Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein,

  • Pakar Ilmu Pemerintahan, Dosen Vokasi Ilmu Administrasi Pemerintahan Universitas Indonesia.

Dr. M. Harry Mulya Zein

Aku suka membaca, tapi bukan sembarang bacaan. Sejak lama aku merasa lebih nyaman berlama-lama dengan buku filsafat, kepemimpinan, dan politik. Buku-buku yang sering dianggap berat itu justru terasa dekat denganku, seolah mengajakku duduk dan berbincang pelan tentang hidup.

Biasanya aku membaca di waktu senyap. Malam hari, saat rumah mulai tenang dan suara dunia mengecil. Aku membuka buku bukan untuk mencari jawaban cepat, tapi untuk bertanya. Filsafat membuatku berani ragu. Ia mengajarkanku bahwa berpikir tidak selalu harus sampai pada kesimpulan, kadang cukup sampai pada kesadaran bahwa hidup ini kompleks.

Dari buku kepemimpinan, aku belajar tentang manusia. Tentang bagaimana kekuasaan bisa menjadi amanah, tapi juga bisa berubah menjadi godaan. Banyak pemimpin besar jatuh bukan karena kurang cerdas, melainkan karena lupa membatasi diri. Di halaman-halaman itu aku menemukan pelajaran sederhana: memimpin orang lain harus dimulai dari memimpin diri sendiri.

Sementara politik, bagiku, adalah cerita tentang kenyataan. Ia tidak selalu indah, sering kali penuh kepentingan, dan kadang melelahkan. Namun justru karena itulah politik penting dipahami. Dengan membaca, aku belajar bahwa diam pun bisa menjadi sikap politik, dan berpikir jernih adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.

Aku tidak membaca untuk terlihat pintar. Aku membaca agar tidak mudah dibohongi, agar tidak gampang marah, dan agar bisa memahami perbedaan tanpa merasa terancam. Setiap buku meninggalkan bekas kecil di pikiranku, seperti jejak yang perlahan membentuk cara pandang.

Aku suka membaca buku tentang filsafat, kepemimpinan, dan politik, karena buku-buku itu tidak membuatku merasa lebih tinggi dari orang lain. Justru sebaliknya, mereka mengingatkanku bahwa menjadi manusia berarti terus belajar, terus berpikir, dan tetap rendah hati. (*)