
PENGANTAR Wawancara Imajiner: Suasana hangat dan penuh nostalgia mewarnai perjumpaan dua sahabat lama (Senior & Junior), Satia Negara Lubis (SNL) dan Muhammad Sontang Sihotang (ms2), setelah hampir 30 tahun tidak bersua sejak masa studi pascasarjana di Malaysia.
Pertemuan yang berlangsung di Bandar Kupi, Jalan Letda Sujono, Medan, turut dihadiri oleh Abdul Hakim Hasibuan (Kepala Dinas Koperasi & UKM Kabupatern Batu Bara) dan Dara Aisyah (Dosen Program IAP-FISIP USU). Momentum ini bukan sekadar reuni emosional, tetapi juga menjadi ruang diskusi strategis mengenai pengembangan pendidikan tinggi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Tiga dekade silam, SNL melanjutkan studi hingga program doktoral (S-3) di Institut Pertanian Bogor, sementara ms2 meniti karier akademik & mengajar di Fakultas Ilmu Keperawatan dan Engineering Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok serta Fakultas Kedokteran Universitas YARSI-Jakarta. Kini, keduanya kembali bertemu sebagai akademisi senior dengan pengalaman panjang dalam dunia pendidikan & kepenulisan ilmiah.
Wawancara Imajiner
(ms2 sebagai pewawancara – refleksi dua sahabat akademik)
ms2:
Prof. SNL, hampir 30 tahun kita tak berjumpa sejak di Malaysia (antara UKM Bangi & Country Home. Kajang Utama). Apa yang paling membekas dari perjalanan akademik panjang itu?
SNL:
Yang paling membekas adalah semangat intelektual. Kita dulu berdiskusi hingga larut malam, membedah persoalan agraria, ekonomi pedesaan, hingga transformasi sosial. Saya percaya, ilmu tidak boleh berhenti di kampus. Ia harus turun ke masyarakat. Pendidikan tinggi harus berdampak & dapat menjadi alternatif solusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat secara global.
ms2:
Sebagai akademisi yang sama-sama gemar menulis opini & artikel ilmiah sebagai reporter & kolumnis, bagaimana Prof melihat peran tulisan di media massa ?
SNL:
Menulis adalah tanggung jawab moral intelektual. Melalui opini di media, kita bisa mengurai persoalan masyarakat secara terstruktur & ilmiah. Kita tidak hanya mengkritik, tetapi memberi solusi berbasis data & kajian akademik.
ms2:
Saya sepakat. Dalam pengalaman saya di keperawatan & engineering centre UI pendekatan interdisipliner sangat penting. Bagaimana kolaborasi lintas bidang menurut Prof ?
SNL:
Justru di sanalah kekuatan masa depan. Ekonomi pertanian, kesehatan masyarakat, rekayasa teknologi, hingga kebijakan publik harus berjalan sinergis. Kita perlu model pendidikan tinggi yang integratif dan transformatif.
ms2:
Apa pesan Prof untuk generasi muda akademisi?
SNL:
Bangun integritas, konsistensi meneliti, dan keberanian menulis. Jangan alergi pada persoalan masyarakat. Jadikan problem sosial sebagai laboratorium pemikiran.
Komitmen Bersama
Dalam pertemuan tersebut, keempat akademisi sepakat mendorong:
- Penguatan budaya menulis ilmiah dan opini publik.
- Pengembangan riset kolaboratif lintas disiplin.
- Model pendidikan tinggi yang aplikatif dan berdampak sosial.
- Penguatan peran akademisi sebagai agen perubahan berbasis ilmu.
Reuni ini menjadi simbol bahwa persahabatan intelektual tidak lekang oleh waktu. Dari Malaysia hingga Jakarta, dari IPB Bogor hingga Depok, dan kini di Medan, semangat berpikir kritis dan menulis ilmiah tetap menjadi jembatan gagasan untuk membangun masyarakat yang lebih berdaya.
“Ilmu tanpa kebermanfaatan sosial adalah kehilangan ruhnya.”
Leave a comment