Kadang, cukup dengan mendengarkan, memahami, dan hadir sepenuh hati.
Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Pujian terbaik yang pernah saya terima adalah ketika seseorang mengatakan bahwa saya adalah pendengar yang baik–seseorang yang benar-benar hadir, memahami, dan tidak sekadar mendengar untuk menjawab. Bagi saya, itu bukan sekadar pujian biasa, tetapi pengakuan bahwa keberadaan kita bisa memberi arti bagi orang lain.
Ada momen ketika seorang teman bercerita tentang masalah hidupnya yang cukup berat. Saya tidak memberi solusi yang hebat, tidak juga kata-kata yang luar biasa. Saya hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Di akhir percakapan, dia berkata, “Terima kasih, kamu bikin saya merasa tidak sendirian.”
Kalimat sederhana itu justru menjadi pujian paling berkesan. Karena di situ saya menyadari, terkadang hal paling berarti yang bisa kita berikan bukanlah nasihat, melainkan kehadiran yang tulus.
Sejak saat itu, saya belajar bahwa menjadi berarti bagi orang lain tidak selalu harus lewat hal besar. Kadang, cukup dengan mendengarkan, memahami, dan hadir sepenuh hati.(*)
Leave a comment