Jangan hanya menikmati kebersamaan mereka. Bangunlah mimpi bersama mereka


Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Banjar Wijaya, Kota Tangerang- Indonesia

Teman Alumni SMA Pandeglang, angkt 1979

Di masa remajaku, ada empat orang sahabat yang selalu mengisi hari-hariku: Nandang, Bustomi, Desul, dan Engkos. Kami seperti empat mata angin yang berbeda arah, tetapi selalu bertemu di satu titik—persahabatan.

Nandang adalah yang paling tenang. Ia jarang banyak bicara, tetapi sekali berbicara, kalimatnya seperti nasihat tak tertulis. Ia suka membaca diam-diam, membawa buku tipis ke mana pun pergi. Sering kali kami mengejeknya “ustaz” karena kebiasaannya itu, tapi diam-diam aku tahu ia memiliki pandangan yang lebih jauh dari kami semua.

Bustomi adalah sumber tawa. Jika suasana mulai tegang, dialah yang memecahkannya. Candanya kadang sederhana, kadang garing, tapi selalu berhasil membuat kami tertawa terpingkal-pingkal di bangku belakang kelas.

Desul penuh energi. Ia tak bisa diam. Selalu punya ide, entah itu bermain bola dadakan di lapangan sekolah atau mengajak kami naik motor tanpa tujuan jelas, hanya untuk melihat senja di ujung jalan.

Dan Engkos—ia setia. Sederhana, tulus, dan selalu ada. Jika salah satu dari kami punya masalah, Engkoslah yang paling pertama datang tanpa banyak tanya.

Kami berlima sering duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah, membicarakan masa depan seolah-olah kami sudah memegang peta kehidupan. “Nanti kita sukses bareng-bareng,” kata Desul suatu sore. Kami mengangguk mantap, walau tak satu pun benar-benar tahu bagaimana caranya.

Namun waktu, seperti biasa, berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Setelah lulus, hidup mulai membentangkan jalannya masing-masing. Ada yang bekerja lebih cepat, ada yang melanjutkan sekolah, ada yang masih mencari arah. Kami tak lagi sering duduk di bawah pohon itu. Percakapan panjang berubah menjadi pesan singkat yang kadang hanya berisi, “Sehat?”

Suatu malam, aku merenung. Andaikan waktu remajaku berpulang kembali, apa yang akan kuubah?

Aku tidak ingin mengganti mereka. Tidak ingin menukar Nandang dengan siapa pun, atau menukar tawa Bustomi, energi Desul, dan kesetiaan Engkos. Mereka adalah warna masa mudaku. Namun, mungkin aku akan lebih peka melihat potensi di antara kami.

Aku akan lebih sering mengajak Nandang berdiskusi serius tentang mimpi-mimpi kami. Aku akan mendorong Bustomi menyalurkan kecerdasannya, karena di balik candaannya, ia sebenarnya tajam. Aku akan membantu Desul memfokuskan energinya agar tidak hanya habis di jalanan sore. Dan aku akan meyakinkan Engkos bahwa ketulusannya adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Karena kini aku mengerti, sahabat bukan hanya teman berbagi waktu, tetapi juga teman bertumbuh. Persahabatan bukan sekadar tentang kebersamaan, melainkan tentang saling mendorong agar tidak berhenti di tempat.

Waktu memang tak bisa kembali. Pohon besar itu mungkin masih berdiri, tapi kami sudah berubah. Namun kenangan tentang Nandang, Bustomi, Desul, dan Engkos tetap hidup—sebagai pengingat bahwa di setiap fase kehidupan, kita diberi kesempatan untuk memilih: hanya berjalan bersama, atau bertumbuh bersama.

Dan jika hari ini aku bisa memberi pesan pada diriku yang remaja, pesannya sederhana:
“Jangan hanya menikmati kebersamaan mereka. Bangunlah mimpi bersama mereka.”

Leave a comment