Aku teringat sekolah-sekolah di pelosok negeri–bangunan kayu yang hampir roboh, guru honorer dengan gaji yang tak cukup untuk hidup layak, anak-anak cerdas yang terpaksa berhenti sekolah karena ekonomi.
Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmi Pemerintahan, Tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang— Indonesia

Pagi itu aku terbangun bukan di kamar sederhana rumahku, melainkan di sebuah ruangan luas dengan bendera merah putih berdiri gagah di sudutnya. Di meja besar terukir lambang Republik Indonesia, dan di dinding tergantung foto para presiden terdahulu.
Seorang ajudan berbisik pelan,
“Selamat pagi, Pak Presiden. Agenda pertama Anda: reformasi pendidikan nasional.”
Aku terdiam.
Andai ini hanya mimpi, biarlah mimpi ini menjadi nyata walau sehari.
Aku melangkah menuju ruang rapat kabinet. Di sana sudah menunggu para menteri. Aku menarik napas panjang.
“Hari ini,” kataku mantap, “kita tidak membahas politik. Kita membahas masa depan. Dan masa depan itu bernama pendidikan.”
Semua mata tertuju padaku.
Aku teringat sekolah-sekolah di pelosok negeri–bangunan kayu yang hampir roboh, guru honorer dengan gaji yang tak cukup untuk hidup layak, anak-anak cerdas yang terpaksa berhenti sekolah karena ekonomi.
“Hari ini saya tetapkan,” lanjutku, “anggaran terbesar negara diprioritaskan untuk pendidikan berkualitas dan merata. Tidak boleh ada lagi sekolah tanpa internet. Tidak boleh ada guru yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak boleh ada anak Indonesia yang tertinggal karena kemiskinan.”
Aku meminta dibuatkan program besar:
Digitalisasi sekolah nasional – setiap ruang kelas terhubung dengan teknologi.
Peningkatan kesejahteraan guru – guru adalah profesi paling terhormat dan sejahtera.
Beasiswa penuh bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.
Kolaborasi global dengan universitas-universitas terbaik dunia.
“Indonesia harus berdiri sejajar dengan negara maju,” kataku tegas. “Anak-anak kita harus mampu bersaing di tingkat dunia tanpa kehilangan jati diri.”
Siang itu, aku mengunjungi sebuah sekolah sederhana di daerah pinggiran. Seorang anak bertanya polos,
“Pak Presiden, apakah saya bisa jadi ilmuwan?”
Aku tersenyum dan berlutut di hadapannya.
“Bukan hanya bisa. Kamu harus jadi ilmuwan. Dan negara akan mendukungmu.”
Di matanya aku melihat cahaya harapan. Cahaya itulah yang ingin kujaga.
Sore harinya, aku menandatangani kebijakan besar: Gerakan Indonesia Cerdas Berkelas Dunia. Program yang memastikan kurikulum tidak hanya menghafal, tetapi melatih berpikir kritis, kreativitas, dan karakter. Pendidikan bukan sekadar angka-angka, tetapi membentuk manusia yang berintegritas.
Malam tiba. Dari balkon istana, aku memandang langit Jakarta yang berkilau. Sehari hampir berakhir.
Aku sadar, menjadi presiden bukan tentang kekuasaan. Ini tentang keberanian mengambil keputusan untuk generasi yang bahkan belum lahir.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas, semuanya perlahan menghilang. Aku kembali terbangun di kamarku sendiri.
Ternyata benar, itu hanya mimpi.
Namun pagi itu aku mengerti satu hal:
Untuk menjadikan pendidikan Indonesia berkelas dunia, tidak harus menunggu menjadi presiden. Setiap guru yang mengajar dengan hati, setiap orang tua yang mendorong anaknya belajar, setiap warga yang peduli pada sekolah di sekitarnya–mereka adalah presiden di bidangnya masing-masing.
Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari mimpi kecil yang diyakini bersama.(*)
Leave a comment