Tim Pengkaji/Peneliti: Kolonel CAJ (Purn.) Dr. H. Asren Nasution, M.A, Ir. Aris Fadhila Acheen, Khaidir Sinaga AP, Assoc. Prof. Dr. Puji Santoso, S.S., M.S.P, dan Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.*

Abstrak
Provinsi Sumatera Utara merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi akibat faktor geologis, hidrometeorologis, dan sosial. Artikel ilmiah populer ini membahas bagaimana transformasi nilai spiritual/kerohanian dapat memperkuat model kolaborasi Hepta Helixdalam mitigasi dan manajemen bencana. Pendekatan ini menekankan sinergi tujuh aktor—pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, lembaga keuangan, dan institusi keagamaan—dengan nilai spiritual sebagai fondasi etis, moral, dan sosial. Studi ini menunjukkan bahwa integrasi nilai kerohanian dalam kebijakan dan praktik kebencanaan dapat meningkatkan resiliensi sosial, solidaritas, serta efektivitas respons dan pemulihan bencana.
Kata kunci: Hepta Helix, nilai spiritual, mitigasi bencana, resiliensi sosial, Sumatera Utara.
Pendahuluan
Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang rentan terhadap gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami. Di Sumatera Utara, potensi bencana meliputi gempa tektonik, erupsi Gunung Sinabung, banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologis lainnya. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencanamenunjukkan bahwa tren kejadian bencana di Indonesia cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir (BNPB, 2023).
Secara geografis, keberadaan Danau Toba dan Gunung Sinabung menjadi indikator kerentanan geologis wilayah ini. Selain faktor alam, aspek sosial-budaya juga memengaruhi kapasitas respons masyarakat terhadap bencana.
Dalam konteks ini, pendekatan kolaboratif berbasis Hepta Helix menawarkan solusi sistemik. Namun, kolaborasi lintas sektor membutuhkan fondasi nilai yang kuat. Nilai spiritual/kerohanian berperan sebagai perekat sosial sekaligus pendorong etika kolektif dalam manajemen bencana.
Kajian Penelitian Sebelumnya
Kajian sebelumnya dalam penelitian ini menyoroti tiga klaster utama: (1) studi tentang model kolaborasi Helix dalam tata kelola pembangunan dan kebencanaan, (2) riset mengenai peran nilai spiritual/keagamaan dalam mitigasi bencana, serta (3) penelitian kontekstual terkait kebencanaan di Sumatera Utara.
1. Model Helix dalam Tata Kelola dan Kebencanaan
Konsep Triple Helix yang diperkenalkan oleh Etzkowitz dan Leydesdorff (2000) menekankan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri sebagai motor inovasi. Model ini kemudian berkembang menjadi Quadruple dan Penta Helix dengan memasukkan masyarakat sipil dan media sebagai aktor penting dalam pembangunan kolaboratif.
Dalam konteks kebencanaan, pendekatan multi-aktor sejalan dengan kerangka Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 yang digagas oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction. UNDRR (2015) menegaskan pentingnya partisipasi seluruh pemangku kepentingan (all-of-society approach) dalam pengurangan risiko bencana.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa model Penta Helix efektif dalam koordinasi penanggulangan bencana daerah, khususnya dalam penguatan sistem peringatan dini dan distribusi logistik (Sulaiman, 2020). Namun, sebagian besar studi tersebut belum secara eksplisit mengintegrasikan dimensi spiritual atau kerohanian sebagai elemen strategis dalam model kolaborasi. Oleh karena itu, pengembangan menuju Hepta Helix—yang memasukkan lembaga keuangan dan institusi keagamaan—menjadi relevan untuk memperluas cakupan kolaborasi kebencanaan.
2. Nilai Spiritual dan Modal Sosial dalam Mitigasi Bencana
Kajian tentang agama dan kebencanaan menunjukkan bahwa nilai spiritual memiliki peran signifikan dalam membangun ketahanan komunitas. Pargament (1997) dalam The Psychology of Religion and Coping menjelaskan bahwa spiritualitas berfungsi sebagai mekanisme coping psikologis yang membantu individu menghadapi krisis.
Di Indonesia, studi Latief (2013) mengenai peran Muhammadiyah dalam respons bencana menunjukkan bahwa jaringan keagamaan mampu mempercepat mobilisasi bantuan dan memperkuat solidaritas sosial. Hal serupa juga dilakukan oleh Nahdlatul Ulama melalui lembaga kemanusiaannya dalam berbagai bencana nasional.
