Catatan: Karim Paputungan

  • Wartawan Senior, Kolumnis, Mantan Pemimpin Redaksi Harian Merdeka & Harian Rakyat Merdeka (karimpaputungan@gmail.com).
Karim Paputungan

Kucing Kayu & Kucing Tembaga Jadi Maskot…
Museum Sarawak: Tertua di Asia Tenggara.
Di Museum Sejarah China, Pelancong Nonton Film Pendek

++
MUSEUM unik ini berlokasi di lantai dasar gedung perkantoran pemerintah yang megah– Dewan Bandaraya Kucing Utara (DBKU) atau semacam balai kota kalau di Indonesia.

Namanya memang “Muzium Kucing,” namun tak terdapat kucing hidup seekor pun. Bahkan di sekeliling gedung tidak tampak ada yang berkeliaran.

Unik! Karena bukan museum biasa tempat menyimpan benda bersejarah melainkan menampilkan beragam jenis dan bentuk kucing. Berupa patung, boneka, keramik, pajangan, gambar beserta pernak-pernik.

Koleksi mencapai 4.000 item, dari yang imut hingga gede. Sosok kucing lucu dan menggemaskan yang populer di kartun seperti Hello Kitty dan Garfield juga tak luput ditampilkan. Lokasi Di Ketinggian:

Gedung ini terletak di Bukit Siol, Jalan Semeriang, kawasan Petra Jaya. Lokasinya pada ketinggian 60 meter di atas permukaan laut membuat kita leluasa memandang Kota Kuching yang rapi teratur, dari ketinggian.

Memasuki lobby di lantai dasar, pengunjung kerap perpapasan dengan pegawai berseragam. Mereka itu adalah semacam Aparatur Sipil Negara– ASN atau PNS kalau di tanah air. Masuk Adalah Percuma:

Museum berlokasi di sisi kiri. Di sana terdapat konter dan petugas. Masuk adalah percuma alias gratis. Tapi, kalau mau foto-foto, apakah pakai kamera professional atau sekedar hape, pengunjung harus membayar karcis RM3 atau senilai Rp 10.000. Pengunjung umumnya memilih untuk membeli karcis, karena pengen foto-foto dan ogah menitipkan gawai. Karcis berupa stiker kemudian ditempelkan di perangkat.

Penataan koleksi museum yang dibangun tahun 1993 ini tidak terlalu rapih, malah sebagian seperti ditumpuk saja. Maklum, arealnya hanya 1.000m2 dibandingkan ribuan koleksi. Luas Museum Patung Lilin Madame Tussauds di Singapura yang kita ulas minggu lalu lebih kurang juga sama. Bila Museum Tussauds menampilkan tokoh tingkat dunia, maka Museum Kucing terdapat juga foto pejabat lokal sebagai variasi. Kucing Kayu, Kucing Tembaga:

Yang menarik dalam salah satu lemari terdapat replika dua ekor kucing. Pertama, disebut kucing kayu, karena bulunya seperti guratan papan yang digergaji. Kedua, kucing tembaga, karena bulunya berwarna tembaga.

Kedua replika ini dipajang berdampingan. Kucing kayu dan kucing tembaga adalah dua jenis kucing sungguhan yang terakhir kali ditemukan di Sarawak lebih dari 40 tahun lalu. Replika dibuat untuk mengenang mereka.

Toko Suvenir:

Di dalam museum juga terdapat toko suvenir yang menjual berbagai pernak pernik, terutama boneka kucing yang manis dan lucu. Juga T-shirt, tas hingga gantungan kunci. Penggemar kucing bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam atau lebih. Tapi, kalau sekedar melihat-lihat, setengah jam sudah cukup.

Selain di museum, patung kucing juga dibangun di beberapa lokasi perkotaan, terutama di bundaran kota yang strategis. Kota ini memiliki banyak bundaran, bukan persilangan, taman dan jalan yang lebar. Lalu lintas lancar. Kebersihan terjaga. Kucing menjadi ikon.

Dua Wilayah:

Bandaraya atau Kota Kuching terbagi dalam dua wilayah administratif– Kuching Utara dengan balai kota Dewan Bandaraya Kuching Utara (DBKU), tempat museum berada. Satunya lagi Kuching Selatan dengan balai kota Dewan Bandaraya Kucing Selatan (DBKS).

Malaysia masih punya satu negara bagian di Kalimantan yakni Sabah dengan Ibu Kota Kinabalu. Waktu era konfrontasi dengan Indonesia awal tahun 1960-an, Sabah dikenal dengan nama Kalimantan Utara.

Di rimba raya sana, patriot Indonesia diterjunkan. Salah satunya Abdullah Machmud–AM Hendropriyono yang baru lulus dari Akademi Militer Nasional–AMN Magelang. Dia nyaris tewas, karena menderita luka parah di 11 bagian tubuh akibat perkelahian jarak dekat. Hendro kini Jenderal Purnawirawan.

Bekas Teritori Brunei:

Di Pulau Kalimantan terdapat pula negara Brunei Darussalam yang disebut-sebut sebagai negara terkaya urutan nomor lima di dunia. Sarawak tempo doeloe merupakan teritori Kesultanan Brunei yang kemudian diserahkan kepada Inggris dan belakangan tergabung dalam federasi Malaysia. Ada juga bus rute Pontianak- Brunei dengan waktu tempuh lebih dari 20jam. Museum Sarawak dan Muzeum Tionghoa:

Saya juga mengunjungi dua museum yang menyimpan koleksi bersejarah. Pertama, Museum Sarawak yang diklaim sebagai tertua di Asia Tenggara. Berumur lebih dari satu abad. Klaim ini perlu dipertanyakan, karena Museum Nasional di Jakarta telah berusia lebih dari dua abad.

Kedua, Museum Sejarah China yang menampilkan sejarah masuknya pendatang dari China daratan. Museum ini tergolong muda. Berusia 110 tahun. Etnis China di Kuching mencapai 23 persen dari jumlah penduduk. Berkunjung ke museum ini adalah percuma atau gratis juga. Selain menikmati berbagai koleksi, di antaranya keramik era Dinasti Ming, pelancong juga disodori tontotan film pendek.

Melintas PLBN:

Sarawak mudah kita jangkau dari Pontianak, Kalimantan Barat. Ada dua Pos Lintas Batas Antar Negara (PLBTAN) yang saya kunjungi. Dibangun megah sebagai pintu gerbang untuk menuju negara jiran. Yakni Entikong di Kabupaten Sanggau dan Aruk di Kabupaten Sambas.

Bus wara-wiri setiap hari dari kedua negara, baik milik swasta maupun pemerintah. Begitu pun kendaraan pribadi. Bus Damri yang dikelola oleh BUMN cukup diminati selain bus-bus swasta yang mewah.

PLBN dibangun secara besar-besaran dalam kurun waktu dua tiga tahun belakangan ini, sehingga mengalahkan kantor atau Jabatan Imigresen Malaysia.

Saya pernah menggunakan bus Damri dari Pontianak-Kuching pp melalui PLBN Entikong. Sekali perjalanan sekitar tujuh, delapan jam. Sedangkan di PLBN Aruk tidak sampai melintas. Tapi cukup puas CNN– Cuma Nengok Nengok situasi perbatasan, terutama bangunan megah yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tanggal 17 Maret 2017.

++
Ulasan ini berdasarkan pengalaman pribadi diperkaya bahan dari sumber lain. Ditulis via hape (*).

Leave a comment