Jika kita memilih berbeda-memilah sampah dari rumah, mengurangi plastik sekali pakai, menghidupkan kerja bakti, mengawasi pengelolaan lingkungan secara bersama—maka enam bulan ke depan bisa menjadi awal perubahan.


Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang— Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Sambil menunggu azan magrib waktu berbuka, aku duduk di teras rumahku di Kota Tangerang. Langit berwarna jingga keabu-abuan. Angin sore membawa aroma tanah yang masih basah oleh hujan siang tadi.

Aku membayangkan jalan-jalan yang setiap hari kulewati. Tumpukan sampah di sudut gang. Plastik-plastik yang tersangkut di pagar sungai. Parit yang menghitam karena limbah rumah tangga. Semua seperti bom waktu yang menunggu musim hujan tiba.

Di atas meja kecil telah tersedia teh manis hangat dan beberapa potong pisang goreng. Namun pikiranku tidak sedang berada di situ. Ia melayang pada satu pertanyaan yang terus menggangguku:

Enam bulan ke depan, kota ini akan menjadi apa?

Bagaimana jika penanganan sampah tetap seperti ini?
Bagaimana jika kita terus menganggapnya sebagai urusan pemerintah semata?
Bagaimana jika kita tidak pernah benar-benar merasa bahwa persoalan persampahan adalah persoalan kita bersama?

Angin bertiup lebih kencang. Dalam imajinasiku, hujan turun deras selama berhari-hari. Kali-kali kecil tak lagi mampu menahan debit air. Sungai meluap, membawa serta plastik, styrofoam, dan sampah rumah tangga yang selama ini kita buang tanpa rasa bersalah. Parit-parit tersumbat. Trotoar-trotoar berubah menjadi aliran air cokelat yang keruh.

Aku membayangkan anak-anak tak bisa berangkat sekolah. Pedagang kecil kehilangan dagangan. Rumah-rumah terendam. Dan kita semua kembali saling menyalahkan.

Padahal, bencana sering kali bukan hanya soal alam. Ia adalah akumulasi dari kelalaian.

Aku bertanya lagi pada diriku sendiri:

Apakah kebahagiaan kolektif yang sering kubicarakan itu berhenti pada wacana global?
Ataukah ia justru dimulai dari persoalan sederhana seperti sampah di depan rumah sendiri?

Langit semakin gelap. Suara kendaraan di kejauhan terdengar seperti gelombang yang tak pernah berhenti. Kota ini tumbuh cepat—perumahan baru, pusat perbelanjaan, bangunan bertingkat. Namun apakah kesadaran warganya tumbuh secepat itu?

Aku sadar, strategi kebahagiaan kolektif bukan hanya tentang hubungan antarnegara. Ia juga tentang hubungan antarwarga satu kota.

Jika dalam enam bulan ke depan kita tetap abai, maka yang akan kita warisi bukan kemajuan, melainkan genangan dan penyesalan.

Namun jika kita memilih berbeda-memilah sampah dari rumah, mengurangi plastik sekali pakai, menghidupkan kerja bakti, mengawasi pengelolaan lingkungan secara bersama—maka enam bulan ke depan bisa menjadi awal perubahan.

Masalah sampah sesungguhnya adalah cermin dari cara kita memandang tanggung jawab. Apakah kita hanya berkata “ini bukan urusanku”? Atau kita berani berkata, “ini kota kita”?

Tiba-tiba terdengar suara azan magrib berkumandang dari masjid dekat rumah. Suaranya lembut namun tegas, memecah lamunan.

Aku mengangkat gelas teh manis, tetapi sebelum meneguknya, aku berbisik dalam hati:

Ya Tuhan, jadikan aku bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Karena aku mulai memahami satu hal-Kota tidak pernah benar-benar gagal sendirian. Ia hanya mencerminkan warganya.

Dan masa depan Kota Tangerang enam bulan ke depan, sesungguhnya sedang diputuskan hari ini—oleh kita semua.

Leave a comment