Aku mencoba sepatu itu. Pas, empuk, dan ringan. Rasanya seperti kaki diberi semangat baru.
Oleh: M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, dosen UI dan IPDN, Sekretaris Daerah Kota Tangerang (2004).

Ulang tahunku yang ke-60 sebenarnya tidak dirayakan dengan pesta besar. Tapi justru di situlah letak kehangatannya. Pagi itu anak perempuanku datang membawa sebuah kotak sepatu. Ia menaruhnya di meja, lalu tersenyum kecil.
“Ayah, ini hadiah ulang tahun,” katanya.
Aku memandangnya. Anak perempuanku ini sejak kecil sering kupanggil Teteh. Dalam bahasa Sunda, teteh artinya kakak. Entah kenapa panggilan itu melekat sampai sekarang, mungkin karena sikapnya memang sering seperti kakak: perhatian, sigap, dan selalu tahu apa yang dibutuhkan orang rumah.
Aku membuka kotaknya pelan-pelan. Di dalamnya ada sepasang sepatu Skechers berwarna biru. Aku langsung tersenyum. Biru adalah warna favoritku. Teteh rupanya hafal betul kebiasaanku, bahkan soal yang sering dianggap sepele.
Aku mencoba sepatu itu. Pas, empuk, dan ringan. Rasanya seperti kaki diberi semangat baru. Aku sempat bercanda, “Ini sepatu buat Ayah jalan sehat atau buat ikut maraton?” Teteh tertawa. “Biar Ayah nggak gampang ngeluh.”
Aku pura-pura tersinggung, tapi dalam hati aku terharu. Hadiah itu sederhana, tapi terasa sangat personal.
Beberapa bulan kemudian, sepatu biru itu benar-benar membawaku berjalan jauh. Jauh sekali. Aku dan istriku tercinta, Corry, akhirnya berkesempatan mengunjungi Petra, kota tua di Yordania yang selama ini hanya kami lihat lewat gambar dan dokumenter.
Begitu memasuki lorong Siq yang panjang dan sempit, aku mencoba tampil gagah. Langkahku kubuat mantap, seolah-olah perjalanan ini tidak akan menguras tenaga. Corry berjalan di sampingku dengan santai, lalu bertanya dengan nada jahil, “Ayah kuat?”
Aku menjawab cepat, “Kuat dong. Ini sepatu Skechers, sepatu internasional!”
Padahal baru beberapa menit, napasku mulai terasa ikut “wisata”. Aku berbisik, “Kalau Ayah berhenti nanti, bukan capek… Ayah cuma menikmati sejarah.”
Corry tertawa, “Iya… sejarah napas Ayah yang mulai habis.”
Kami terus berjalan. Batu-batu kecil berserakan, jalanan menanjak, dan lorong terasa panjang sekali. Tapi sepatu Skechers biru itu benar-benar nyaman. Aku mulai percaya, sepatu ini bukan sekadar hadiah ulang tahun, tapi hadiah penyelamat lutut.
Lalu tiba-tiba lorong itu terbuka.
Petra berdiri di depan mata kami, megah dan menakjubkan. Bangunan batu Al-Khazneh menjulang dengan ukiran yang luar biasa. Aku terdiam, takjub, merasa kecil di hadapan sejarah.
“Masya Allah…” gumamku.
Corry menatapku sambil tersenyum. “Indah ya.”
Aku mengangguk pelan.
Aku menunduk sejenak, melihat sepatu biru di kakiku. Di tengah kekaguman pada Petra, pikiranku justru melayang pada Teteh. Pada kotak sepatu sederhana yang ia berikan saat ulang tahunku yang ke-60.
Aku berkata pada Corry sambil tertawa, “Mah, ini sepatu penyelamat rumah tangga. Kalau nggak ada sepatu ini, mungkin Ayah sudah minta naik keledai dari tadi.”
Corry menjawab cepat, “Tenang… kalau Ayah tumbang, Mama foto dulu biar ada kenangannya.”
Kami tertawa lepas.
Hari itu aku sadar, Petra memang luar biasa. Tapi yang membuat perjalanan ini benar-benar berarti bukan hanya kota batunya, melainkan orang-orang yang berjalan bersamaku: Corry, istriku tercinta, dan Teteh, anak perempuanku, yang mengirim cinta lewat hadiah kecil berwarna biru.
Kini sepatu itu tidak lagi bersih. Ada debu menempel di solnya. Ada bekas perjalanan. Tapi bagiku itulah nilai sesungguhnya.
Sepatu Skechers biru itu bukan hanya alas kaki.
Ia adalah kenangan tentang ulang tahun ke-60, tentang cinta keluarga, dan tentang langkah yang membawaku sampai ke kota tua Petra. (*)
Leave a comment