Catatan: Dr M. Harry Mulya Zein, Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, dan pernah dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kota Tangerang (2004). Kini Direktur Eksekutif Forum Senja


PAGI itu di Yordania masih diselimuti gelap dan suhu udara sangat dingin, sekitar 6 derajat Celsius. Tepat pukul 03.25 waktu setempat, kami terbangun untuk mandi subuh.
Rasa dingin menempel di bantal, di selimut, dan di permukaan benda-benda yang ada di kamar hotel, kecuali di mesin penghangat yang seperti menghangatkan perangkat itu sendiri.
Air yang mengalir dari kran pun terasa bagaikan es, menusuk kulit. Dinginnya menentukan melanjutkan mandi atau tidak mandi.
Dinginnya menjadi ujian melatih kesabaran dan keikhlasan, apakah terus membasahi tubuh untuk ikut shalat subuh berjamaah, atau tetap menghangatkan tubuh di balik selimut tebal.
Menjelang fajar, suasana di sekitar Hotel Geneva, masih sunyi. Pada pukul 05.30, kami melangkah keluar hotel menuju masjid yang berada tepat di depannya. Suara adzan terdengar lembut dari dalam mesjid.
Udara pagi semakin dingin, napas sedikit terengah di tengah langkah yang dipercepat.
Saat waktu fajar tiba pukul 06.08, kami menunaikan shalat subuh berjamaah dengan penuh kekhusyukan.
Saf-saf tersusun rapi, dan lantunan ayat suci yang dibacakan imam seakan menghangatkan hati, meski dingin masih terasa di tubuh.
Usai shalat, jamaah tetap bertahan di dalam masjid. Dilanjutkan dengan kajian singkat tentang Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Al-Ikhlas mengajarkan kemurnian tauhid, sementara Al-Falaq dan An-Nas menjadi doa perlindungan dari segala keburukan dan gangguan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Kajian subuh itu menutup pagi dengan ketenangan batin. Di tengah dinginnya udara Yordania, kehangatan iman dan kebersamaan jamaah justru terasa semakin kuat, menjadi bekal spiritual untuk melanjutkan perjalanan ziarah di hari itu.(*)