Seharusnya aku lulus pada 1978. Namun karena perubahan itu, kelulusanku tercatat tahun 1979.

Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Tahun itu adalah masa Pak Presiden Soeharto, Alm memimpin negeri ini. Zaman yang sering disebut sebagai era Orde Baru. Menteri Pendidikan saat itu adalah Daoed Yoesoef. Kebijakan berubah. Kalender pendidikan yang biasanya berakhir bulan Desember digeser menjadi bulan Juni. Ada perpanjangan waktu belajar enam bulan.

Enam bulan

Secara administratif, itu hanya pergeseran jadwal.
Tetapi bagi kami, itu adalah tambahan waktu yang terasa seperti bonus kehidupan.

Seharusnya aku lulus pada 1978. Namun karena perubahan itu, kelulusanku tercatat tahun 1979. Angkatan 1979. Angka yang berbeda, tetapi jiwa dan semangatnya tetap milik generasi 78.

Enam bulan tambahan itu bukan sekadar duduk lebih lama di bangku kelas. Ia adalah waktu untuk lebih memahami arti perpisahan. Kami yang sudah merasa “siap pergi” tiba-tiba diberi kesempatan untuk tinggal lebih lama.

Aku masih ingat suasana sekolah saat itu. Dinding-dinding kelas yang sederhana, papan tulis hitam dengan kapur putih yang berdebu, guru-guru yang tegas tetapi penuh dedikasi. Di halaman sekolah, kami berdiskusi tentang masa depan—ada yang ingin menjadi tentara, guru, pegawai negeri, pedagang, bahkan ada yang bercita-cita merantau jauh.

Tambahan enam bulan itu membuat hubungan kami semakin kuat. Persahabatan yang awalnya biasa saja menjadi lebih dalam. Candaan di kantin terasa lebih hangat. Upacara bendera setiap Senin terasa lebih khidmat, seolah kami sadar bahwa waktu benar-benar sedang menghitung mundur.

Ketika akhirnya pengumuman kelulusan tiba di pertengahan 1979, suasananya berbeda. Kami tidak lagi sekadar lulus. Kami seperti menyelesaikan sebuah fase yang telah “ditahan” enam bulan oleh sejarah.

Aku berdiri di halaman sekolah itu, memandang gedung yang selama tiga setengah tahun menjadi rumah kedua. Hati terasa berat. Bukan karena takut menghadapi masa depan, tetapi karena harus meninggalkan masa lalu yang indah.

Kadang aku tersenyum sendiri. Secara angka, aku lulusan 1979. Tetapi dalam batin, aku tetap merasa bagian dari generasi 1978. Pergeseran kalender pendidikan telah mengubah tahun di ijazahku, namun tidak mengubah kenangan di hatiku.

Kini, ketika waktu sudah berjalan puluhan tahun, aku menyadari bahwa enam bulan tambahan itu adalah hadiah. Hadiah untuk belajar lebih matang, bersahabat lebih dalam, dan mencintai masa muda sedikit lebih lama.

Dan jika aku harus memilih satu fase hidup yang paling sulit kuucapkan selamat tinggal, maka jawabannya tetap sama:

Masa di SMAN Pandeglang, Angkatan 1979 — enam bulan yang membuat perpisahan terasa lebih dalam, dan kenangan menjadi lebih panjang.

Leave a comment