Tidak ada kemewahan di ruang tamu itu. Hanya keluarga, obrolan sederhana, goreng singkong, dan rencana syukuran akikah seorang cucu yang sangat kami cintai.
Oleh: Dr M. Harry Mulya Zein, Dosen, Kolumnis Kompas.com, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

SORE hari adalah waktu yang paling aku nantikan. Setelah berbagai aktivitas dan kesibukan sepanjang hari, aku selalu menyempatkan diri duduk santai di ruang tamu rumah. Di atas meja tersaji secangkir teh hangat dan sepiring goreng singkong yang baru matang.
Aroma teh dan singkong goreng berpadu menciptakan suasana yang akrab dan menenangkan.
Menjelang senja, satu per satu anggota keluargaku mulai berkumpul.
Putri sulungku, Salsa, datang lebih dahulu. Tak lama kemudian Dzaki dan istrinya, Puti, bergabung. Menantuku, Fadly, juga ikut meramaikan suasana. Sementara itu, cucu-cucuku, Ruby dan Rosie, sesekali berlarian di sekitar ruang tamu, membuat suasana semakin hidup. Di tengah kebersamaan itu, cucuku yang paling kecil, Biru, yang baru berusia satu bulan, tertidur pulas dalam gendongan ibunya.
Sore itu, obrolan kami berpusat pada satu hal yang membahagiakan: rencana pelaksanaan selametan syukuran akikah Biru yang Insyaallah akan dilaksanakan pada pertengahan Juni mendatang.
“Ayah, kira-kira undangan yang perlu disiapkan berapa orang?” tanya Dzaki sambil membuka catatan di telepon genggamnya.
Aku tersenyum. Pembicaraan pun mengalir. Kami mulai membahas siapa saja yang akan diundang, susunan acara, menu yang akan disajikan, hingga pembagian tugas agar pelaksanaan acara berjalan lancar.
Salsa mengusulkan agar acara dibuat sederhana namun tetap khidmat. Puti menambahkan beberapa ide untuk konsumsi dan kebutuhan tamu. Fadly sesekali menyela dengan candaan yang membuat kami semua tertawa.
Di sudut ruang tamu, Ruby dan Rosie tampak penasaran mendengar nama Biru disebut berkali-kali. Mereka sesekali mendekati kami lalu kembali bermain. Tingkah polos mereka membuat suasana diskusi keluarga terasa hangat dan penuh keceriaan.
Bagiku, yang paling membahagiakan bukanlah besar atau kecilnya acara akikah itu nanti. Kebahagiaan sesungguhnya adalah melihat seluruh anggota keluarga duduk bersama, saling bertukar pikiran, dan bekerja sama demi menyambut sebuah peristiwa yang penuh rasa syukur.
Sesekali pandanganku tertuju pada Biru yang masih tertidur tenang. Wajahnya yang mungil mengingatkanku betapa cepat waktu berjalan.
Rasanya baru kemarin aku mendampingi anak-anakku tumbuh besar, dan kini aku telah dianugerahi tiga cucu yang menjadi penyejuk hati.
Sambil menyeruput teh hangat, aku merasakan ketenangan yang sulit digambarkan. Tidak ada kemewahan di ruang tamu itu. Hanya keluarga, obrolan sederhana, goreng singkong, dan rencana syukuran akikah seorang cucu yang sangat kami cintai.
Namun justru dari situlah kebahagiaan hadir.
Aku menyadari bahwa kehidupan sering kali menghadirkan kebahagiaan dalam bentuk yang sederhana.
Bukan pada kemeriahan acara yang akan digelar nanti, melainkan pada proses kebersamaan yang kami jalani hari ini. Duduk bersama, berdiskusi, tertawa, dan bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada keluarga kami.
Ketika azan Magrib mulai berkumandang dari masjid di kejauhan, pembicaraan sore itu pun berakhir. Cangkir-cangkir teh telah kosong, goreng singkong hampir habis, dan rencana akikah Biru mulai tersusun dengan baik.
Aku memandang keluargaku dengan penuh syukur.
Dalam hati aku berdoa, semoga akikah Biru nanti berjalan lancar, menjadi keberkahan bagi keluarga kami, dan semoga Allah SWT senantiasa menjaga serta melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan kasih sayang kepada Salsa, Dzaki, Puti, Fadly, Ruby, Rosie, dan Biru.
Sore itu, di ruang tamu rumah yang sederhana, aku kembali belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kadang, kebahagiaan hadir dalam secangkir teh hangat, goreng singkong, dan obrolan keluarga tentang rasa syukur atas hadirnya seorang cucu tercinta.(*)
Leave a comment