Dalam suasana yang hangat dan sederhana, beliau menyerahkan sebuah buku kepada saya. Saya sempat mengira beliau akan membawa oleh-oleh khas Australia, tetapi ternyata yang beliau berikan justru “oleh-oleh” yang jauh lebih bermakna: sebuah buku yang menenangkan hati.

Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, dosen UI dan IPDN, Sekretaris Daerah Kota Tangerang  (2004).

Salah satu hadiah terbaik yang pernah saya terima adalah sebuah buku berjudul La Tahzan dari Drs. H.M. Thamrin, Walikota Tangerang.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 2002, saat saya masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang. Masa itu adalah periode yang penuh dinamika. Tanggung jawab besar, urusan pendidikan yang tidak pernah selesai, ditambah berbagai tuntutan administrasi dan pelayanan publik, membuat hari-hari terasa padat dan melelahkan. Bisa dibilang, pekerjaan waktu itu bukan hanya menguras tenaga, tapi juga menguras pikiran.

Saya masih ingat betul momen ketika beliau memberikan hadiah tersebut. Saat itu Bapak Drs. H.M. Thamrin baru saja kembali dari Australia, tepatnya dari New South Wales (NSW), setelah menengok putranya yang bernama Denny, yang sedang menempuh pendidikan dan mengambil jurusan manajemen keuangan.

Dalam suasana yang hangat dan sederhana, beliau menyerahkan sebuah buku kepada saya. Saya sempat mengira beliau akan membawa oleh-oleh khas Australia, tetapi ternyata yang beliau berikan justru “oleh-oleh” yang jauh lebih bermakna: sebuah buku yang menenangkan hati.

Judulnya La Tahzan, yang berarti “jangan bersedih.”

Beliau tidak banyak berkata, namun saya menangkap bahwa buku itu adalah pesan moral. Seolah beliau ingin mengingatkan saya bahwa di tengah kesibukan, tekanan jabatan, dan persoalan pemerintahan yang kompleks, seorang pejabat publik harus tetap tenang, sabar, dan tidak mudah larut dalam beban.

Ketika saya membaca buku itu, saya merasa seperti mendapat energi baru. Kalimat-kalimatnya sederhana, tetapi menyejukkan. Buku itu mengajarkan saya untuk menghadapi masalah dengan pikiran jernih, hati lapang, dan keyakinan bahwa setiap ujian pasti ada jalan keluarnya.

Hingga hari ini, buku La Tahzan itu masih saya simpan dengan baik. Bagi saya, hadiah tersebut bukan hanya sekadar buku, melainkan pengingat berharga dari seorang pemimpin yang saya hormati—bahwa dalam menjalani tugas dan kehidupan, ketenangan hati adalah kekuatan yang paling utama.(*)

Leave a comment