Di saat seperti ini, aku sadar: mencintaimu adalah tentang menikmati perjalanan, bukan tergesa sampai tujuan.

Oleh: M. Harry Mulya Zein, tinggal di Tangerang

Pantai Selatan Banten- Jawa Barat

Aku menyetir perlahan meninggalkan Tangerang, sementara kamu duduk di sampingku, memandang jalan yang memanjang seperti janji yang belum diucapkan.

Pagi itu tenang. Tidak ada kata yang perlu dipaksakan, karena kehadiranmu sudah cukup mengisi ruang di antara kami.

Kota perlahan menghilang. Sawah terbentang, hijau dan basah oleh embun. Aku sesekali melirikmu—senyummu muncul setiap kali angin masuk dari jendela, memainkan ujung rambutmu.

Di saat seperti ini, aku sadar: mencintaimu adalah tentang menikmati perjalanan, bukan tergesa sampai tujuan.

Saat kami tiba di Malingping, laut menyambut dengan birunya yang jujur. Ombak berlari ke pantai, lalu kembali—seperti rindu yang tak pernah benar-benar pergi.

Kamu menggenggam tanganku sebentar, lalu menunjuk ke cakrawala. Kita diam, membiarkan laut berbicara tentang hal-hal yang tak mampu kita ucapkan.

Menuju Jampang Kulon, jalan mulai berkelok. Hutan dan perbukitan memeluk kami dalam sunyi yang hangat. Di tanjakan, mobil melambat, dan kamu menyandarkan kepala di bahuku.

Aku tersenyum—barangkali beginilah cinta bekerja: saling menunggu, saling menguatkan, tanpa perlu banyak suara.

Senja turun ketika Sukabumi menyambut kami. Langit berwarna keemasan, seperti restu yang jatuh pelan-pelan. Aku tahu, kelak jalan ini akan berakhir. Tapi selama ada aku dan kamu, setiap perjalanan akan selalu menjadi rumah.

Leave a comment