Ada suasana, ada kehangatan, dan ada seni tawar-menawar yang membuat pagi terasa lebih hidup.

Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Pagi masih agak gelap ketika aku berangkat menuju Pasar Induk Tangerang. Udara pagi bercampur dengan aroma buah-buahan segar yang mulai diturunkan dari mobil para pedagang. Suasana pasar sudah ramai meskipun matahari belum tinggi. Para pembeli berjalan sambil membawa keranjang, dan para pedagang sibuk menata dagangannya.

Aku memang lebih senang berbelanja buah di pasar ini. Selain pilihannya banyak, harganya juga lebih murah. Yang paling menyenangkan adalah bisa menawar harga, sesuatu yang jarang bisa dilakukan jika berbelanja di supermarket.

Aku berhenti di sebuah lapak yang penuh dengan tumpukan jeruk, apel, dan mangga. Buah-buahnya terlihat segar dan mengkilap.

“Berapa jeruknya, Bang?” tanyaku.

Pedagang itu tersenyum ramah.
“Dua puluh ribu sekilo, Pak. Jeruknya manis, baru datang dari Medan.”

Aku mengambil satu buah jeruk, merasakannya di tangan. Kulitnya mulus dan segar.

“Wah, dua puluh ribu agak mahal, Bang. Lima belas ribu saja ya,” kataku sambil tersenyum.

Pedagang itu tertawa kecil.
“Aduh Pak, kalau segitu saya tidak dapat untung. Delapan belas ribu saja deh.”

Aku pura-pura berpikir sambil melihat-lihat buah lain.
“Kalau saya beli dua kilo, tujuh belas ribu saja ya.”

Pedagang itu mengangguk akhirnya.
“Baiklah Pak, khusus buat Bapak. Dua kilo tujuh belas ribu.”

Aku tersenyum puas. Inilah yang membuat berbelanja di pasar terasa menyenangkan. Bukan hanya soal harga yang lebih murah, tetapi juga interaksi hangat dengan para pedagang.

Sebelum pulang, aku membeli juga beberapa mangga dan pisang dari lapak sebelah. Suasana tawar-menawar kembali terjadi, diselingi canda dan tawa.

Saat keluar dari pasar dengan kantong buah yang cukup berat di tangan, aku merasa puas. Buahnya segar, harganya murah, dan pengalaman menawar di pasar selalu memberikan cerita kecil yang menyenangkan.

Bagiku, berbelanja buah di Pasar Induk Tangerang bukan sekadar membeli kebutuhan rumah tangga. Ada suasana, ada kehangatan, dan ada seni tawar-menawar yang membuat pagi terasa lebih hidup.

Leave a comment