Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, dosen UI dan IPDN, Sekretaris Daerah Kota Tangerang  (2004).

M. Harry Mulya Zein

SORE itu, 20 Februari 2026, aku memesan Grab dari kampus UNPRI di bilangan Binong, Kabupaten Tangerang. Langit agak redup, sisa panas siang masih terasa di aspal. Tak lama, sebuah mobil listrik berhenti tepat di depan gerbang Kampus.
Aku membuka pintu dan duduk di bangku belakang. Suasananya hening, hanya dengung halus motor listrik yang nyaris tak terdengar.

“Ini mobil listrik, ya, Pak?” tanyaku membuka percakapan.

“Iya, Pak,” jawabnya ramah. “Lebih hemat. Perawatan juga beda sama mobil bensin.”

Namanya AlAqodra. Di aplikasi tertulis singkat, tapi orangnya tidak sesingkat itu. Begitu aku menyinggung soal mobil listrik, matanya di kaca spion tampak berbinar. Ia menjelaskan soal torsi instan, baterai, regenerative braking, sampai perbandingan biaya operasional.

“Bapak paham juga otomotif?” tanyaku.

Ia tersenyum kecil. “Saya lulusan SMK otomotif, Pak. Di Kebon Jeruk, Jakarta Selatan.”

Rupanya bukan sekadar sopir. Ia mengerti mesin, sistem kelistrikan, bahkan perkembangan kendaraan listrik global. Dari cara ia menjelaskan, terasa betul bahwa dunia otomotif bukan hanya pekerjaan baginya, tapi minat yang sungguh-sungguh.

Mobil melaju pelan melewati jalanan Binong. Obrolan kami mengalir dari teknologi kendaraan ke arah yang lebih luas—politik dalam negeri.

Tanpa kuduga, AlAqodra berbicara dengan nada serius.

“Kalau lihat sekarang, Pak, saya kadang pesimis,” katanya. “Negara seperti belum benar-benar mampu mengelola lapangan kerja, terutama untuk anak muda.”

Aku terdiam sejenak. Nada bicaranya tidak marah, hanya jujur. Jujur dan sedikit letih.

“Banyak teman saya,” lanjutnya, “lulusan SMK, D3, bahkan S1. Susah dapat kerja yang sesuai. Kalau pun dapat, gajinya minim. Makanya banyak yang mikir lebih baik ke luar negeri.”

“Menurut kamu lebih menjanjikan?” tanyaku.

“Iya, Pak. Di luar negeri, tenaga teknis seperti otomotif dihargai lebih jelas. Kerja kerasnya kelihatan hasilnya.”

Aku memandang keluar jendela. Lampu-lampu kendaraan mulai menyala, membentuk garis cahaya panjang di kejauhan. Kata-katanya terasa sederhana, tapi berat.

Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia birokrasi dan pendidikan, aku sering membaca data, laporan, grafik pertumbuhan ekonomi. Namun sore itu, di dalam mobil listrik yang nyaris tanpa suara, aku mendengar versi lain: suara lapangan.

AlAqodra tidak sedang mengeluh. Ia tetap bekerja, tetap berusaha. Bahkan memilih mobil listrik sebagai strategi efisiensi. Ia adaptif, berpikir maju, dan paham teknologi. Ironisnya, justru orang seperti dia yang merasa masa depan di negeri sendiri kurang menjanjikan.

“Kalau ada kesempatan kerja di luar negeri, kamu ambil?” tanyaku lagi.

“Ambil, Pak. Tapi sebenarnya saya ingin tetap di sini. Dekat keluarga. Bangun negeri sendiri.”

Kalimat terakhir itu membuatku tersenyum getir. Di balik pesimismenya, masih ada cinta pada tanah air. Ia ingin tinggal, bukan pergi. Hanya saja, ia ingin dihargai.

Perjalanan hampir selesai. Mobil berhenti di depan rumahku. Aku menatap dashboard yang futuristik, sunyi, bersih—simbol perubahan zaman.

“Terima kasih, Pak,” katanya.

“Terima kasih juga, Qodra. Terus belajar. Jangan berhenti.”

Ia mengangguk. Mobil listrik itu melaju lagi, hampir tanpa suara, menyisakan pikiranku yang justru riuh.

Sore itu aku pulang bukan hanya dari kampus, tetapi dari sebuah percakapan yang menyadarkanku: masa depan bangsa sering kali sedang duduk di balik kemudi—paham teknologi, bekerja keras, tetapi masih mencari keyakinan bahwa negeri ini benar-benar memberi ruang bagi harapan mereka.(*)

Leave a comment