Catatan Perjalanan:
Karim Paputungan
- Wartawan Senior, Kolumnis, Mantan Pemimpin Redaksi Harian Merdeka & Harian Rakyat Merdeka.

Menikmati VIP Lounge KAI
Numpak atau naik Kereta Api
Parahyangan Priority rute stasiun Bandung (BD) — Gambir (GBR) punya kesan tersendiri. Suasana itu kami rasakan pada akhir libur panjang pertengahan bulan Mei ini.
Kami bertiga yang nyampe lebih awal di stasiun Bandung langsung menuju area keberangkatan.
Pemindai wajah:
Tentu saja lebih dulu melewati boarding gate atau pintu pemeriksaan tiket. Tak perlu menunjukkan tiket bersama Kartu Tanda Penduduk– KTP.
Validasi atau pemeriksaan dilakukan secara mandiri dengan menatap layar kamera sebagai pemindai wajah. Praktis dan cepat.
Berbeda beberapa hari sebelumnya ketika dari Bandung menuju Tasikmalaya naik Kereta Panoramic, kamera face recognition tidak mengenal wajah kami.
Namun, tak terlalu terkendala. Segera meng-update lagi di meja petugas dengan menyerahkan KTP. Sebentar saja beres.
Kami termasuk awal melakukan pendaftaran face recognition di Stasiun Gambir tatkala layanan ini mulai diperkenalkan tahun 2022.
Ruang Tunggu Luxury:
Di area keberangkatan Stasiun Bandung kami menuju Ruang Tunggu VIP. Di pintu masuk tertulis Ruang Tunggu Luxury– Luxury Lounge.
Kami mendorong pintu yang tertutup. Petugas di dalam menyambut sambil memindai tiket.
Di ruang tersedia tempat duduk berupa sofa dan beberapa kursi berjejer. Di meja terdapat hiasan kembang.
“Dewan Komisaris,
Dewan Direksi:”
Di tembok dipajang foto Dewan Komisaris. Ada delapan orang yang berdiri berjejer. Di posisi tengah berpeci adalah KH Said Aqil Siroj (73 th), komisaris utama.
Foto Dewan Direksi dipajang sejajar. Terdiri 10 orang. Di pose tengah Bobby Rasyidin (52 th), direktur utama.
Di pojok terdapat sajian berupa snack dan minuman: panas kopi, teh beserta juice. Di antara penganan tampak antara lain rerotian, lontong, pastel beberapa kue jajanan pasar serta kripik.
“Sajian Priority Serupa Panoramic:”
Kereta berangkat pukul 13.04, satu menit lebih cepat. Tiba di Gambir pada pukul 16.05 sesuai jadwal.
Gerbong Priority berkapasitas 30 kursi. Bernuansa kayu. Formasi 2/2. Ada mini bar. Tiap penumpang disajikan roti bagelen dan roti srikaya. Keduanya berukuran mini. Tak ketinggalan juga porcorn atau brondong jagung yg biasanya dijual di jaringan bioskop XXI.
Minuman berupa hydro coco kemasan dan air mineral.
Sajian ini serupa yang kami dapatkan ketika naik Kereta Panoramic rute Bandung (BD)– Tasikmalaya (TSM). Sajian ini termasuk layanan tanpa dibayar tersendiri.
Tersedia makanan berat di antaranya nasi goreng, nasi campur dan sei sapi. Semua menu ini berbayar.
“Tanpa perangkat hiburan:”
Kereta Priority kursinya bernuansa abu abu muda, tanpa penyangga kepala. Ada bantal kecil di jok kursi. Tidak ada perangkat hiburan semacam tv di depan kursi. Colokan listrik tersedia untuk men-charge hape.
Panoramic sesuai namanya berpemandangan luas transparan dengan jendela lebar. Begitu pun atap dengan kaca memanjang. Ada gantungan di samping jendela. Panoramic dan Priority yang kami naiki sama-sama tidak menyedikan perangkat hiburan.
Perangkat hiburan ini sekedar halu aja atau kata pepata lama: “indah kabar dari rupa.”
Walaupun demikian, dari kenyamanan, keramahan petugas dan jadwal keberangkatan ketibaan patut dipujikan.
“Porter:”
Bahkan berapa waktu sebelum tiba di stasiun Gambir, prami atau pramugari menyambangi untuk menanyakan, apakah kami perlu bantuan porter. Begitulah (*).
Leave a comment