Penelitian lain menegaskan bahwa rumah ibadah sering menjadi pusat evakuasi dan distribusi bantuan pada fase tanggap darurat. Nilai empati, gotong royong, dan tanggung jawab moral yang bersumber dari ajaran agama berkontribusi terhadap peningkatan social capital dan kepercayaan publik.
Namun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih menempatkan institusi keagamaan sebagai aktor pendukung, bukan sebagai bagian integral dalam desain kolaborasi kebijakan kebencanaan.
3. Studi Kebencanaan di Sumatera Utara
Sumatera Utara memiliki riwayat bencana signifikan, termasuk erupsi Gunung Sinabungsejak 2010 serta risiko gempa akibat Sesar Sumatera. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor mendominasi kejadian tahunan di wilayah ini (BNPB, 2023).
Penelitian regional yang dilakukan oleh akademisi Universitas Sumatera Utaramenyoroti pentingnya mitigasi berbasis komunitas (community-based disaster risk reduction). Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas lokal sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan informal dan nilai budaya setempat.
Meski demikian, kajian-kajian tersebut umumnya berfokus pada aspek teknis mitigasi (infrastruktur, sistem peringatan dini, dan pemetaan risiko), sementara integrasi nilai spiritual dalam model kolaborasi lintas sektor masih terbatas pembahasannya.
4. Celah Penelitian (Research Gap)
Berdasarkan telaah literatur di atas, terdapat beberapa celah penelitian:
- Minimnya integrasi eksplisit nilai spiritual dalam model Helix kebencanaan.
- Belum optimalnya perumusan model Hepta Helix yang memasukkan institusi keagamaan dan lembaga keuangan sebagai aktor strategis.
- Terbatasnya kajian kontekstual di Sumatera Utara yang mengaitkan spiritualitas dengan tata kelola kebencanaan kolaboratif.
Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menawarkan kerangka konseptual dan strategis mengenai transformasi peran nilai spiritual dalam kolaborasi Hepta Helix guna memperkuat mitigasi dan manajemen bencana di Sumatera Utara.
State of the Art
Kajian state of the art dalam penelitian ini memetakan perkembangan mutakhir pada tiga domain utama: (1) evolusi model kolaborasi Helix dalam tata kelola kebencanaan, (2) integrasi nilai spiritual dalam disaster risk reduction, dan (3) inovasi kebijakan kebencanaan kontekstual di Sumatera Utara.
1. Evolusi Model Helix Menuju Hepta Helix
Perkembangan teori inovasi kolaboratif menunjukkan pergeseran dari model Triple Helix (pemerintah–akademisi–industri) menuju model yang lebih inklusif. Kerangka ini diperluas menjadi Quadruple dan Penta Helixdengan memasukkan masyarakat sipil dan media sebagai aktor strategis.
Dalam konteks global, pendekatan multi-stakeholder disaster governance ditegaskan dalam Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction, yang menekankan partisipasi seluruh elemen masyarakat (all-of-society approach).
State of the art saat ini menunjukkan kecenderungan integrasi sektor keuangan dan lembaga keagamaan dalam pengelolaan risiko bencana, terutama dalam isu risk financing, asuransi mikro, dan pembiayaan berbasis komunitas. Dengan demikian, model Hepta Helix menjadi pengembangan konseptual terbaru yang menempatkan:
- Pemerintah
- Akademisi
- Dunia usaha
- Komunitas
- Media
- Lembaga keuangan
- Institusi keagamaan
sebagai simpul kolaborasi sistemik.
2. Spiritualitas dan Resiliensi Komunitas
Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa dimensi spiritual tidak lagi dipandang sekadar aspek psikologis individual, melainkan sebagai collective resilience capital.
Studi Pargament (1997) menjadi fondasi teoretis mengenai religious coping, sementara riset mutakhir di Indonesia memperlihatkan peran aktif organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam respons kemanusiaan berbasis komunitas (Latief, 2013).
Tren terbaru menunjukkan:
- Rumah ibadah sebagai pusat evakuasi dan logistik darurat.
- Dakwah/khutbah sebagai media edukasi mitigasi risiko.
- Kolaborasi lintas iman dalam relawan kebencanaan.
Pendekatan ini memperluas konsep community-based disaster risk reduction (CBDRR)dengan menambahkan dimensi faith-based resilience.
