Dalam kehidupan sehari-hari, keyakinan kepada takdir membentuk pribadi yang kuat dan matang secara spiritual. Ketika cita-cita belum tercapai, ia bersabar. Ketika harapan terwujud, ia bersyukur.
Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Sebagai seorang Muslim, saya meyakini bahwa takdir (qada dan qadar) adalah bagian tak terpisahkan dari rukun iman. Iman kepada takdir bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang bersemayam dalam hati bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berada dalam ilmu dan ketetapan Allah SWT
Dalam perspektif spiritual Islam, takdir mengajarkan ketundukan total kepada kehendak Ilahi. Allah telah mengetahui, mencatat, dan menetapkan seluruh perjalanan hidup manusia bahkan sebelum ia dilahirkan. Keyakinan ini tidak menjadikan seorang Muslim pasif, melainkan justru aktif dalam berikhtiar. Sebab Islam tidak mengajarkan fatalisme. Rasulullah ﷺ bersabda agar kita berusaha, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya.
Spirit iman kepada takdir melahirkan tiga sikap utama dalam jiwa seorang Mukmin.
Pertama, ketenangan (thuma’ninah). Ketika menghadapi musibah, ia tidak mudah berputus asa, karena ia sadar bahwa semua telah berada dalam rencana Allah yang Maha Bijaksana. Ia memahami firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 22 bahwa tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Kesadaran ini membuat hati lebih lapang dan tidak larut dalam kesedihan berlebihan.
Kedua, kerendahan hati (tawadhu’). Ketika memperoleh keberhasilan, ia tidak sombong, karena ia menyadari bahwa keberhasilan itu bukan semata hasil kecerdasan dan kerja kerasnya, tetapi juga karena izin dan karunia Allah. Takdir menjaga seorang Muslim dari penyakit hati seperti ujub dan takabur.
Ketiga, optimisme dan tawakal. Iman kepada takdir justru membangkitkan keberanian untuk melangkah. Seorang Muslim berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia memahami bahwa yang terbaik menurutnya belum tentu terbaik menurut Allah, dan sebaliknya. Dalam setiap doa dan sujudnya, ia memohon agar ditakdirkan kebaikan di dunia dan akhirat.
Dalam kehidupan sehari-hari, keyakinan kepada takdir membentuk pribadi yang kuat dan matang secara spiritual. Ketika cita-cita belum tercapai, ia bersabar. Ketika harapan terwujud, ia bersyukur. Ketika diuji, ia yakin bahwa di balik ujian terdapat hikmah yang mungkin belum terlihat.
Akhirnya, iman kepada takdir adalah tentang kepercayaan penuh kepada kebijaksanaan Allah. Ia bukan alasan untuk berhenti berjuang, tetapi fondasi untuk tetap teguh dalam setiap keadaan. Seorang Muslim berjalan di bumi dengan usaha di tangan dan tawakal di hati, meyakini bahwa apa yang ditakdirkan tidak akan pernah tertukar, dan apa yang bukan untuknya tidak akan pernah menjadi miliknya.
Itulah ketenangan terdalam seorang hamba: percaya bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan sesuatu.
Leave a comment