Belakangan saya baru tahu bahwa ibu saya sendiri yang memberi nama itu. Rupanya di balik kata “Mulya” ada sebuah doa sederhana dari seorang ibu: semoga anaknya kelak menjadi orang yang hidup dengan kemuliaan hati.
Oleh: M. Harry Mulya Zein, Pakat Ilmu Pemerintahan, dosen IPDN dan UI, kini tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Kedengarannya cukup serius, ya. Dalam bahasa Indonesia, mulya atau mulia berarti terhormat, luhur, dan bermartabat. Kalau didengar sekilas, seperti nama seorang tokoh dalam cerita sejarah atau pahlawan nasional.
Tapi jujur saja, ketika saya masih kecil, saya tidak pernah berpikir sejauh itu. Bagi saya waktu itu, nama tengah hanyalah sesuatu yang muncul di buku rapor atau ketika guru memanggil nama lengkap dengan nada agak resmi–biasanya kalau saya sedang membuat sedikit “keributan” di kelas.
Belakangan saya baru tahu bahwa ibu saya sendirilah yang memberi nama itu. Rupanya di balik kata “Mulya” ada sebuah doa sederhana dari seorang ibu: semoga anaknya kelak menjadi orang yang hidup dengan kemuliaan hati.
Tentu saja, dalam perjalanan hidup, menjadi “mulia” itu tidak selalu mudah. Kadang hidup ini lebih sering memberi ujian daripada gelar kehormatan. Ada saat-saat kita berhasil, ada juga saat-saat kita gagal. Bahkan mungkin lebih sering gagalnya.
Namun justru di situlah nama itu terasa penting. Ia seperti pengingat kecil yang selalu ikut bersama saya. Bahwa kehormatan seseorang sebenarnya tidak diukur dari jabatan, kekuasaan, atau tepuk tangan orang banyak, tetapi dari integritas, kejujuran, dan cara kita memperlakukan orang lain.
Kadang saya juga bercanda dengan teman-teman. Saya bilang, “Nama saya memang Mulya, tapi untuk benar-benar menjadi orang yang mulia, itu pekerjaan seumur hidup.”
Jadi bagi saya, nama tengah Mulya bukan sekadar identitas yang tertulis di kartu identitas. Ia lebih seperti kompas kecil dalam hidup–kadang mengingatkan, kadang menegur, dan sesekali juga membuat saya tersenyum ketika menyadari bahwa harapan orang tua itu sebenarnya sangat sederhana: jadilah orang baik.
Leave a comment