Catatan: Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, dan pernah dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kota Tangerang (2004). Kini Direktur Eksekutif Forum Senja

SETELAH seluruh proses imigrasi Israel selesai dan rombongan resmi keluar dari kantor perbatasa Yordania- Israel, kami diarahkan menuju kendaraan yang telah menunggu.
Yang menarik, kendaraan yang disiapkan berukuran besar, layaknya bus rombongan wisata besar, padahal jumlah kami hanya delapan orang. Sebuah pengalaman yang terasa istimewa—seolah memberi isyarat bahwa perjalanan ini bukan perjalanan biasa.
Di dalam kendaraan itu, kami kembali dipertemukan dengan pemandu wisata kami, Pak Jamal. Ia memperkenalkan diri sebagai putra kelahiran Palestina dan saat ini berkewarganegaraan Yordania.

Sosoknya ramah, tenang, dan sangat memahami seluk-beluk perjalanan lintas batas di wilayah yang penuh sejarah dan dinamika politik ini.
Pak Jamal menjelaskan alasan mengapa dirinya dapat masuk ke kawasan Masjid Al-Aqsa. Ia memiliki kartu identitas (ID) khusus yang dikeluarkan oleh negara Israel, yang memungkinkan akses ke wilayah tersebut—sebuah hal yang tidak dimiliki oleh banyak orang, bahkan oleh warga Palestina sendiri.
Penjelasan ini membuka wawasan kami tentang kompleksitas aturan dan realitas kehidupan di sekitar Baitul Maqdis.
Keistimewaan Pak Jamal tidak berhenti di situ. Ia dikenal sebagai pemandu wisata yang fasih dalam lima bahasa, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Spanyol, dan Bahasa Prancis. Kefasihannya berbahasa Indonesia membuat komunikasi terasa sangat dekat, hangat, dan tanpa jarak, seolah kami dipandu oleh saudara sendiri.
Perjalanan pun berlanjut dengan penuh rasa syukur dan harap. Di dalam kendaraan besar yang melaju tenang itu, kami menyadari bahwa setiap detail—bahkan sejak keluar dari kantor imigrasi—telah menjadi bagian dari kisah spiritual menuju Baitul Maqdis yang akan selalu kami kenang.
Selama perjalanan di dalam kendaraan, Pak Jamal dengan suara tenang dan penuh wawasan mulai menjelaskan makna penting kota Jericho, yang dikenal sebagai salah satu kota tertua di dunia.
Ia menuturkan bahwa Jericho sering disebut Kota Kurma, karena wilayah Palestina—khususnya Jericho—terkenal sebagai penghasil kurma berkualitas tinggi, dengan cita rasa manis alami dan tekstur lembut yang diakui sebagai salah satu yang terlezat di dunia.
Pak Jamal menjelaskan bahwa letak geografis Jericho yang berada di lembah rendah dengan iklim hangat sepanjang tahun menjadikannya sangat subur. Sejak ribuan tahun lalu, kurma bukan hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga simbol keberkahan dan ketahanan hidup masyarakat setempat.
Setibanya di Jericho, rombongan diajak singgah ke sebuah toko suvenir sambil istirahat, sedikit melepas lelah.
Jericho (Arab: Ariha) adalah salah satu kota tertua di dunia, terletak di Lembah Yordan, sekitar 250 meter di bawah permukaan laut—menjadikannya kota besar terendah di bumi.
Di tempat ini tersedia aneka produk khas Palestina, mulai dari kurma aneka jenis, minyak zaitun, hingga cendera mata bernuansa religi. Suasana terasa hangat dan bersahaja, memberi kesempatan bagi rombongan untuk mengenal lebih dekat hasil bumi dan budaya lokal.
Tak jauh dari lokasi tersebut, Pak Jamal menunjuk ke arah Mount of Temptation atau Bukit Percobaan. Ia kemudian mengisahkan versi agama Kristiani yang sangat penting secara spiritual. Di tempat inilah Yesus Kristus diyakini pernah diuji oleh setan.
Jericho menyimpan nilai religius. Disebut dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi—terkait kisah Nabi Musa AS (di wilayah sekitarnya), Nabi Isa AS, dan para nabi Bani Israil.
Menurut keyakinan umat Kristiani, Yesus menjalani puasa selama 40 hari 40 malam sebagai bentuk ketaatan dan pengendalian diri, sebelum memulai pelayanan-Nya.
Penjelasan Jamal membuat perjalanan terasa hidup—bukan sekadar berpindah tempat, tetapi menyusuri jejak sejarah, iman, dan peradaban yang saling bertaut di tanah Jericho, Kota Kurma yang penuh makna spiritual dan historis. (*)