkan susu kental manis untuk menciptakan cita rasa yang lebih kaya dan menggugah selera.
Kini, kueh balok tidak hanya menjadi konsumsi warga lokal, tetapi juga telah menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, khususnya dari Provinsi Banten dan Jawa Barat. Bagi para pencinta wisata kuliner, kueh balok menawarkan pengalaman yang bukan sekadar rasa, melainkan juga perjalanan sejarah dan budaya.
Anda dapat menemukan pusat penjualan kueh balok di Jalan Menes–Labuan KM 6, tepatnya di Kampung Kadu Kampeng, Babakan, Kecamatan Cikedal. Di tempat ini, tradisi pembuatan kueh balok tetap dijaga oleh generasi penerus keluarga Ibu Sawati, memastikan cita rasa aslinya tetap terpelihara hingga kini.
Lebih dari sekadar makanan ringan, kueh balok adalah simbol kearifan lokal yang bertahan di tengah arus modernisasi. Bahan-bahannya yang alami dan proses pengolahannya yang tradisional menjadikan jajanan ini tidak hanya lezat, tetapi juga menenangkan untuk dinikmati.

Jadi, saat Anda merencanakan perjalanan ke Menes atau wilayah Pandeglang, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kueh balok. Sebab, dalam setiap gigitannya tersimpan cerita, tradisi, dan kehangatan khas masyarakat lokal.
Karena sejatinya, wisata kuliner bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang mengenal dan merasakan identitas suatu daerah.
Bagi anda yang belum mencicinya, kueh balok adalah pengalaman rasa yang patut dicoba sebab, seperti pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak akan penasaran”.
Melestarikan dan menikmati kueh balok berarti turut menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup ditengah arus zaman. (*)
Leave a comment