Di tengah pekerjaan itu, perlahan suasana berubah. Kami mulai saling bercanda, menertawakan keadaan, bahkan saling menyemangati.
Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Lahir di Pandeglang, Dosen Vokasi Ilmu Administrasi Pemerintahan Universitas Indonesia (UI), dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).


PAGI itu terasa berbeda. Matahari sudah tinggi ketika aku terbangun dengan perasaan panik. Jarum jam menunjuk pukul tujuh lewat lima belas menit–terlambat. Dengan tergesa-gesa, aku mengenakan seragam, menyambar tas, lalu berlari keluar rumah tanpa sempat sarapan.
Rumahku berada di Jalan Ciwasiat, tepat di belakang Polres Pandeglang. Setiap hari, aku harus berjalan kaki menuju sekolah yang berada di Jalan Bank Banten, dekat Terminal Pandeglang. Jaraknya sekitar tiga kilometer. Biasanya perjalanan itu terasa biasa saja, bahkan kadang menyenangkan. Tapi hari itu, setiap langkah terasa berat karena aku tahu aku sudah kehilangan waktu.
Keringat mengucur deras saat aku mempercepat langkah. Jalanan pagi yang biasanya aku nikmati, hari itu terasa seperti lintasan panjang yang tak kunjung selesai. Dalam hati, aku terus berharap semoga guru belum terlalu memperhatikan keterlambatanku.

Sesampainya di sekolah, suasana sudah tenang. Gerbang hampir ditutup. Nafasku terengah-engah saat melangkah masuk. Namun harapanku pupus ketika suara tegas guru piket memanggilku.
“Kenapa terlambat?” tanyanya singkat.
Aku hanya bisa menunduk. Tak lama kemudian, aku melihat beberapa teman lain berdiri di dekat ruang guru. Wajah mereka sama cemasnya denganku. Ternyata, aku tidak sendirian.
Sebagai hukuman, kami diminta untuk membersihkan WC sekolah.
Awalnya, aku merasa kesal dan malu. Bau menyengat langsung menyeruak begitu pintu WC dibuka. Beberapa dari kami spontan menutup hidung, sementara yang lain hanya bisa saling pandang dengan wajah penuh keengganan.
Namun, tak ada pilihan lain. Kami mulai bekerja. Ada yang menyikat lantai, ada yang membersihkan dinding, dan ada pula yang menguras bak air. Tanganku kotor, bajuku basah, dan keringat bercampur dengan bau yang tidak sedap.
Di tengah pekerjaan itu, perlahan suasana berubah. Kami mulai saling bercanda, menertawakan keadaan, bahkan saling menyemangati. “Lumayan, sekalian olahraga gratis habis jalan tiga kilo,” candaku, membuat teman-teman tertawa.
Tanpa disadari, WC yang tadinya kotor mulai terlihat bersih. Lantai mengkilap, dinding tak lagi kusam, dan bau menyengat pun perlahan hilang. Ada rasa bangga yang muncul, meski pekerjaan itu awalnya kami anggap sebagai hukuman.
Saat selesai, guru piket datang memeriksa. Ia mengangguk pelan, lalu berkata, “Kalian terlambat hari ini, tapi kalian sudah belajar sesuatu yang lebih penting.”
Aku terdiam. Dalam hati, aku tahu maksudnya.
Hari itu, aku belajar bahwa setiap langkah yang kita ambil-bahkan langkah kaki sejauh tiga kilometer setiap pagi-adalah bagian dari perjuangan. Dan ketika kita lalai, konsekuensi pasti datang. Namun dari sana, kita bisa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan arti disiplin.
Sejak saat itu, aku tetap berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Tapi kini, aku melangkah lebih pagi, dengan kesadaran baru. Karena aku tahu, perjalanan bukan hanya soal sampai tujuan, tapi juga tentang bagaimana kita belajar di sepanjang jalan. (*)
Leave a comment