Aku sadar, komunikasi online sering dianggap dingin dan tanpa rasa. Namun di forum itu, aku menemukan kehangatan yang tak selalu kutemukan di percakapan langsung.
Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang, Indonesia

Aku berkomunikasi secara online lebih sering melalui Forum Senja. Entah sejak kapan, ruang diskusi itu menjadi tempatku pulang setiap malam, ketika hari mulai redup dan pikiranku membutuhkan teman bicara. Di sana, senja bukan hanya waktu, melainkan suasana—tenang, reflektif, dan jujur.
Forum Senja bukan media sosial yang riuh. Tidak ada pameran kebahagiaan atau perlombaan siapa paling benar. Yang ada hanyalah topik-topik sederhana namun dalam: tentang hidup, kota yang tak pernah benar-benar tidur, rindu yang tak sempat diucapkan, hingga gagasan-gagasan kecil tentang perubahan. Aku sering ikut berdiskusi, menuliskan pandangan, lalu membaca balasan orang-orang yang bahkan tak kukenal wajahnya. Anehnya, aku merasa dekat dengan mereka.
Di platform diskusi itu, kami bertukar ide dalam satu topik, namun dengan banyak sudut pandang. Ada mahasiswa, pekerja malam, penulis amatir, bahkan pensiunan yang setia menyapa dengan kalimat bijak. Setiap komentar seperti potongan cerita, dan aku merangkainya dalam pikiranku sendiri. Dari sana, aku belajar bahwa kebenaran tidak pernah tunggal, dan mendengarkan sering kali lebih penting daripada berbicara.
Suatu malam, topik yang dibahas adalah “Sepi di Tengah Keramaian.” Aku menulis panjang, jujur, tanpa topeng. Tak lama, balasan berdatangan. Bukan menghakimi, tapi memahami. Ada yang menguatkan, ada yang sekadar berkata, “Aku juga.” Kalimat sederhana itu membuat dadaku hangat. Di dunia nyata, mungkin aku hanya orang biasa. Tapi di Forum Senja, suaraku didengar.
Aku sadar, komunikasi online sering dianggap dingin dan tanpa rasa. Namun di forum itu, aku menemukan kehangatan yang tak selalu kutemukan di percakapan langsung. Kami tidak saling mengenal, tetapi saling mengerti. Ide-ide mengalir, perbedaan dirangkul, dan senja selalu menjadi saksi.
Kini, setiap kali matahari tenggelam, aku membuka Forum Senja. Bukan sekadar untuk berdiskusi, tetapi untuk merasa hadir. Di antara kata-kata dan gagasan, aku menemukan diriku sendiri—pelan-pelan, dalam cahaya jingga yang sederhana.(*)
Leave a comment