Catatan: Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri, dan pernah dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kota Tangerang (2004). Kini Direktur Eksekutif Forum Senja.

SETELAH makan siang, pada hari Ahad, 1 Februari 2026, di sebuah toko suvenir, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat kami akan menginap selama tiga hari di tanah Palestina.
Perjalanan terasa begitu cepat. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kendaraan terasa hening, pikiran sudah membayangkan bentuk mesjid Al Aqsa seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah Islam.
Seperti aku sudah berada dalam bayangan mesjid-mesjid suci itu.

Jamal, pemandu wisata kami, bercerita lagi dengan nada tenang namun menggugah tentang kehidupan warga Palestina yang selama ini mengalami penindasan dan perlakuan diskriminatif.
Kisah-kisah itu disampaikan apa adanya, tanpa berlebihan, tetapi cukup untuk mengetuk nurani siapa pun yang mendengarnya.
Di sela cerita tentang kondisi sosial dan politik, Jamal juga menguraikan sejarah para nabi yang pernah menjejakkan kaki di bumi suci ini.
Penjelasannya tersusun rapi, sistematis, dan mudah dipahami. Terlihat jelas kecerdasan beliau, ditopang dengan hafalan Al-Qur’an yang kuat serta pengetahuan mendalam tentang kitab-kitab suci lainnya.
Setiap kisah selalu dihubungkan dengan lokasi yang kami lewati, membuat perjalanan terasa seperti kelas sejarah hidup.
Sesampainya di hotel, kami dipersilakan menurunkan koper dan menyimpan seluruh bawaan. Proses pembagian kunci kamar berlangsung tertib, memberi waktu singkat bagi kami untuk beristirahat sejenak.
Tepat pukul 14.00 waktu setempat, kami kembali berkumpul untuk menuju kawasan Masjidil Aqsa.

Tidak kami sebutkan secara berurutan, kami: Ali Rosad (ketua tim), Achris, Sriyani, Corry Fattah, Mulyani, Mikrainis M. Nasir, Tuti Elfita, dan saya M. Harry Mulya Zein berada di halaman mesjid Qubah Shakhrah (dome of the rock).
Alhamdulillah kami tiba di Baitul Maqdis. Kami mencocokkan gambar dan bayangan kami tentang Baitul Maqdis yang di dalamnya terdapat mesjid-mesjid yang disebut Masjidil Aqsa.
Kami memandangi bangunan serta ornamen-ornamen budaya klasik Islam. Kami melaksanakan sholat Zuhur dan Asar.
Setelah sholat Asar berjamaah, kami diajak berkeliling kawasan Masjidil Aqsa. Jamal kembali mengambil peran sebagai penutur sejarah, menjelaskan setiap sudut dengan detail dan gamblang—mulai dari fungsi bangunan, nilai historis, hingga makna spiritualnya.


Sambil berjalan perlahan, kami mendengarkan dengan penuh khidmat, sesekali berhenti untuk mengabadikan momen dengan foto. Langkah kaki, lantunan penjelasan, dan rasa haru berpadu, menjadikan sore itu sebagai salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan kami di Baitul Maqdis.
Di Baitul Maqdis terdapat Masjidil Aqsa. Masjidil Aqsa bukan satu gedung, tetapi satu kawasan suci yang di dalamnya terdapat Masjid Qibli, Kubah Shakhrah, dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya.Semuanya berada dalam satu kawasan suci bernama Al-Haram Asy-Syarif (Luas ±144.000 m²).
Secara garis besar, inilah masjidil Aqsa, terdiri atas:
- Masjid Qibli
Bangunan utama untuk sholat berjamaah, berada di sisi selatan kompleks. Ditandai dengan kubah berwarna abu-abu gelap dan memiliki mihrab yang mengarah ke kiblat. - Masjid Kubah Shakhrah (Dome of the Rock). Bangunan berkubah emas yang sangat ikonik.
Di dalamnya terdapat Batu Shakhrah, yang diyakini sebagai tempat Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad. - Masjid Buraq
Terletak di bagian barat daya kompleks. Diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW menambatkan Buraq saat peristiwa Isra’. - Masjid Babur Rahmah (Gerbang Rahmat)
Berada di sisi timur kompleks Masjidil Aqsa memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi.
- Seluruh Pelataran, Taman, dan Bangunan di dalamnua.
Semua area di dalam tembok kompleks—termasuk:
pelataran terbuka taman, mimbar, sumur, madrasah, dan gerbang-gerbang (sekitar 15 gerbang). Semuanya termasuk Masjidil Aqsa, bukan hanya satu bangunan saja. (*)