Dari kucing piaraan adik iparku, aku belajar satu hal: kasih sayang tidak selalu diwujudkan dengan kata-kata.
Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang- Indonesia

Kucing itu bernama Abu, warna bulunya abu-abu pudar seperti debu yang lama menempel di sudut rumah. Telinganya sedikit robek, ekornya bengkok ke kiri, dan langkahnya tidak sepenuhnya sempurna. Ia bukan kucing yang akan menarik perhatian siapa pun. Namun sejak adik iparku, Sitoh, membawanya pulang, rumah kami perlahan berubah—lebih tenang, lebih hidup.
Sitoh menemukan Abu di tepi selokan, basah oleh hujan dan gemetar. Ia tidak banyak bicara, hanya berkata, “Kasihan kalau dibiarkan.” Kalimat sederhana itu cukup baginya untuk mengambil keputusan. Abu dimandikan, diberi makan seadanya, lalu dibiarkan memilih sendiri tempatnya. Sejak hari itu, kucing itu tak pernah pergi jauh.
Abu bukan kucing yang manja. Ia tidak mengeong minta perhatian, tidak suka digendong, dan lebih sering diam. Tetapi ia selalu tahu ke mana harus berada. Setiap sore, Abu duduk di dekat pintu, menunggu Sitoh pulang. Ketika langkah Sitoh terdengar, Abu hanya mengangkat kepala, matanya menyipit tenang, seolah yakin bahwa penantian tak pernah sia-sia.
Suatu malam, listrik padam. Hujan turun deras, dan Sitoh pulang dengan wajah letih. Ia masuk kamar tanpa menyalakan lampu, duduk di tepi ranjang, lalu terdiam. Tak lama, bahunya bergetar. Tangisnya pelan, seperti takut didengar dunia. Abu melompat naik ke ranjang, mendekat, dan menyentuhkan kepalanya ke tangan Sitoh. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan. Hanya kehadiran yang jujur. Tangis itu perlahan reda.
Sejak malam itu, aku tahu: Abu bukan sekadar kucing piaraan.
Pagi hari, Abu berjemur di dekat jendela. Siang, ia tidur di atas buku atau koran lama. Malam, ia berkeliling rumah, lalu kembali ke kamar Sitoh sebelum semua lampu dimatikan. Seolah ia merasa bertanggung jawab atas ketenangan rumah ini.
Pernah suatu waktu Abu menghilang. Sitoh gelisah, berkali-kali memanggil namanya, menyusuri gang kecil di sekitar rumah. Dua hari kemudian, Abu kembali. Tubuhnya kotor, lebih kurus, tetapi matanya tetap sama—tenang. Ia masuk, langsung menuju kamar Sitoh, dan tidur di dekat kakinya. Tak ada penjelasan. Tak pernah ada.
Dari kucing piaraan adik iparku, aku belajar satu hal: kasih sayang tidak selalu diwujudkan dengan kata-kata. Kadang ia hadir dalam diam, bertahan tanpa tuntutan, dan setia tanpa syarat. Dan di rumah ini, Abu telah menjadi pengingat kecil tentang arti pulang—bersama Sitoh, yang memilih merawat, bukan meninggalkan.(*)