Kamar tidur menjadi tempat paling pribadi. Saya ingin kamar yang tidak terlalu penuh barang, cukup dengan tempat tidur nyaman, lemari sederhana, dan suasana yang membuat pikiran tenang. Di samping tempat tidur ada jendela yang menghadap ke taman, sehingga saat bangun pagi saya bisa melihat hijau pepohonan dan merasakan suasana damai.
Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Kota Tangerang, Provinsi Banten-Indonesia

RUMAH impian saya adalah rumah yang sederhana, tetapi hangat dan penuh ketenangan. Bukan rumah yang paling mewah atau paling besar, melainkan rumah yang membuat siapa pun merasa nyaman sejak pertama kali melangkah masuk.
Saya membayangkan rumah itu berada di tempat yang tidak terlalu ramai–mungkin di pinggir kota atau dekat area perbukitan–agar udaranya segar dan suasananya tenang. Halamannya cukup luas, ditumbuhi pepohonan hijau dan bunga-bunga yang membuat rumah terasa hidup. Di sudut halaman ada taman kecil, tempat saya bisa duduk di pagi hari sambil menikmati secangkir teh atau kopi, mendengarkan suara burung, dan merasakan angin yang menenangkan.
Bangunan rumahnya bergaya minimalis modern, tetapi tetap memiliki sentuhan alami seperti kayu dan batu alam. Warna dindingnya cenderung lembut, seperti putih gading atau krem, agar memberi kesan damai dan bersih. Rumah itu memiliki jendela-jendela besar sehingga cahaya matahari dapat masuk dengan bebas. Saya suka rumah yang terang, karena cahaya membuat suasana hati terasa lebih baik dan rumah terlihat lebih hangat.
Di dalam rumah, ruang tamu tidak harus terlalu besar, tetapi rapi dan nyaman. Ada sofa empuk, karpet sederhana, dan rak buku yang penuh dengan koleksi bacaan. Saya membayangkan sebuah sudut khusus untuk membaca, lengkap dengan kursi santai dan lampu kecil. Tempat itu akan menjadi area favorit, karena di sanalah saya bisa menikmati waktu tenang, merenung, atau sekadar membaca buku sambil melepas lelah.
Dapur dalam rumah impian saya juga penting. Dapurnya bersih dan tertata, dengan meja makan sederhana di dekatnya. Saya membayangkan momen keluarga berkumpul di sana, makan bersama, bercakap-cakap, dan tertawa. Bagi saya, rumah yang ideal bukan hanya soal bangunan, tetapi juga tentang kebersamaan yang tercipta di dalamnya.
Kamar tidur menjadi tempat paling pribadi. Saya ingin kamar yang tidak terlalu penuh barang, cukup dengan tempat tidur nyaman, lemari sederhana, dan suasana yang membuat pikiran tenang. Di samping tempat tidur ada jendela yang menghadap ke taman, sehingga saat bangun pagi saya bisa melihat hijau pepohonan dan merasakan suasana damai.
Rumah impian saya juga memiliki ruang kecil untuk beribadah atau bermeditasi, tempat untuk menenangkan diri dan menguatkan hati. Selain itu, saya membayangkan ada ruang kerja sederhana agar saya bisa menulis, berpikir, dan menyelesaikan hal-hal penting tanpa gangguan.
Yang paling saya inginkan dari rumah impian itu adalah suasananya: hangat, damai, dan penuh cinta. Rumah itu menjadi tempat pulang, tempat berbagi cerita, tempat melepas penat setelah lelah menghadapi dunia. Bagi saya, rumah impian bukan sekadar bangunan indah, tetapi tempat yang membuat hati merasa aman dan bahagia.(*)
Leave a comment