Sebuah poci tanah liat berisi teh melati panas. Pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Pisang rebus yang masih mengepul lembut.


Oleh: Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, tinggal di Kota Tangerang- Indonesia

Teh poci, pisang goreng, dan camilan lainnya

Menjelang berbuka puasa hari ke-3 waktu terasa berbeda. Jam seperti berjalan lebih pelan, tapi detiknya justru terasa lebih panjang. Perut mungkin lapar, tenggorokan mungkin kering, tapi hati—anehnya—justru lebih peka.

Sore itu aku sudah duduk di teras sejak pukul lima lewat. Langit mulai berubah warna. Angin membawa kesejukan yang tipis-tipis menyentuh kulit. Di atas meja kecil, sudah tersusun menu sederhana yang selalu kurindukan saat Ramadan tiba.

Sebuah poci tanah liat berisi teh melati panas. Pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Pisang rebus yang masih mengepul lembut. Dan semangkuk kacang rebus yang sederhana tapi mengundang.

Tapi ada satu syarat penting menjelang berbuka:
Harus yang manis-manis.

Aku membuka tutup poci perlahan. Harumnya langsung menguar. Wangi teh melati itu terasa hangat, bersih, menenangkan. Aku menambahkan dua sendok gula batu ke dalam cangkir kecil. Suara sendok beradu dengan keramik terdengar pelan, seperti irama kecil menjelang adzan.

Manisnya harus terasa. Karena setelah seharian menahan, tubuh seperti meminta kelembutan pertama sebelum menerima yang lain.

Pisang goreng itu terlihat paling menggoda. Warna keemasannya seperti cahaya senja. Aku tahu, nanti saat adzan Maghrib berkumandang, gigitan pertama akan terasa luar biasa—renyah di luar, lembut dan manis alami di dalam.

Pisang rebus mungkin terlihat sederhana, tapi justru di situlah letak ketulusannya. Manisnya tidak berlebihan. Alami. Tenang. Cocok dipadukan dengan teh hangat yang sudah menyerap gula.

Kacang rebus melengkapi semuanya. Sedikit asin, sedikit gurih, membuat manisnya teh dan pisang terasa semakin hidup.

Lalu terdengar suara yang ditunggu-tunggu.

Adzan Maghrib.

Aku menarik napas pelan. Mengucap syukur dalam hati. Tangan ini meraih cangkir lebih dulu. Seruput pertama teh manis hangat itu seperti mengalirkan energi baru. Hangatnya turun perlahan, manisnya menyentuh lembut, seakan berkata, “Sabar yang tadi terbayar sudah.”

Gigitan pertama pisang goreng terasa lebih dari sekadar makanan. Ia seperti hadiah kecil setelah sehari penuh menahan diri.

Di momen itu aku sadar, berbuka bukan tentang makan banyak. Bukan tentang hidangan mewah. Tapi tentang rasa syukur yang sederhana.

Tentang teh poci yang harum.
Tentang manis yang menenangkan.
Tentang pisang hangat dan kacang rebus yang setia menemani.

Dan tentang hati yang belajar bahwa setelah lapar dan dahaga, selalu ada manis yang menunggu.

Leave a comment