3. Inovasi Kebencanaan di Sumatera Utara
Penutup
Sumatera Utara memiliki karakteristik risiko bencana kompleks, termasuk aktivitas vulkanik Gunung Sinabung dan potensi gempa akibat Sesar Sumatera. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan dominasi bencana hidrometeorologis dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan mutakhir di tingkat daerah meliputi:
- Digitalisasi sistem peringatan dini berbasis komunitas.
- Penguatan Desa Tangguh Bencana.
- Integrasi riset kebencanaan oleh Universitas Sumatera Utara.
Namun, inovasi tersebut masih dominan pada aspek teknis dan kelembagaan formal. Integrasi eksplisit nilai spiritual dalam kerangka kolaboratif lintas sektor masih belum menjadi arus utama kebijakan.
4. Novelty dan Kontribusi Penelitian
Berdasarkan perkembangan terkini, penelitian ini menawarkan kebaruan (novelty) sebagai berikut:
- Integrasi sistemik nilai spiritual dalam model Hepta Helix, bukan hanya sebagai variabel sosial tambahan.
- Reposisi institusi keagamaan sebagai aktor strategis kebijakan, bukan sekadar mitra respons darurat.
- Pendekatan kontekstual Sumatera Utara, dengan mengaitkan karakter risiko geologis dan kekuatan modal sosial religius lokal.
- Model transformasi nilai ke dalam kebijakan publik kebencanaan, melalui regulasi, pendidikan, dan pembiayaan berbasis solidaritas.
Dengan demikian, state of the art penelitian ini terletak pada sintesis antara tata kelola kolaboratif modern dan dimensi spiritual sebagai fondasi etis-resiliensi dalam mitigasi dan manajemen bencana. Pendekatan ini memperkaya diskursus kebencanaan dengan menghadirkan paradigma bahwa keberhasilan mitigasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan regulasi, tetapi juga oleh transformasi nilai kolektif masyarakat.
Literatur Review
Literatur review ini mengkaji perkembangan teori dan temuan empiris terkait: (1) tata kelola kolaboratif berbasis model Helix, (2) nilai spiritual/kerohanian dalam mitigasi bencana, serta (3) konteks kebencanaan di Sumatera Utara. Tinjauan ini menjadi dasar konseptual dalam merumuskan strategi transformasi nilai spiritual dalam kolaborasi Hepta Helix.
1. Teori Kolaborasi Multi-Helix dalam Tata Kelola
Konsep Triple Helix yang diperkenalkan oleh Etzkowitz dan Leydesdorff (2000) menekankan interaksi dinamis antara pemerintah, akademisi, dan industri sebagai penggerak inovasi. Perkembangan teori ini melahirkan model Quadruple dan Penta Helix, yang menambahkan masyarakat sipil dan media sebagai aktor strategis dalam pembangunan partisipatif.
Dalam konteks kebencanaan, pendekatan kolaboratif diperkuat oleh Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 yang diinisiasi oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction. Kerangka ini menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan (all-of-society approach) dalam pengurangan risiko bencana (UNDRR, 2015).
Di Indonesia, studi mengenai model Penta Helixmenunjukkan efektivitas koordinasi lintas sektor dalam respons dan pemulihan bencana, terutama melalui integrasi pemerintah daerah, dunia usaha, dan komunitas lokal (Sulaiman, 2020). Namun, sebagian besar penelitian tersebut belum mengkaji secara mendalam integrasi lembaga keagamaan dan lembaga keuangan sebagai aktor utama, yang kemudian berkembang menjadi model Hepta Helix.
2. Spiritualitas, Modal Sosial, dan Ketahanan Komunitas
Literatur psikologi agama menempatkan spiritualitas sebagai mekanisme coping dalam menghadapi krisis. Pargament (1997) menjelaskan bahwa keyakinan religius dapat meningkatkan makna hidup, optimisme, dan ketahanan psikologis korban bencana.
Dalam konteks Indonesia, Latief (2013) menunjukkan bagaimana Muhammadiyahmembangun sistem respons kemanusiaan berbasis jaringan sosial dan nilai keagamaan. Peran serupa juga dilakukan oleh Nahdlatul Ulama melalui lembaga-lembaga kebencanaan dan relawan lintas daerah.
Penelitian lain menegaskan bahwa rumah ibadah sering menjadi pusat evakuasi dan distribusi bantuan dalam fase tanggap darurat. Nilai solidaritas, empati, dan tanggung jawab moral yang bersumber dari ajaran agama memperkuat social capital (Putnam, 2000), yang berkontribusi terhadap percepatan pemulihan pascabencana.
