Catatan: Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, dan pernah dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kota Tangerang  (2004). Kini Direktur Eksekutif Forum Senja

Ali Rosad (ketua tim), Achris, Sriyani, Corry Fattah, Mulyani, Mikrainis M. Nasir, Tuti Elfita, dan M. Harry Mulya Zein, sebagian besar dari Kota Tangerang.

AHAD, 1 Februari 2026 menjadi hari kelima perjalanan spiritual kami di tanah Syam. Perjalanan ini merupakan bagian yang paling mendebarkan perasaan kami karena melintasi perbatasan antara Yordania dan Israel yang saat ini masih berkonflik dengan Palestina. 

Pagi itu, suasana Hotel Geneva masih terasa dingin, namun penuh semangat. Usai sarapan pagi bersama, seluruh jamaah bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang telah lama dinanti: menuju Baitul Makdis yang di dalamnya terdapat Masjid Al Aqsa yang dikenal juga sebagai Masjidil Aqsa. 

Sekitar pukul 07.30 waktu setempat, kami berdelapan— Ali Rosad (ketua tim), Achris, Sriyani, Corry Fattah, Mulyani, Mikrainis M. Nasir, Tuti Elfita, dan saya M. Harry Mulya Zein— melakukan check out dari Hotel Geneva. 

Koper-koper telah tersusun rapi di bagasi bus, sementara para jamaah saling menguatkan niat, menyadari bahwa perjalanan hari ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan langkah mendekat ke salah satu tanah suci dalam sejarah para nabi.

Jalan menuju Baitul Maqdis

Bus perlahan meninggalkan Amman, melaju menuju perbatasan (border). Sepanjang perjalanan, hamparan gurun Yordania terbentang luas, menjadi saksi bisu perjalanan panjang umat manusia dan jejak risalah para nabi. 

Beberapa jamaah larut dalam dzikir dan doa, sebagian lainnya memandangi jalanan dengan perasaan haru—tak sedikit yang meneteskan air mata, membayangkan akan segera menginjakkan kaki di tanah yang diberkahi.

Menuju Baitul Maqdis

Di dalam bus, suasana terasa khidmat namun hangat. Pemandu perjalanan sesekali memberikan penjelasan singkat mengenai proses pemeriksaan di perbatasan, sembari mengingatkan jamaah untuk bersabar dan menjaga adab. 

Perjalanan menuju border ini menjadi ujian kesabaran sekaligus penguatan spiritual, bahwa setiap langkah menuju tempat mulia selalu disertai proses dan pengorbanan.

Hari kelima ini pun menjadi gerbang perjalanan besar—dari Yordania menuju Baitul Makdis—sebuah perjalanan yang bukan hanya tercatat dalam agenda wisata religi, tetapi juga terukir dalam hati setiap jamaah sebagai perjalanan iman dan sejarah.

Pemeriksaan di Kantor Imigrasi 

Menjelang pukul 11.00 waktu setempat, kami tiba di kawasan perbatasan Yordania–Israel untuk melanjutkan perjalanan menuju Baitul Makdis. 

Proses administrasi imigrasi memerlukan waktu yang cukup lama karena padatnya antrean pemeriksaan paspor serta pemeriksaan keamanan yang dilakukan secara teliti oleh kedua otoritas negara.

Di kantor Imigrasi Yordania, seluruh jamaah turun dari kendaraan dan diarahkan memasuki ruang pemeriksaan. 

Satu per satu paspor diperiksa, dilengkapi proses cap keluar (exit clearance). Suasana cukup ramai, namun tetap tertib mengikuti arahan petugas. Waktu tunggu di sisi Yordania berlangsung cukup lama karena antrean beberapa rombongan dari berbagai negara.

Setelah seluruh proses di pihak Yordania selesai, kami melanjutkan ke kantor Imigrasi Israel. Di sini, pemeriksaan dilakukan lebih ketat, meliputi verifikasi data, pemindaian barang bawaan, serta wawancara singkat kepada sebagian jamaah. Antrean kembali mengular, sehingga membutuhkan kesabaran ekstra. 

Meski demikian, kami tetap tenang, saling menguatkan, dan memanfaatkan waktu dengan berzikir serta berdoa agar perjalanan  yang mendebarkan ini diberi kelancaran.

Sekitar waktu siang hari, seluruh proses imigrasi akhirnya dapat diselesaikan. Alhamdulillah. 

Dengan rasa syukur, kami kembali berkumpul dan bersiap melanjutkan perjalanan darat menuju Baitul Makdis, membawa harapan besar untuk segera menunaikan ibadah dan ziarah di tanah yang penuh keberkahan. (*)