Kadang-kadang orang itu bukan bingung. Tapi takut salah. Makanya jawabannya selalu terserah.
Oleh: Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Ada satu kata yang ingin kuhapus dari dunia ini: terserah.
Kata itu sederhana. Pendek. Tidak kasar. Tapi diam-diam ia bisa membuat seseorang kehilangan arah tanpa terasa.
Sore itu di Kota Tangerang, langit berwarna jingga. Azan magrib belum berkumandang. Aroma kolak dari dapur tetangga menyeruak bersama wangi gorengan yang baru diangkat dari wajan.
Corry berdiri di dapur, menatapku dari balik uap air panas.
“Ayah maunya takjil apa nanti? Kolak atau gorengan?” tanyanya ringan.
Pertanyaan sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk dipikir lama.
Aku mengangkat bahu. “Terserah.”
Corry terdiam sebentar. Lalu tersenyum tipis. Tapi aku tahu, jawaban itu bukan yang ia harapkan.
Padahal dalam hati, aku sebenarnya ingin kolak. Hangat. Manis. Dengan potongan pisang dan ubi yang lembut. Tapi entah kenapa, memilih terasa seperti beban. Seolah keputusan sekecil itu pun harus kuhindari.
Dan aku sadar, kata itu bukan hanya muncul soal takjil.
Beberapa bulan sebelumnya, Oyok datang dengan semangat yang sama hangatnya seperti gorengan di waktu berbuka.
“Kita jualan minyak goreng merek Sodara. Pasarnya jelas. Kota Tangerang lagi berkembang. Warung-warung butuh suplai rutin. Kita bisa masuk dari bawah dulu.”
Ia menjelaskan panjang lebar tentang distribusi, margin keuntungan, dan peluang reseller. Matanya menyala.
“Kamu ikut nggak?” tanyanya mantap.
Aku hampir menjawab seperti biasa.
“Terserah…”
Kata itu lagi. Seperti refleks. Seperti pelarian instan dari tanggung jawab.
Padahal jauh di dalam diri, aku tahu ini peluang. Kota ini tak pernah benar-benar diam. Pasar Anyar selalu ramai. Gang-gang kecil selalu punya cerita usaha kecil yang bertahan karena keberanian.
Tapi aku? Aku sering berdiri di persimpangan tanpa pernah benar-benar memilih arah.
Malam itu, sebelum azan magrib, istriku Corry duduk di sampingku.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “kadang orang itu bukan bingung. Tapi takut salah. Makanya jawabannya selalu terserah.”
Aku terdiam.
Kalimat itu seperti cermin.
Aku sadar, selama ini aku memakai kata itu sebagai tameng. Dengan “terserah”, aku merasa tidak akan disalahkan. Jika kolak terlalu manis, itu bukan pilihanku. Jika usaha gagal, aku tak pernah benar-benar memutuskan ikut.
Tapi hidup bukan soal menghindari salah. Hidup adalah tentang berani menentukan.
Azan magrib akhirnya berkumandang. Corry, istriku menyodorkan semangkuk kolak ke hadapanku.
“Aku pilihkan kolak,” katanya lembut. “Tapi lain kali, kamu yang memilih.”
Manis kolak itu terasa berbeda. Bukan hanya karena gula aren, tapi karena ada rasa malu yang larut bersamanya.
Keesokan harinya aku menemui Oyok, Mitra usahaku.
“Aku ikut,” kataku tegas. “Kita kembangkan distribusinya. Aku pegang pembukuan dan perluas jaringan.”
Oyok, mitra bisnisku tersenyum lebar. “Nah, itu baru keputusan.”
Sejak saat itu, hidupku berubah perlahan. Bukan karena bisnis minyak goreng Sodara langsung besar, bukan karena keuntungan langsung melimpah. Tapi karena aku berhenti bersembunyi di balik satu kata kecil.
Kini setiap Corry, istriku bertanya, “Kolak atau gorengan?”
Aku menjawab, “Kolak.”
Sederhana. Tapi penuh makna.
Andai aku bisa menghapus satu kata dari dunia ini, tetaplah “terserah” yang akan kupilih.
Karena sering kali, yang membuat kita tak maju bukan kurangnya peluang–melainkan kebiasaan untuk tidak pernah benar-benar memilih.(*)
Leave a comment