Oleh: Solideo Kristian Padang, (Mahasiswa Fisika USU, Medan), dan Dosen Pembimbingnya, Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, (Penulis, Dosen Elektronika Dasar 2, Fisika FMIPA USU)

Sekapur Sirih,
Pernahkah Anda merasa sudah rajin menyiram tanaman hias di teras, tapi mereka tetap layu ?, atau mungkin Anda sering lupa menyiram saat akhir pekan hingga tanaman kesayangan berakhir tragis ?.
Masalahnya ternyata sederhana: Tanaman tidak butuh jadwal, mereka butuh air di saat yang tepat. Di tengah krisis iklim dan cuaca Medan yang makin tidak menentu, tim peneliti dari Fisika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU) yang terdiri dari Solideo Kristian Padang (Mahasiswa NIM: 240801012) & Muhammad Sontang Sihotang (Pembimbing), menciptakan solusi cerdas : Sistem penyiram otomatis berbasis sensor.
Mengapa “Sistem Jadwal” Sudah Ketinggalan Zaman?
Kebanyakan dari kita (termasuk petugas taman di kampus) menyiram tanaman berdasarkan jam. Padahal, kebutuhan air tanaman berubah-ubah tergantung suhu & kelembaban udara.
- Saat mendung : Tanah masih basah, tapi tetap disiram (Pemborosan air !).
- Saat panas terik : Tanah kering kerontang sebelum jadwal siram tiba (Tanaman stres !).
- Saat libur : Tanaman ditinggal tanpa suplai air sama sekali.
Inilah alasan mengapa kita butuh Pertanian Presisi ; sebuah konsep keren di mana kita memberi air hanya saat tanaman benar-benar membutuhkannya.

Sistem ini bekerja dengan logika yang sangat manusiawi :
- Mendeteksi : Sensor mengecek kadar air dalam tanah secara real-time.
- Berpikir : Otak sistem (Arduino Uno) membaca data tersebut. Jika tanah terdeteksi kering (di bawah batas haus), ia akan memberi perintah.
- Bertindak : Pompa otomatis menyala, menyiram tanaman selama 10 detik, lalu berhenti sendiri saat tanah sudah cukup lembap.
“Tanaman itu lebih rasional dari manusia. Mereka tidak butuh ‘mood’ untuk minum ; mereka hanya butuh air saat sel-selnya mulai haus.”
Komponen Murah, Hasil Mewah
Kabar baiknya, teknologi ini tidak harus mahal. Tim Fisika FMIPA USU merancang sistem ini dengan komponen yang mudah ditemukan di toko elektronik atau marketplace:
- Arduino Uno : Si otak pintar yang mengendalikan semuanya.
- Sensor YL-69 : Si pendeteksi haus.
- Modul Relay : Saklar otomatis untuk menyalakan pompa.
- Layar LCD : Panel informasi yang menunjukkan status “Tanaman Basah” atau “Tanaman Kering”.
Sistem ini bukan cuma soal gaya-gayaan. Riset menunjukkan bahwa teknologi berbasis IoT (Internet of Things) seperti ini mampu menghemat air hingga 30–50 % & meningkatkan pertumbuhan tanaman hingga 18 % karena mereka tidak pernah stres kekurangan air.
Solusi untuk Kampus Hijau & Rumah Tangga

Implementasi awal nantinya akan dilakukan pada tanaman hias (taman) di area kampus USU.
Hasilnya ? Petugas taman tak perlu lagi keliling setiap saat & tanaman tetap segar meski di hari libur.
Teknologi ini adalah bukti bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari laboratorium raksasa dengan biaya miliaran. Dengan komponen lokal & kreativitas mahasiswa FISIKA USU, kita bisa menjawab tantangan krisis air global sekaligus mendukung program Smart Campus& Smart Village di Indonesia serta mendukung Program Pembangunan Dunia salah satu dari 17 indicator SDG’s (Sustainable Development Goals).
Kesimpulan: Masa Depan Ada di Data
Ke depan, sistem ini bisa dikoneksikan ke smartphone Anda via Wi-Fi. Jadi, sambil rebahan di rumah, Anda bisa memantau apakah tanaman di kantor sudah “minum” atau belum.
Mari berhenti menebak-nebak kebutuhan tanaman. Mulailah menyiram dengan data, bukan sekadar kebiasaan. Karena pada akhirnya, tanaman yang bahagia adalah tanaman yang dirawat dengan presisi. (*)
Leave a comment