Namun demikian, sebagian besar literatur masih memposisikan agama sebagai faktor sosial pendukung, bukan sebagai elemen strategis dalam desain kebijakan kebencanaan kolaboratif.
3. Manajemen Risiko dan Kebencanaan di Sumatera Utara
Sumatera Utara memiliki kompleksitas risiko bencana akibat faktor geologis dan hidrometeorologis. Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung sejak 2010 menjadi salah satu peristiwa signifikan dalam sejarah kebencanaan daerah. Selain itu, potensi gempa akibat Sesar Sumatera dan banjir musiman memperkuat urgensi mitigasi berbasis komunitas.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan tren dominasi bencana hidrometeorologis dalam satu dekade terakhir (BNPB, 2023). Sementara itu, BMKG berperan dalam sistem peringatan dini gempa dan cuaca ekstrem.
Kajian akademik oleh Universitas Sumatera Utara menyoroti pentingnya pendekatan community-based disaster risk reduction (CBDRR), terutama dalam meningkatkan kapasitas desa tangguh bencana. Meskipun demikian, integrasi nilai spiritual dalam kerangka formal kebijakan daerah masih relatif terbatas.
4. Sintesis Literatur
Berdasarkan kajian literatur, terdapat beberapa temuan utama:
- Model Helix berkembang menuju bentuk yang semakin inklusif, tetapi belum sepenuhnya mengintegrasikan dimensi spiritual secara sistemik.
- Nilai spiritual terbukti memperkuat ketahanan psikologis dan sosial masyarakat terdampak bencana.
- Konteks Sumatera Utara menunjukkan kebutuhan pendekatan kolaboratif yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga berbasis nilai sosial dan budaya lokal.
Dengan demikian, literatur yang ada membuka ruang bagi integrasi nilai spiritual/kerohanian dalam model Hepta Helix sebagai strategi inovatif dalam mitigasi dan manajemen bencana di Sumatera Utara.
Kerangka Teoretis
1 Konsep Hepta Helix
Model Hepta Helix merupakan pengembangan dari Triple Helix (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000) yang melibatkan tujuh aktor utama:
- Pemerintah
- Akademisi
- Dunia usaha
- Komunitas/masyarakat
- Media
- Lembaga keuangan
- Institusi keagamaan
Dalam konteks kebencanaan, pendekatan ini sejalan dengan kerangka Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 yang dipromosikan oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR, 2015).
2 Nilai Spiritual dalam Mitigasi Bencana
Nilai spiritual mencakup:
- Empati dan solidaritas
- Kesadaran kolektif
- Tanggung jawab moral
- Ketangguhan batin (inner resilience)
Institusi keagamaan seperti Muhammadiyahdan Nahdlatul Ulama telah menunjukkan kontribusi signifikan dalam respons kemanusiaan dan mitigasi berbasis komunitas (Latief, 2013). Nilai kerohanian memperkuat modal sosial (social capital) yang sangat penting dalam fase tanggap darurat dan pemulihan.
Transformasi Peran Nilai Spiritual dalam Hepta Helix
1 Pada Level Pemerintah
Pemerintah daerah bersama BMKG dapat mengintegrasikan pendekatan berbasis kearifan lokal dan nilai religius dalam sosialisasi mitigasi bencana. Edukasi kebencanaan yang dikaitkan dengan pesan moral keagamaan lebih mudah diterima masyarakat.
2 Pada Level Akademisi
Institusi seperti Universitas Sumatera Utaraberperan dalam:
- Riset risiko bencana
- Pengembangan kurikulum mitigasi berbasis nilai
- Pengabdian masyarakat berbasis spiritual resilience
Kajian interdisipliner menunjukkan bahwa dimensi spiritual meningkatkan coping mechanism korban bencana (Pargament, 1997).
3 Pada Level Dunia Usaha & Keuangan
Corporate Social Responsibility (CSR) dapat diarahkan pada:
- Pembangunan infrastruktur tangguh bencana
- Dukungan logistik berbasis solidaritas kemanusiaan
- Skema pembiayaan mikro berbasis komunitas
Nilai spiritual mendorong praktik bisnis beretika dan keberlanjutan.
4 Pada Level Komunitas & Media
Komunitas berbasis rumah ibadah menjadi pusat edukasi mitigasi. Media lokal berperan dalam menyebarkan narasi optimisme, solidaritas, dan edukasi risiko, bukan sekadar sensasionalisme bencana.
