Ayahku asli orang Pandeglang. Tanahnya subur, udaranya bersih, dan orang-orangnya sederhana.
Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakat Ilmu Pemerintahan, dosen IPDN dan UI, kini tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Aku lahir dari rahim seorang ibu yang teramat mulia. Perempuan kelahiran Jakarta yang dalam nadinya mengalir darah Betawi. Dari lisannya aku pertama kali belajar menyebut nama Tuhan. Dari tangannya aku mengenal hangatnya kasih yang tak pernah menuntut balas.
Ketika aku lahir, ia membisikkan namaku perlahan: Mohamad Harry Mulya Zein.
Sebuah nama yang panjang, katanya, agar doanya juga panjang.
“Mohamad,” ucapnya, agar aku meneladani kemuliaan akhlak Nabi Muhammad.
“Mulya,” agar hidupku bermartabat.
Dan “Zein”–nama ayahku–yang tersemat di belakang sebagai jejak garis keturunan.
Ayahku asli orang Pandeglang. Tanahnya subur, udaranya bersih, dan orang-orangnya sederhana. Namun nama “Zein” sering membuat orang salah menduga. Di bangku kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, di lingkungan Universitas Indonesia, kerap kali teman-temanku bertanya, “Kamu orang Minang ya? Dari Sumatera Barat ?”
Aku hanya tersenyum.
Bukan. Aku bukan dari sana. Tapi aku juga tidak merasa asing dengan dugaan itu.
Sebab identitasku memang seperti mozaik.
Dari garis ibu, aku adalah cucu H. Hamdani Bin H. Muhayar, Betawi asli dari Tanah Abang–lelaki yang dikenal teguh memegang adat dan agama. Dari garis nenek, aku mewarisi keteduhan Hj. Dedeh Rulaini, putri dari H. Setera, perempuan yang lahir di Desa Juhut, di wilayah Pandeglang, tepat di kaki Gunung Karang.
Aku sering membayangkan perjalanan darah itu:
dari riuh pasar Tanah Abang,
ke sejuknya kabut Gunung Karang,
lalu menuju rahim ibuku di Jakarta,
hingga akhirnya menjadi diriku.
Namun ada satu hal yang dulu sempat mengusik pikiranku. Mengapa di belakang namaku tertera nama ayah, bukan nama ibu? Bukankah ibulah yang mengandungku sembilan bulan, menahan sakit antara hidup dan mati, lalu membesarkanku dengan sabar?
Suatu hari aku bertanya kepadanya.
Ia tersenyum lembut dan berkata, “Namaku tidak perlu kau tulis di belakang namamu. Namaku ada di dalam dirimu.”
Sejak itu aku tak pernah lagi mempersoalkannya.
Nama ayahku adalah akar.
Nama ibuku adalah tanah tempat akar itu tumbuh.
Tanpa akar, pohon tak berdiri.
Tanpa tanah, akar tak berarti.
Di FISIP UI, ketika aku belajar tentang identitas, struktur sosial, dan konstruksi budaya, aku sadar bahwa manusia sering kali dinilai dari label—dari nama, dari bunyi, dari asumsi. Tapi hidupku mengajarkan hal yang lebih dalam: identitas bukan sekadar apa yang terdengar, melainkan apa yang membentuk jiwa.
Aku mungkin terdengar seperti orang Sumatera Barat.
Aku mungkin dibaca sebagai anak Pandeglang.
Aku mungkin berwajah Betawi dalam cerita-cerita keluarga.
Tetapi sesungguhnya aku adalah pertemuan semuanya.
Aku adalah cucu Tanah Abang.
Aku adalah cicit kaki Gunung Karang.
Aku adalah anak Pandeglang.
Aku adalah doa seorang ibu Betawi.
Dan setiap kali aku menyebut namaku sendiri–Mohamad Harry Mulya Zein–aku tidak hanya menyebut identitas administratif. Aku sedang memanggil sejarah panjang tentang rahim yang melahirkan, tentang lelaki yang menanamkan keteguhan, tentang perempuan-perempuan kuat yang tak meminta namanya ditulis, namun hidup dalam darah dan doa.
Aku lahir dari rahim seorang ibu yang teramat mulia. Namanya mungkin tak tersemat di belakang namaku.
Tetapi ia terukir abadi di dalam jiwaku. Saya tidak mungkin menyebutkan nama beliau terbuka di sini.
Leave a comment