Catatan: Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, dan pernah dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kota Tangerang (2004). Kini Direktur Eksekutif Forum Senja

DALAM perjalanan menuju Masjidil Aqsa, kami sempat mengunjungi dua tempat penting dan bersejarah. Pertama, singgah di makam Nabi Syu’aib Alaihis Salam (AS), dan kedua berteduh sebentar di bawah pohon Sahabi yang sudah tumbuh ketika Nabi Muhammad SAW masih awal remaja.
Singgah di makam nabi Syu’aib, kami merasakan kewibawaan beliau yang sangat kuat. Terasa di batin kami, bagaikan sedang menatap cahaya kemuliaan yang sangat kuat.
Setibanya di makam Nabi Syu’aib, kami— Ali Rosad (ketua tim), Achris, Sriyani, Corry Fattah, Mulyani, Mikrainis M. Nasir, Tuti Elfita, dan saya M. Harry Mulya Zein turun dengan tertib dan menjaga adab ziarah.

Suasana di sekitar makam terasa hening, kewibawaannya terasa sangat kuat seakan mengajak setiap peziarah untuk menenangkan hati, dan menghadirkan kesadaran akan kebesaran Allah.
Di sini lah makam Nabi Syu‘aib AS. Makam ini terletak di kawasan Wadi Syu‘aib, Yordania. Kami sampai lokasi ini Sabtu, 31 Januari 2026, sekitar pukul 10.00 waktu setempat,
Perjalanan menuju lokasi makam berlangsung lancar, melewati hamparan perbukitan yang tenang dan udara sejuk khas musim dingin.
Di tempat inilah Nabi Syu‘aib AS dahulu menyeru kaumnya—kaum Madyan—agar kembali kepada tauhid dan menegakkan kejujuran dalam kehidupan bermuamalah. Beliau dikenal sebagai nabi yang tegas dalam prinsip, namun lembut dalam tutur kata.
Kami memanjatkan doa, memohon agar diberi kejujuran dalam rezeki,
keadilan dalam bersikap,
serta keberanian untuk menegakkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Makam Nabi Yusya‘ bin Nun AS
Masih pada hari yang sama, 31 Januari 2026, kami melanjutkan perjalanan menuju makam Nabi Yusya‘ bin Nun AS, nabi dan pemimpin besar Bani Israil setelah wafatnya Nabi Musa AS.
Setibanya di makam kami kembali mengatur barisan dan memperbanyak dzikir. Tempat ini berada di wilayah perbukitan yang sunyi, menciptakan suasana kontemplatif yang mendalam.
Nabi Yusya‘ bin Nun AS dikenal sebagai sosok pemimpin yang teguh, disiplin, dan sepenuhnya bertawakal kepada Allah. Di bawah kepemimpinan Yusya’, umat dipimpin untuk memasuki Tanah Suci dengan penuh perjuangan dan kesabaran.
Di hadapan makam, kami merenungkan makna kepemimpinan:
bahwa amanah adalah tanggung jawab, keberanian harus dibingkai keimanan, dan kemenangan sejati lahir dari ketaatan kepada Allah.
Ziarah ini menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual. Saat tiba di lokasi, langkah kaki berhenti, namun perjalanan batin justru dimulai: mengambil hikmah dari jejak para nabi, untuk dibawa pulang dan diamalkan dalam kehidupan.
Berteduh di Pohon Sahabi
Pada Sabtu, 31 Januari 2026, tepat pukul 13.00 waktu setempat, kami bertolak menuju Pohon Sahabi yang terletak di wilayah selatan Yordania.
Perjalanan darat ini menempuh jarak sekitar 160 kilometer. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2 jam, sehingga kami tiba di lokasi ziarah pada pukul 15.00 waktu setempat.
Sepanjang perjalanan, kendaraan melaju menyusuri jalan panjang yang membelah hamparan gurun Yordania.
Panorama padang pasir yang luas, perbukitan tandus, serta suasana hening menghadirkan ketenangan dan ruang perenungan.
Waktu perjalanan dimanfaatkan untuk zikir dan mendengarkan penjelasan singkat mengenai nilai historis dan spiritual Pohon Sahabi dalam perjalanan awal Islam.
Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, kami tiba di lokasi ziarah. Di tengah bentang alam gurun yang gersang, Pohon Sahabi berdiri kokoh dan rindang, menjadi simbol keteguhan iman dan saksi bisu perjalanan sejarah.

Kami turun dengan tertib dan penuh kekhusyukan, lalu berkumpul untuk doa bersama, memanjatkan rasa syukur kepada Allah. Kami berteduh sejenak di bawah pohon Sahabi.
Ziarah ditutup dengan tafakur pribadi dan dokumentasi, sebelum kami melanjutkan agenda perjalanan selanjutnya.
Kunjungan ke Pohon Sahabi menjadi momen reflektif yang memperkaya perjalanan spiritual, menghubungkan sejarah, alam, dan keimanan dalam satu pengalaman yang mendalam.

Pohon Sahabi (pohon Bugayawiyyah) terletak di gurun utara Yordania, tepatnya di daerah Safawi, Provinsi Mafraq/Zarqa. Berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Amman.
Menurut beberapa literatur, pohon jenis pistacia atlantica berusia lebih dari 1.400 tahun ini diyakini sebagai tempat berteduh Nabi Muhammad SAW sewaktu masih remaja (usia) 9-12 tahun) dalam perjalanan dagang ke negeri Syam bersama pamannya Abu Tholib.
Pohon ini diyakini sebagai saksi bisu pertemuan dengan pendeta Buhaira atau Bahira yang melihat tanda-tanda kenabian Muhammad.
Pendeta itu melihat awan yang memayungi perjalanan Muhammad dan pohon tersebut juga merunduk memayungi Muhammad dari terik matahari. Saat itu Buhaira meminta Abu Thalib untuk menjaga Muhammad. (*)