Dampak Strategis terhadap Disaster Management
Integrasi nilai spiritual dalam Hepta Helix memberikan dampak berikut:
1 . Peningkatan Resiliensi Sosial
Nilai kerohanian memperkuat kepercayaan sosial (social trust) dan gotong royong, yang terbukti mempercepat proses pemulihan pascabencana.
2. Efektivitas Mitigasi
Pendekatan berbasis nilai meningkatkan partisipasi masyarakat dalam simulasi dan pelatihan kebencanaan.
3. Pengurangan Risiko Jangka Panjang
Internalisasi nilai tanggung jawab ekologis mendorong perilaku ramah lingkungan, sehingga menekan risiko bencana hidrometeorologis.
Strategi Implementatif di Sumatera Utara
- Integrasi Kurikulum Mitigasi Berbasis Spiritual di sekolah dan perguruan tinggi.
- Pelatihan Relawan Lintas Iman untuk membangun solidaritas inklusif.
- Forum Hepta Helix Kebencanaan Daerah sebagai wadah koordinasi rutin.
- Digitalisasi Early Warning System berbasis komunitas religius.
- Penguatan Regulasi Daerah yang mengakomodasi partisipasi institusi keagamaan dalam sistem penanggulangan bencana.
Kesimpulan
Mitigasi dan manajemen bencana di Sumatera Utara menghadapi tantangan multidimensional akibat faktor geologis, hidrometeorologis, dan sosial-budaya. Selama ini, pendekatan kebencanaan cenderung berorientasi teknokratis melalui sistem peringatan dini, infrastruktur, dan regulasi formal yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan pemerintah daerah.
Namun demikian, dinamika sosial masyarakat Sumatera Utara yang religius dan memiliki modal sosial kuat menunjukkan bahwa nilai spiritual/kerohanian memiliki potensi strategis sebagai penguat resiliensi. Transformasi nilai spiritual dalam kerangka kolaborasi Hepta Helix—yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, lembaga keuangan, dan institusi keagamaan—mampu memperluas dimensi mitigasi dari sekadar pengurangan risiko menjadi pembangunan ketahanan kolektif (collective resilience).
Dengan demikian, spiritualitas tidak hanya berfungsi sebagai penguat psikologis individu, tetapi sebagai energi sosial yang memperkokoh koordinasi lintas sektor, solidaritas kemanusiaan, dan keberlanjutan kebijakan kebencanaan.
Saran
Berdasarkan hasil kajian, beberapa saran yang dapat diajukan adalah:
- Integrasi nilai spiritual dalam kebijakan daerah melalui peraturan gubernur atau peraturan daerah yang mengakomodasi peran institusi keagamaan dalam mitigasi dan tanggap darurat.
- Penguatan edukasi mitigasi berbasis rumah ibadah, sehingga pesan kebencanaan disampaikan bersamaan dengan pesan moral dan etika lingkungan.
- Kolaborasi riset interdisipliner antara perguruan tinggi seperti Universitas Sumatera Utara dan lembaga kebencanaan daerah untuk mengembangkan model spiritual-based disaster resilience.
- Pelatihan relawan lintas iman dan lintas sektor, guna memperkuat solidaritas sosial dalam kondisi darurat.
- Digitalisasi dan literasi kebencanaan berbasis komunitas, dengan melibatkan media lokal sebagai agen edukasi publik.
Rekomendasi Strategis
Untuk implementasi jangka menengah dan panjang, direkomendasikan:
- Pembentukan Forum Hepta Helix Kebencanaan Provinsi, yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, lembaga keuangan, komunitas, dan institusi keagamaan.
- Pengembangan skema pembiayaan risiko berbasis solidaritas sosial, termasuk asuransi mikro dan dana tanggap darurat berbasis komunitas.
- Integrasi program mitigasi dalam agenda pembangunan daerah (RPJMD)agar nilai spiritual dan sosial menjadi bagian dari perencanaan pembangunan berkelanjutan.
- Sinergi dengan kerangka global seperti Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 yang dipromosikan oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction, dengan adaptasi kontekstual lokal.
- Penguatan peran tokoh agama sebagai agen perubahan perilaku, terutama dalam isu lingkungan, konservasi, dan kesiapsiagaan bencana.
Implikasi
1. Implikasi Teoretis
Penelitian ini memperluas diskursus disaster governance dengan memasukkan dimensi spiritual sebagai variabel strategis dalam model Hepta Helix. Hal ini memperkaya teori kolaborasi multi-aktor dengan pendekatan nilai (value-based governance).
