If you could un-invent something, what would it be?


Oleh: Dr. M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang- Indonesia

M. Harry Mulya Zein

Jika aku dapat menghalau, apalagi membatalkan penemuan senjata pemusnah massal, akan saya lakukan dengan sekuat tenaga.

Tidak ada senjata, tidak ada senjata Israel menyentuh penduduk sipil Palestina.

Namun penemuan senjata sudah terlanjur digunakan untuk menghancurkan kehidupan.

Dalam bayanganku, aku ingin berdiri di antara langit dan bumi, bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai penahan angin agar angin menghalau setiap roket yang melintas dan kehilangan arah.

Setiap peluru jatuh menjadi sunyi sebelum sempat menyebut nama. Tidak ada ledakan.

Tetapi di Gaza, seorang ibu menyapu lantai rumahnya yang retak. Tangannya gemetar, tapi matanya menyimpan tekad. Di Ramallah, seorang ayah menggenggam tangan anaknya lebih erat, seolah dunia bisa diringkas menjadi dua telapak tangan yang saling menguatkan.

Di Yerusalem, azan dan lonceng berdenting pada jam yang sama—bukan sebagai penanda perbedaan, melainkan pengingat bahwa doa punya bahasa yang serupa.

Aku tahu, menghalau senjata bukan menghalau luka yang telah lama tinggal. Ada duka yang menunggu giliran untuk ditangisi, ada marah yang menuntut didengar. Namun tanpa hujan api, kata-kata punya kesempatan. Tanpa ketakutan yang dipaksakan, hati bisa belajar pelan-pelan membuka pintu.

Jika aku dapat menghalau, aku ingin dunia menyaksikan satu hal sederhana: keberanian melindungi sipil lebih mulia daripada klaim menang. Bahwa keselamatan anak-anak adalah kemenangan yang tak memerlukan bendera. Bahwa kemanusiaan tidak memilih sisi—ia berdiri di tengah, memanggil semua untuk berhenti.

Ketika senja turun, aku akan menurunkan tanganku. Bukan karena tugas selesai, tetapi karena aku percaya: suatu hari, manusia sendiri yang akan memilih menjadi perisai bagi sesamanya. Dan saat itu tiba, senjata akan kehilangan alasan untuk ada, bukan karena dihalau, melainkan karena tak lagi diundang oleh nurani. (*)

Leave a comment