Aku menarik napas dan menjawab dengan tenang, mengaitkan konsep yang kuteliti dengan konteks empiris yang kuangkat.

Oleh : M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, tinggal di Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein dan istri

Pagi itu udara Bandung terasa lebih sejuk dari biasanya. Embun masih menggantung di pucuk-pucuk daun, namun langkahku sudah mantap memasuki gedung tempat Sidang Terbuka Senat Guru Besar Universitas Padjadjaran (UNPAD) digelar.

Tahun 2010—tahun yang tak akan pernah kulupakan—karena pada hari itulah aku berdiri bukan hanya sebagai seorang peneliti, tetapi sebagai seseorang yang harus mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan akademik yang kutempuh selama bertahun-tahun.

Di depan pintu aula, seorang panitia menyambut sambil memberikan map berisi jadwal sidang. Dadaku berdebar. “Bapak sudah siap?” tanyanya singkat. Aku tersenyum tipis, menahan gelisah yang sejak subuh menumpuk di dada. “Insya Allah,” jawabku.

Ketika pintu terbuka, pemandangan yang begitu khidmat menyergapku. Deretan toga hitam dengan aksen warna emas dan ungu dari para guru besar memenuhi ruangan. Kursi-kursi tersusun rapi, dan di tengah panggung terdapat podium dengan lambang UNPAD yang tampak megah dalam pantulan cahaya lampu. Setiap langkahku terasa berat, namun juga mengalirkan rasa bangga yang sulit kuungkapkan.

Saat namaku dipanggil untuk tampil, seisi ruangan seolah senyap. Aku berdiri di podium, memandang para guru besar yang sejak dulu hanya kulihat lewat jurnal, karya ilmiah, dan seminar akademik. Kini, mereka duduk di hadapanku, siap menguji, menilai, sekaligus menjadi saksi perjuanganku mempertahankan disertasi.

Aku membuka presentasi dengan suara yang sempat bergetar. Namun setelah beberapa menit, ritme bicara mulai mengalir. Grafik, data, teori, dan temuan penelitian kusampaikan dengan penuh keyakinan, seakan seluruh perjalanan panjang penelitian itu menuntunku dari balik layar. Sesekali aku menangkap beberapa guru besar mengangguk kecil, dan itu cukup membuatku kembali tenang.

Sesi tanya jawab dimulai. Pertanyaan-pertanyaan tajam datang silih berganti, menyentuh teori dasar hingga aspek metodologis yang paling rinci. Ada satu pertanyaan yang sempat membuatku terdiam beberapa detik, namun justru keheningan itu menjadi titik balik. Aku menarik napas dan menjawab dengan tenang, mengaitkan konsep yang kuteliti dengan konteks empiris yang kuangkat. Ruangan kembali hening ketika aku mengakhiri penjelasan. Lalu, seorang guru besar tersenyum tipis sambil mengangguk. Rasanya seperti mendapat restu dari langit.

Ketika sidang dinyatakan selesai, aku berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa lebih ringan. Di luar, udara Bandung tak lagi sedingin pagi tadi. Mungkin karena beban yang selama ini kupikul telah luruh, digantikan rasa syukur yang meluap-luap. Hari itu, aku bukan sekadar tampil di hadapan para guru besar. Aku berdiri sebagai saksi atas kerja keras, doa, dan perjalanan panjang yang akhirnya bermuara pada satu momen berharga dalam hidupku.

Dan setiap kali aku melewati kampus dipati ukur UNPAD, kenangan itu selalu kembali—mengingatkanku bahwa keberanian untuk tampil pada hari itu telah membuka pintu masa depan yang selama ini hanya berani kupikirkan dalam diam.(*)