Catatan: Mohammad Nasir, Wartawan Senior, peserta diskusi Forum Senja

Mohammad Nasir

PENULIS produktif dan sastrawan Denny JA melaksanakan ibadah umrah bersama sekitar 18,5 juta orang pada tahun 2024. Jumlah jamaah umrah saat itu ia katakan sebagai rekor terbanyak. 

Dalam perjalanan umrah dia meresapi kedalaman spiritualnya. Ia kemudian menulis puisi  berjudul “KETIKA KUPUTARI KA’BAH”. 

Bagaiama ia memilih kata dalam puisi yang mengungkap kedalaman spiritualitas keagamaan yang sulit dikatakan? Dia lihai! 

Puisinya kemudian diunggah dalam Facebook-nya, dan media online orbitindonesia.com. Lengkapnya sebagai berikut: 

“Ketika Kuputari Ka’bah

Oleh Denny JA*

Setiap aku melangkah menuju Ka’bah,

aku tak sekadar berjalan—

aku menyelam ke kedalaman jiwaku.

Jejak dunia kutinggalkan di belakang,

langkahku menuju cahaya yang tak tersentuh mata,

tapi terasa bergetar di dada.

Ketika kukitari Ka’bah,

aku tak hanya thawaf di bumi,

aku mengitari pusaran kesadaranku.

Mengelilingi pusat kerinduan,

tempat waktu tak lagi bergerak,

dan aku, yang terpecah oleh luka,

melebur menjadi debu di antara semesta.

Di sini, di titik nol kehidupan,

aku menemukan paradoks tak terjawab:

semakin aku hancur,

semakin aku sempurna.

Aku larut dalam samudra doa,

tetapi dalam tiap tetes, aku lebih nyata.

Semakin aku menelusuri diriku,

semakin aku menjumpai-Mu.”

Lorong-lorong Mekkah kulewati,

jejak Hajar kutapaki di antara Shafa dan Marwah.

Namun, aku juga menelusuri memar batinku,

sayatan luka yang tak pernah terlihat mata manusia.

Di setiap langkah,

aku melangkah di lorong ingatan,

mendekati rahasia terdalam

yang hanya Kau tahu, Ya Rabbi.

Hari demi hari,

aku semakin tercerabut dari dunia.

Semakin aku terlepas dari diriku:

dari gelar, dari pujian yang fana.

Yang tersisa hanya aku,

dan Engkau.

Baju ihram ini,

putih bersih,

bukan sekadar kain,

tetapi penghapus ego dan identitas.

Semua sama, setara,

hanya debu di hadapan-Mu.

Aku berdiri di tengah lautan manusia,

bukan sebagai siapa-siapa,

hanya setitik buih

yang menari dalam arus-Mu.

Jutaan tubuh berputar,

mengikuti pusaran semesta.

Mereka adalah gelombang putih,

seperti planet-planet yang mengitari poros cahaya.

Namun hatiku lebih gemuruh:

menangis, merintih,

memohon dibasuh,

disucikan kembali.

Aku terus melangkah,

memutari Ka’bah,

sambil memutari takdirku sendiri.

Semakin lama aku berputar,

semakin aku sadar:

Titik akhir perjalanan ini

bukan di tanah,

tetapi di genggaman-Mu.

Dan dalam sujud terakhir,

di keheningan yang tak bersuara,

aku mendengar gema yang tak terucap:

“Iman bukan sekadar kata,

tetapi denyut halus di antara jeda,

ketika jiwa menyentuh Tuhan tanpa bicara.”

(Mekkah, 27 Maret 2025)

+ ++

Membaca puisi Denny JA tentang ka’bah diperlukan pengetahuan tentang teks sebagai simbol dan mampu menangkap isyarat yang dituangkan dalam setiap kata dan frasa yang mengandung kedalaman spiritual. 

Apalagi puisinya yang sufistik dan profetik, mengabarkan kebaikan yang berakar di langit. Diperlukan kelihaian dalam memilih  kata-kata yang bisa membungkus kerahasiaan yang ingin disampaikan. 

Kenapa dirahasiakan? Sayyid Yahya Yatsribi menjelaskan, dalam tarekat, rahasia tidak boleh diungkap, karena dapat mengundang pertentangan dan permusuhan masyarakat awam dan kaum fanatik terhadap seorang arif. 

“Selain itu substansi makrifat membuat dirinya tidak dapat diceritakan. Setiap kali mereka berusaha menceritakannya, mereka tetap tidak mampu membuka mulut,” tulis Sayyid Yahya Yatsribi dalam bukunya, “Agama & Irfan Wahdat Al Wujud dalam Ontologi dan Antropologi, serta Bahasa Agama”(Sadra Press, 2012). 

Dalam menulis karya sastra profetik, Denny JA juga demikian. Namun dia tidak sendirian. Sederet sastrawan profetik terkenal dunia juga menggunakan cara yang sama dalam menyampaikan kebenaran yang berakar di langit. 

Sebut saja sastrawan Indonesia yang sufistik dan profetik Abdul Hadi WM. Esainya yang berkedalaman sufistik Islam, juga enak dibaca. 

Karyanya membawa hayalan bebas melayang-layang, asyik bagaikan burung dali terbang di atas hamparan tanaman padi.

Karya Denny JA  bisa disejajarkan dengan karya profetik yang berakar dari Kristiani seperti penyair dunia TS Eliot di Inggris, Gothe dan Johann Christian Friedrich Hölderlin (Jerman), dan Fyodor Dostoevsky (Rusia). 

Karya-karya sastrawan dunia ini berakar dari keyakinan agama. Karya sastra mereka bisa disebut profetik. Mengabarkan kebenaran dari para nabi, bukan hanya nabi orang Islam. Universal. 

Karya sastra Jalaludin Rumi dan Khalil Gibran yang profetik juga bisa dinikmati kalangan semua agama karena menggunakan simbol-simbol universal. 

Denny menarasikan perjalanan spiritualnya dengan simbol-simbol. Pembaca dituntut dengan pelan meresapi kedalaman makna kata yang dipilihnya. 

Saya membaca simbol-simbol dalam beberapa bait yang dituangkan Denny JA, ketika ia mengitari ka’bah. 

Denny dalam puisinya mencoba menguatkan bahwa ka’bah adalah baitullah (rumah Allah). 

Baitullah itu sendiri adalah bahasa simbolik untuk ka’bah, sebagai simbol rumah Allah. 

Dalam bait pertamnya, Denny menulis, “Setiap aku melangkah menuju Ka’bah,
aku tak sekadar berjalan—
aku menyelam ke kedalaman jiwaku” 

Kata “tak sekadar berjalan— aku menyelam ke kedalaman jiwa” dapat dibaca berjalan di bumi sambil merenungi perjalanan jiwa. Di dalam jiwa terdapat unsur ilahiah, karena dari sanalah jiwa berasal. 

Plato berpendapat jiwa berasal dari sana, surga kerajaan ilahi, lalu jiwa terlempar ke bumi, dan terpenjarakan dalam tubuh manusia, berjalan tertatih di bumi, rindu kebahagiaan surgawi, mencari pengalaman bersama badan, merasakan pengalaman pahit-getir, manis, dan asin. 

Berikutnya Denny menulis, “Jejak dunia kutinggalkan di belakang,
langkahku menuju cahaya yang tak tersentuh mata,
tapi terasa bergetar di dada.”  

Potongan bait ini menegaskan, jejak dunia memberatkan perjalanan ruhani menuju Tuhan yang digambarkan sebagai cahaya  lembut, tidak kasat mata tetapi terasa dalam batin. (*)

Leave a comment