2. Implikasi Kebijakan
Pemerintah daerah dapat mengadopsi pendekatan berbasis nilai spiritual dalam desain kebijakan mitigasi, sehingga kebijakan tidak hanya normatif-administratif tetapi juga partisipatif dan berbasis budaya lokal.
3. Implikasi Sosial
Penguatan nilai empati, gotong royong, dan tanggung jawab ekologis akan meningkatkan kohesi sosial dan mempercepat proses pemulihan pascabencana.
4. Implikasi Praktis
Institusi keagamaan, dunia usaha, dan komunitas dapat menjadi pusat edukasi, logistik, dan pembiayaan darurat yang terintegrasi dengan sistem formal kebencanaan.
Penegasan Akhir
Transformasi peran nilai spiritual dalam kolaborasi Hepta Helix bukan sekadar pendekatan alternatif, melainkan kebutuhan strategis dalam membangun sistem mitigasi dan manajemen bencana yang berkelanjutan di Sumatera Utara. Dengan fondasi nilai yang kuat, teknologi dan regulasi akan memiliki daya dorong sosial yang lebih efektif dalam menciptakan masyarakat tangguh bencana.(ms2)
+++
*Tentang Tim Peneliti:
1. Kolonel CAJ (Purn.) Dr. H. Asren Nasution, M.A. (lahir 19 Oktober 1965) merupakan seorang prajurit TNI-AD yang beralih status sebagai Pegawai Negeri Sipil sejak 26 Juli 2011 dan pernah menjabat sebagai Pejabat Bupati Pakpak Bharat sejak 17 Januari 2019 hingga 17 Januari 2021; Jabatan yang pernah Beliau geluti dalam Bidang Militer yaitu (Perwira Urusan Pembinaan Mental Korem 162/WB Kodam IX/Udayana (1988),Kepala Penerangan Korem 162/WB Kodam IX/Udayana (1990), Kepala Pembinaan Mental Korem 162/WB Kodam IX/Udayana (1991), Kepala Seksi Pembinaan Rohani Islam Bintaldam I/Bukit Barisan (1999), Kepala Staf Distrik Militer 0313/Kampar Korem 031/WB Kodam I/Bukit Barisan (2001), Anggota DPRD Kabupaten Kampar (2003), Kepala Seksi Penerangan dan Media Massa Kodam I/Bukit Barisan (2004), Kepala Pembinaan Mental Daerah Militer (Kabintaldam) I/Bukit Barisan (2006), Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) I/Bukit Barisan (2008), Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) (2010) , dan bidang Sipil (Kepala Dinas komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Utara (2011 – 2013), Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Utara (2013 – 2014), Staf Ahli Gubernur Sumatera Utara Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan Kemisikinan (2014 – 2017), Plt. Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara (2015 – 2016),Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Sumatera Utara (2017 -2018), Staf Ahli Gubernur Sumatera Utara Bidang Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Pemberdayaan Masyarakat (2018 – 2020), Pj. Bupati Pakpak Bharat (2019-2021), Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumatera Utara (2020 – 2022),Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (2022 – 2024)[2], Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara 2024 – 2025, Akademisi (2026-sekarang). Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Nasution dohot Anak Boruna (Ikanas) Sumatera Utara).
2. Ir. Aris Fadhila Acheen, Tenaga Ahli Komisi E DPRD Sumatera Utara Fraksi Partai Gerindra).
3. Khaidir Sinaga AP, Kepala Bidang Analisis Pencegahan Bencana, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah ) Provinsi Sumatera Utara
4. Assoc. Prof. Dr. Puji Santoso, S.S., M.S.P (Editor in chief kliksumut.com), pernah sebagai Wartawan Waspada, Metro TV dan juga sekarang Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.(UMSU)-Medan.
5. Kiyai Khalifah Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir USU-Medan), Mantan Pensyarah Fizik Kejuruteraan / Teknik Maritim Universitas Malaysia Terengganu (UMT) Kuala Terengganu Malaysia, Dosen Fakultas Kedokteran (FK) / Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI) (Salemba) dan Manager Pusat Data & Informasi (EDIC = Engineering Data Information & Communication) – Data Mining 4 Mitigation & Disaster Management – Engineering Centre – Fakultas Teknik UI-Depok. Dalam laporan penelitian ini, ia sebagai penulis.
Leave a comment