Ini plat nomor dan STNK kendaraan sudah habis masa berlakunya, Pak. Kok bisa kendaraan dinas begini?


Oleh : M. Harry Mulya Zein, tinggal di Kota Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Saya pernah mengalami kejadian yang sampai sekarang kalau diingat, rasanya campur aduk: antara malu, kaget, tapi juga lucu.

Waktu itu saya sedang menumpangi kendaraan dinas bersama sopir. Lokasinya di persimpangan overpass Tomang menuju tol, salah satu titik yang terkenal padat dan sering ada pemeriksaan. Tiba-tiba kendaraan kami diberhentikan polisi.

Saya pikir awalnya pemeriksaan biasa. Tapi ternyata situasinya mulai serius ketika polisi menyuruh sopir saya turun dan berkata dengan nada tegas,
“Pak, ini STNK-nya mana?”

Sopir saya menyerahkan dokumen. Polisi memeriksa sebentar, lalu alisnya langsung naik. Saya yang duduk di dalam mulai merasa ada yang tidak beres.

Tak lama, polisi itu berkata,
“Ini plat nomor dan STNK kendaraan sudah habis masa berlakunya, Pak. Kok bisa kendaraan dinas begini?”

Saya langsung melirik sopir saya. Sopir saya melirik saya. Kami sama-sama diam. Dalam hati saya berkata, “Ya ampun… baru seminggu jadi Sekda, masa sudah mulai ‘ditangkap’.”

Yang membuat situasi semakin lucu, polisi itu masih terus menginterogasi sopir saya seperti sedang memeriksa kasus besar. Sopir saya sampai terlihat tegang sekali, seolah-olah sebentar lagi akan disuruh push up di pinggir jalan.

Polisi itu kemudian mendekat ke saya dan bertanya,
“Maaf Pak, Bapak siapa?”

Saya jawab dengan santai,
“Saya Sekretaris Daerah Kota Tangerang.”

Begitu saya jawab, polisi itu terdiam sejenak. Lalu dia menatap saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, seperti sedang memastikan apakah saya benar-benar sekda atau sekadar salah kostum.

Kemudian dia berkata dengan ekspresi kaget,
“Sekda kok muda sekali, Pak!”

Saya cuma tersenyum. Dalam hati saya berpikir, “Pak, saya juga baru seminggu, jadi wajar kalau masih fresh.”

Memang pada masa itu, jabatan Sekretaris Daerah masih identik dengan pejabat senior yang rambutnya sudah mulai “beruban bijaksana”. Jadi ketika saya mengaku sekda, polisi itu seperti tidak percaya.

Tapi lucunya, di era sekarang kepala daerah banyak yang muda, sementara sekda muda masih dianggap langka. Jadi wajar kalau polisi itu kaget–mungkin dalam pikirannya, sekda itu harusnya sudah seperti “ensiklopedia berjalan”.

Setelah suasana mencair, polisi itu akhirnya mengangguk, lalu berkata lebih sopan. Ia pun menutup pemeriksaan dengan sikap hormat, bahkan memberi hormat kepada saya.

Saya pun membalas dengan senyum, sambil dalam hati berkata,
“Alhamdulillah… baru seminggu menjabat, sudah dapat pengalaman yang tidak ada di buku orientasi sekda.”

Sejak saat itu, saya belajar satu hal penting:
jabatan boleh tinggi, tapi plat nomor jangan sampai kedaluwarsa.
Karena kalau tidak, sekda pun bisa tetap “diperiksa” di pinggir jalan.(*)

Leave a comment