Aku menarik napas panjang, menikmati setiap detiknya.
Mungkin, bukan hanya cuacanya yang indah-
tetapi juga cara hati ini memilih untuk merasakannya.


Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Pagi itu datang dengan lembut, seolah enggan membangunkan dunia terlalu cepat. Langit terbentang biru muda, bersih tanpa cela, sementara matahari bersinar hangat-tidak menyengat, hanya cukup untuk menyapa kulit dengan rasa nyaman. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang masih basah oleh sisa embun.

Aku duduk di bangku kayu di halaman, secangkir teh hangat di tangan. Tidak ada yang terburu-buru hari itu. Burung-burung berkicau riang, seakan ikut merayakan kesederhanaan pagi yang sempurna. Sesekali angin menyibakkan rambutku, menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan.

“Seandainya semua hari seperti ini,” gumamku pelan.

Cuaca seperti ini selalu punya cara untuk menenangkan hati. Tidak terlalu panas, tidak pula dingin. Seimbang–seperti kehidupan yang diidamkan banyak orang. Dalam kesejukan yang bersahabat dan cahaya yang hangat, aku merasa segala beban menjadi ringan.

Di kejauhan, anak-anak mulai bermain, tawa mereka mengisi udara. Dunia terasa begitu hidup, namun tetap tenang. Tidak ada kegelisahan, tidak ada hiruk-pikuk yang mengganggu.

Aku menarik napas panjang, menikmati setiap detiknya.
Mungkin, bukan hanya cuacanya yang indah-
tetapi juga cara hati ini memilih untuk merasakannya.

Ketika aku pulang kampung, diujung barat pulau jawa Kota Kecil Pandeglang, sebuah kota di kaki gunung karang

Ketika aku pulang kampung, di ujung barat Pulau Jawa–di Pandeglang, sebuah kota kecil di kaki Gunung Karang–ada rasa yang tak pernah berubah. Rasa yang selalu pulang lebih dulu, bahkan sebelum tubuh ini benar-benar tiba.

Pagi di sana selalu berbeda. Udara terasa lebih jujur, lebih segar, seolah belum tersentuh oleh lelahnya dunia. Kabut tipis sering masih bergelayut di lereng gunung, sementara matahari perlahan muncul dari baliknya, menyinari sawah-sawah yang terhampar luas. Hijau yang menenangkan mata, seperti pelukan lama yang tak pernah usang.

Aku berjalan menyusuri jalan kecil yang dulu akrab dengan langkah masa kecilku. Angin berhembus pelan, membawa suara dedaunan dan aroma tanah basah yang begitu khas. Di kejauhan, terdengar ayam berkokok dan suara warga yang saling menyapa–sederhana, tapi hangat.

“Masih sama,” bisikku, lebih kepada diri sendiri.

Di kota kecil ini, waktu seakan berjalan lebih lambat. Tidak ada yang tergesa-gesa. Orang-orang masih punya waktu untuk sekadar duduk di beranda, menyeruput kopi, dan berbincang tanpa beban. Dan di tengah semua itu, aku menemukan kembali bagian diriku yang sempat hilang-yang dulu sederhana, yang dulu penuh rasa syukur.

Aku duduk menghadap hamparan alam, membiarkan angin sepoi-sepoi menyentuh wajah. Cuaca yang sejuk dan cerah seperti ini selalu menjadi favoritku. Seolah alam tahu, kapan harus memberi ketenangan bagi jiwa yang lelah.

Pulang ke Pandeglang bukan hanya soal kembali ke tempat,
tetapi kembali ke rasa-
rasa yang mengingatkan bahwa bahagia itu, ternyata, tidak pernah jauh.

Leave a comment