Jika hujan deras menyebabkan genangan di ujung gang, ia turun langsung, membuka saluran air bersama warga, tanpa canggung memegang cangkul.


Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang, Indonesia

Lingkungan perumahan (foto NAS)

Pagi di Komplek Banjar Wijaya selalu dimulai dengan suara sapu lidi yang beradu dengan aspal. Di antara deretan rumah yang tertata rapi, sosok Imam Fauzi kerap terlihat berjalan santai, menyapa siapa pun yang ia jumpai. Kaos polos, sandal jepit, dan senyum yang tak pernah absen—itulah Ketua RW kami.

Usianya masih tergolong muda. Banyak yang sempat ragu ketika ia terpilih menjadi Ketua RW. “Anak muda, apa bisa ngurus warga?” begitu bisik-bisik yang sempat terdengar. Namun Imam Fauzi memilih menjawabnya bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kerja.

Ia hafal hampir semua nama warga. Bukan hanya nama kepala keluarga, tapi juga anak-anak mereka. Jika ada warga sakit, Imam adalah orang pertama yang mengetuk pintu, memastikan bantuan datang tepat waktu. Jika hujan deras menyebabkan genangan di ujung gang, ia turun langsung, membuka saluran air bersama warga, tanpa canggung memegang cangkul.

Kepemimpinannya tidak berjarak. Ia lebih suka duduk di teras warga daripada di balik meja. Setiap ada musyawarah, Imam selalu mendengar lebih banyak daripada berbicara. Baginya, menjadi pemimpin bukan soal memberi perintah, tetapi merawat kebersamaan.

Suatu malam, lampu jalan di ujung gang mati. Gelap menyelimuti jalan kecil itu, membuat warga resah. Esok paginya, sebelum keluhan ramai di grup WhatsApp, Imam sudah lebih dulu mengurusnya. Ia menghubungi pengelola, mengawal perbaikan, dan sore harinya lampu kembali menyala. Sederhana, tapi bermakna.

Yang paling dirasakan warga adalah caranya merangkul perbedaan. Di komplek yang warganya beragam latar belakang, Imam mampu menjadi jembatan. Ia menjaga agar setiap kegiatan sosial terasa inklusif—kerja bakti, pengajian, hingga peringatan hari besar. Semua merasa dilibatkan, tidak ada yang tersisih.

Bagi Imam Fauzi, kepemimpinan bukan panggung, melainkan ladang pengabdian. Ia percaya, lingkungan yang baik dibangun dari ketulusan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Kini, ketika orang-orang menyebut Banjar Wijaya sebagai lingkungan yang rukun dan nyaman, banyak yang sepakat: di balik ketenangan itu, ada sosok pemimpin muda yang bekerja dalam diam, namun hadir sepenuh hati—Ketua RW Imam Fauzi.(*)

Leave a comment