Where can you reduce clutter in your life?

Oleh : M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang- Indonesia

Langkah kakiku melambat setiap kali mendekati masjid. Bukan karena lelah, tetapi karena aku tahu—di balik pintu itu, ada sesuatu yang selalu menungguku: ketenangan. Dunia di luar masjid tak pernah benar-benar sunyi. Ia penuh tuntutan, target, persoalan yang saling bertubrukan di kepala. Namun, begitu aku melepas sandal dan melangkah masuk, seolah ada kesepakatan tak tertulis antara diriku dan hidup: semua kerumitan kutinggalkan sementara.

Adzan berkumandang, suaranya menggema lembut, menembus lapisan kegelisahan yang sejak pagi mengendap. Aku mengambil wudhu, membiarkan air mengalir di sela jari, seakan ikut menyeret sisa-sisa beban yang menempel di dada. Satu per satu jamaah datang, wajah-wajah yang tak selalu kukenal, namun terasa akrab dalam tujuan yang sama.

Ketika imam berdiri dan saf dirapatkan, aku menemukan tempatku. Bahu bersentuhan, kaki sejajar. Tak ada jabatan, tak ada latar belakang, tak ada cerita rumit yang perlu dijelaskan. Kami semua sama—hamba yang sedang belajar tunduk.

“Allahu Akbar.”

Takbir itu bukan sekadar pembuka shalat bagiku. Ia adalah pintu pelepasan. Di saat itulah aku menanggalkan ragam persoalan hidup: pekerjaan yang tak kunjung usai, kegelisahan tentang hari esok, juga luka-luka kecil yang sering kupelihara diam-diam. Semuanya luruh, jatuh pelan di lantai masjid, tak ikut terbawa dalam sujud.

Dalam rukuk, aku belajar merendah. Dalam sujud, aku belajar pasrah. Di antara bacaan imam dan diamnya doa, aku merasa sedang dipeluk oleh ketenangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa ringan yang tak kutemukan di tempat lain—rasa bahwa aku tidak sendirian, bahwa bebanku didengar.

Shalat usai, jamaah saling bersalaman. Senyum sederhana berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Aku melangkah keluar masjid dengan langkah yang sama seperti saat masuk, namun dengan hati yang berbeda. Persoalan hidup memang menunggu di luar, tak serta-merta lenyap. Tapi kini aku menghadapinya dengan jiwa yang lebih lapang.

Karena aku tahu, kapan pun hidup terasa terlalu rumit, selalu ada saf yang menenangkan—tempat aku kembali menjadi diriku yang paling jujur di hadapan-Nya.(*)

Leave a comment