Tahun 2014, aku memulai kembali dari titik nol sebagai dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Dosen IPDN dan UI, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Tahun 2013 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam hidupku. Ketika gagal meraih kemenangan dalam pemilihan kepala daerah secara langsung sebagai Walikota Tangerang, rasanya seperti dunia runtuh seketika. Bukan hanya tentang kekalahan politik, tetapi tentang harga diri, harapan, dan masa depan yang seakan-akan ikut runtuh bersama hasil itu.
Aku merasa kehilangan banyak hal sekaligus—karier yang telah dibangun bertahun-tahun, jabatan yang memberi ruang pengabdian, bahkan stabilitas finansial yang selama ini menopang kehidupan. Seolah-olah semua yang dirintis perlahan hilang dalam satu momentum. Ada masa di mana hati dipenuhi pertanyaan: mengapa harus terjadi? Apa arti dari semua perjuangan yang telah dilakukan?
Namun hidup tidak berhenti pada satu kekalahan.
Tahun 2014, aku memulai kembali dari titik nol sebagai dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Dunia yang berbeda, ritme yang berbeda, panggung pengabdian yang berbeda. Dari hiruk-pikuk politik praktis, aku beralih ke ruang kelas—mendidik, membimbing, dan menanamkan nilai kepada calon-calon pamong praja.
Awalnya tidak mudah. Dari posisi yang dulu penuh sorotan publik, kini harus beradaptasi dengan dunia akademik yang menuntut kesabaran dan ketekunan intelektual. Tetapi justru di sanalah aku menemukan makna baru. Jika dulu ingin memimpin satu kota, kini aku ikut membentuk generasi yang kelak akan memimpin banyak daerah di Indonesia.
Kekalahan itu ternyata bukan akhir, melainkan pengalihan jalan. Ia memaksaku untuk merendah, menata ulang ego, dan memaknai kembali arti pengabdian. Aku belajar bahwa jabatan hanyalah titipan, kemenangan bukan ukuran nilai diri, dan finansial bukan satu-satunya penopang harga diri.
Meniti ulang dari nol bukanlah kehinaan, melainkan proses pemurnian. Dari situ aku belajar ketangguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Aku menyadari bahwa pertumbuhan terbesar justru lahir dari titik terendah dalam hidup.
Kini, ketika menoleh ke belakang, aku tidak lagi melihat 2013 sebagai tahun kehancuran. Aku melihatnya sebagai tahun pembentukan. Sebab tanpa kegagalan itu, mungkin aku tidak akan menemukan peran baru yang lebih sunyi namun lebih dalam maknanya.
Terkadang Tuhan tidak memberi kita apa yang kita inginkan, tetapi memberi kita apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk menjadi pribadi yang lebih matang dan lebih bermanfaat.
Dan dari sana aku belajar: hidup bukan tentang selalu menang, tetapi tentang tetap melangkah, bahkan setelah merasa kalah.(*)
Leave a comment