Catatan Perjalanan Dr Harry Mulya Zein, Sekretaris Daerah Kota Tangerang (2004), Dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri, dan Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, Direktur Eksekutif Forum Senja

JUMAT pagi, 30 Januari 2026, perjalanan kami Jakarta- Masjidil Aqsa memasuki hari kedua. Kami bermalam di Hotel Geneva, selama berada di Yordania.
Setelah persiapan dan sarapan pagi, tepat pukul 08.00 waktu setempat kami bertolak menuju Petra.
Dari hotel, perjalanan diawali dengan doa bersama agar kunjungan hari itu membawa keberkahan, ilmu, dan hikmah spiritual bagi seluruh jamaah.
Di Yordania kami harus mulai menerima makanan yang berbeda dari makanan sehari-hari di Indonesia. Nasi kapsah Yordania dengan bumbu khas, perlu kita rasakan. Camilan yang menjadi kesukaan masyarakat setempat juga kami coba, seperti kue falafel.
Tidak lah sempurna kalau pergi ke tempat lain, tanpa mau mencoba jenis makanannya. Beda bumbu pasti beda rasa, beda tradisi beda cara.
Kami sampai juga di Kota Patra yang kental dengan tradisi Arab. Suku Napatian dari Yaman, berdiam di kota ini dan melakukan aktivitas memahat di abad 2 sebelum masehi sampai dengan 2 masehi.
Petra adalah sebuah kota kuno yang terletak di wilayah selatan Yordania, terkenal karena bangunan-bangunannya yang dipahat langsung pada tebing batu berwarna merah muda. Nama Petra berasal dari bahasa Yunani petros yang berarti batu, sehingga sering dijuluki “Rose City”.
Secara historis, Petra merupakan ibu kota Kerajaan Nabath (sekitar abad ke-4 SM hingga abad ke-2 M). Kota ini berkembang pesat karena posisinya yang strategis sebagai jalur perdagangan penting yang menghubungkan Arabia, Mesir, dan wilayah Mediterania.
Di sinilah rempah-rempah, kemenyan, dan barang berharga diperdagangkan. Dalam konteks sejarah Islam, Petra berada di wilayah Syam dan termasuk kawasan yang dilewati serta dihuni berbagai peradaban sebelum dan sesudah Islam datang.
Pada masa Islam, kawasan Petra masuk dalam wilayah kekuasaan Islam dan menjadi bagian dari jalur perjalanan serta perdagangan umat Muslim, meskipun tidak berfungsi lagi sebagai pusat kota besar seperti pada masa Nabath.
Karena nilai sejarah, arsitektur, dan peradabannya yang luar biasa, Petra ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan juga termasuk salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Baru.
Nasi Kapsah Yordania

Di Yordania, nasi kabsah bukan sekadar makanan—ia adalah simbol kebersamaan. Hidangan ini biasa disajikan di tengah keluarga besar atau menjamu tamu kehormatan.
Aroma rempahnya kuat namun hangat, berpadu dengan nasi panjang dan daging ayam atau kambing yang dimasak perlahan hingga empuk. Saat tutup panci dibuka, uap harum rempah seakan menceritakan tradisi panjang kuliner Arab.
Di Yordania juga kami mencicipi kue falafel. Falafel adalah camilan rakyat Yordania yang mudah ditemui di sudut-sudut kota, terutama saat pagi hari.

Rasanya renyah di luar, lembut di dalam, falafel sering disantap bersama roti pita dan saus tahini. Sederhana, bergizi, dan penuh cita rasa—makanan yang menyatukan semua kalangan. (*)