
Catatan: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan dan Kolumnis, Dosen Ilmu Administrasi Pemerintahan Universitas Indonesia, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
+++
RANGKASBITUNG, Jumat 24 April 2026 –Sejak fajar mulai menyingsing di ufuk timur, suasana di Alun-alun pusat perkantoran Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, telah berubah menjadi ruang perjumpaan budaya yang sarat makna.
Ribuan warga dari berbagai penjuru tampak memadati area tersebut, menanti kedatangan rombongan masyarakat adat Baduy dalam sebuah tradisi tahunan yang sakral dan penuh khidmat: Seba Baduy.

Dari kejauhan, iring-iringan masyarakat Baduy mulai terlihat. Mereka berjalan kaki menempuh perjalanan panjang dari wilayah adat di pedalaman Lebak, menembus perbukitan dan hutan yang selama ini mereka jaga kelestariannya.
Tanpa alas kaki, tanpa kendaraan, perjalanan itu bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan sebuah laku spiritual yang mencerminkan keteguhan memegang adat leluhur.
Rombongan tampil sederhana namun berwibawa. Masyarakat Baduy Dalam mengenakan busana putih polos dengan ikat kepala putih, melambangkan kesucian dan keteguhan menjaga adat tanpa kompromi.
Sementara Baduy Luar mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala biru tua, sebagai simbol keterbukaan terhadap dunia luar namun tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.
Seba Baduy bukan sekadar ritual seremonial. Ia adalah manifestasi dari filosofi hidup masyarakat Baduy yang dikenal dengan prinsip “pikukuh”–aturan adat yang tidak boleh dilanggar.
Dalam pikukuh tersebut terkandung nilai utama: “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.” Filosofi ini mengajarkan manusia untuk menerima alam sebagaimana adanya, tanpa eksploitasi dan manipulasi berlebihan.
Dalam prosesi Seba, masyarakat Baduy menyerahkan hasil bumi kepada Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, dan Gubernur Banten, Andra Soni, yang mereka hormati sebagai “Bapak Gede.” Penyerahan ini bukan bentuk ketundukan, melainkan simbol hubungan harmonis antara masyarakat adat dengan pemimpin pemerintahan.
Berbagai hasil bumi dibawa dalam perjalanan tersebut: pisang tanduk, talas, gula merah, beras huma, madu odeng asli, hingga kain tenun Baduy. Semua itu merupakan wujud rasa syukur sekaligus representasi nilai kemandirian dan kedekatan masyarakat Baduy dengan alam.
Prosesi penyerahan berlangsung sederhana, jauh dari kemewahan. Hal ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Baduy: “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak.” Pesan ini menjadi pengingat kuat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.


Dalam momen tersebut, tokoh adat Baduy juga menyampaikan pesan-pesan moral kepada pemerintah dan masyarakat luas, agar pembangunan tidak mengabaikan keseimbangan alam dan nilai-nilai kehidupan.
Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Baduy dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi pelajaran penting bagi kehidupan modern saat ini, khususnya dalam menjaga harmoni dengan alam.
Sementara itu, Gubernur Banten, Andra Soni, menilai tradisi Seba sebagai ruang dialog yang memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat. Ia menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari identitas daerah.
Bagi masyarakat luas, Seba Baduy menjadi daya tarik budaya sekaligus sarana edukasi. Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk menyaksikan, tetapi juga memahami filosofi hidup masyarakat Baduy yang sederhana namun sarat makna.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Seba Baduy tetap berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa identitas budaya adalah warisan yang harus dijaga. Lebih dari itu, ia menjadi simbol hubungan manusia dengan alam serta antara rakyat dan pemimpinnya–yang dibangun atas dasar penghormatan, kepercayaan, dan keseimbangan.(*)
Leave a comment