Tetapi yang tidak berubah adalah isi atau konten. Apa pun medianya, kontennya tetap sama. Konten adalah raja. 

Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Senior Harian Kompas (1989- 2018), peserta diskusi Forum Senja

Saya sudah membolak-balik buku mengarang berjudul Creating Compositions, karya Harvey S. Wiener, terbitan tahun 1984. 

Sebenarnya, saya sudah membaca buku ini, tetapi rasanya saya perlu membaca ulang. 

Buku ini seperti air sumur tua yang tidak pernah habis ditimba. Airnya dapat diminum dari generasi ke generasi. 

Kita tahu zaman kini sudah berubah, media lama ter-disrupsi oleh media baru. Berbagai platform media baru bermunculan seiring kemajuan teknologi.

Media cetak digusur media elektronik berbasis internet, radio digusur media TV, media TV digusur media platform Youtube dan Podcast, serta media sosial lainnya. Tetapi yang tidak berubah adalah isi atau konten. Apa pun medianya, kontennya tetap sama. Konten adalah raja. 

Buku ini mengajarkan kita membuat konten, khususnya membuat karangan, tulisan, termasuk esai secara profesional. 

Meskipun ditujukan untuk mahasiswa, buku mengarang dalam Bahasa Inggris ini, secara prinsip dan teori dapat digunakan untuk menulis dalam bahasa Indonesia. 

Sebagian materi buku ini telah saya ajarkan pada para wartawan di Indonesia, dalam persiapan mengikuti uji kompetensi wartawan yang diselenggarakan oleh Dewan Pers dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), khusus untuk Bahasa Indonesia dalam keterampilan diskripsi dan narasi. 

Karena buku ini didesain untuk mahasiswa, buku ini dilengkapi banyak soal untuk memberi pengalaman menganalisa contoh dan menulis. 

Secara detail buku ini menceritakan bagaimana membuat tulisan naratif, yang menceritakan apa yang sedang atau telah terjadi. Bagaimana pemilihan katanya, supaya cerita menjadi hidup. 

Begitu pula ketika pembahasan sampai pada bab diskripsi, penulisnya secara detail memberi penjelasan diskripsi untuk orang, tempat, suasana, atau benda dengan tangkapan panca indra. Bagaimana menuliskan suasana, warna, suara, rasa, dan sentuhan atau rabaan. Semuanya dilatih. 

Dalam bab menulis esai, mahasiswa diajakan menyusun karangan dengan beragam model argumen, proses, perbandingan dan kontras, serta diskripsi dan narasi. 

Bahkan buku ini juga mengajarkan bagaimana berargumentasi ketika ada pihak yang sekiranya tidak sepakat dengan ide yang sedang kita sampaikan. 

Cara menjelaskannya mudah. Jangan emosional. Tulis saja apa yang menjadi keraguan atau ketidak-sepahaman orang lain, kemudian di alinea berikutnya, sampaikan pengalamanmu secara rinci, berikan statistik, dan kutipan-kutipan yang mendukung pendapat yang sedang Anda tulis. (*)