Tetapi kawan-kawan favorit yang biasa ngobrol dengan saya tentang pengetahuan dan obrolan liar, satu per satu dipanggil Tuhan.
Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Senior dan Kolumnis
Banyak orang yang menjadi favorit saya, tetapi mereka berada dalam jarak yang sama. Di luar jangakauan pergaulan langsung.
Era digital lah yang membuat hubungan saya dengan orang-orang yang saya sukai menjadi berjarak secara fisik. Kami hanya sering bersosialisasi lewat jaringan internet.
Alamat rumah tinggal, dan alamat kantor menjadi tidak begitu penting. Pertemuan sering berlangsung di suatu tempat yang kami janjikan, seperti di cafe atau di sebuah tempat pertemuan semacam seninar atau diskusi.
Saya menjadikan mereka sebagai favorit karena kelebihan keahlian yang mereka miliki. Umumnya keahlian di bidang ilmu pengetahuan, seperti jurnalisme, bahasa, sastra, filsafat, musik, atau agama, tasawuf, serta olahraga tertentu seperti silat dan berenang.
Namun demikian, karena usia, sejumlah tokoh favorit saya, satu per satu meninggal. Dulu sebelum media sosial belum merajalela, orang-orang favorit saya seperti pak Safril (rekan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris), dan pak Najamuddin (ahli sufisme) sering saya datangi ke rumah mereka. Untuk sekedar ngobrol tentang ilmu mereka, atau sekadar ngobrol bebas, ngalor-ngidul.
Tetapi sekali lagi, kawan-kawan favorit untuk ngobrol tentang pengetahuan secara liar, satu per satu dipanggil Tuhan.
Sekarang tinggal generasi muda. Ada yang saya anggap mampu dan menyenangkan, tetapi kalau diajak bicara banyak, rasanya kadang-kadang tidak “nyambung”.
Mungkin saja karena kesenjangan usia antara saya dan mereka terpaut jauh. Bahkan mereka cenderung menaruh hormat dengan saya sebagai orang yang lebih tua. (*)
Leave a comment